Riauterkini - PEKANBARU - Yayasan Melayu Nusantara (YMN) menggelar acara Silaturahmi dan Bincang-Bincang Melayu di Cafe and Resto Kendil Mas, Jalan Fatmawati Raya, Jakarta Selatan, Sabtu (31/1). Pertemuan mengangkat tema “Merajut Persaudaraan, Memberi Makna” dibuka Ketua Umum YMN Djonieri, dilanjutkan kata sambutan Dewan Pembina YMN Raja Bambang Sutikno.
Silaturahmi dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya pendiri YMN Wirman, Firmansyah, Rusdi Malin dan mantan Ketua YMN Emmy Rahman. Selanjutnya, Ketua 1 Emmalia Natar, Ketua 2 Wan Muhammad Hasyim, Ketua 3 Setri Yasra, Sekretaris Jenderal Muchlis Ishaq dan Bendahara Umum Aslan Wiguna. Selain itu, juga terlihat pengurus YMN, antara lain Siwie Ratu, Dessy Arisanti, Nelvi, Susi, Elfetri dan Henri Mahyudin.
Menurut Ketua Umum YMN Djonieri, acara bertujuan untuk meningkatkan silaturahmi dan persaudaraan, sekaligus menyambut Bulan Suci Ramadhan. Ia menjelaskan silaturahmi dilanjutkan dengan bincang-bincang tentang kemelayuan, menghadirkan pembicara Rektor Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Prof. Dr. Anter Venus, M.A. Comm, sekaligus bedah buku karyanya berjudul Filsafat Komunikasi Orang Melayu.
“Kita ingin mempererat silaturahmi dan menambah pengetahuan kemelayuan. Selain itu, memahami filsafat komunikasi orang Melayu di rantau yang mempengaruhi masyarakat Indonesia,” kata Djonieri.
Dewan Pembina YMN Raja Bambang Sutikno mengatakan acara Silaturahmi dan Bincang-Bincang Melayu ini sangat bagus dan harus dilakukan secara periodik, misalnya sekali dalam tiga bulan, dengan tema serupa yang dikembangkan atau tema berbeda.
Ia mengingatkan perlu dialog dan sinergi tentang kegiatan ke depan dalam mengenalkan budaya Melayu lebih luas. “Dan perlu juga dilanjutkan kegiatan yang sudah dilakukan pengurus di tahun lalu, yaitu kunjungan ke Museum Melayu di Jogja. Kita ingin tahu banyak tentang peninggalan dan sejarah Melayu,” kata Raja.
Sementara itu, Anter Venus memaparkan orang Melayu selalu memperlakukan orang lain seperti saudara dalam berkomunikasi. Pendekatan emosional ini biasanya dilakukan dalam perdagangan. “Jadi, kalau kita ke kedai dan mau membeli sesuatu, biasanya memanggil, kak mau beli sabun. Padahal pedagang itu bukan kakaknya, tapi memanggil begitu,” kata Anter.
Ia mengungkapkan pola komunikasi orang Melayu yang menggunakan pendekatan emosional jarang dilakukan bangsa lain, seperti Eropa dan Arab. Bahkan, kata “hati” yang bersifat emosional sering ditemukan dalam ungkapan atau konotasi Melayu, seperti buah hati, jantung hati, hati nurani, hati kecil dan sagu hati.
Menurut penelitian, ada 434 kata “hati” dalam ungkapan Melayu. “Hal ini menunjukkan orang Melayu memang selalu menggunakan hati saat berkomunikasi. Ini sesuai dengan penggalan motto YMN, yaitu Merajut Persaudaraan,” ujar Anter.
Sedangkan, Ketua Panitia Silaturahmi dan Bincang-Bincang YMN Muchlis Ishaq mengatakan acara ini bersifat santai, namun sangat mengedukasi, tidak hanya sekadar silaturahmi. “Tapi juga ada ilmu yang didapatkan, khususnya tentang filsafat orang Melayu dalam berkomunikasi. Peserta terlihat antusias dalam mendengarkan pemaparan narasumber Anter Venus, yang juga orang Melayu Riau,” kata Muchlis.
Bincang-Bincang Melayu berlangsung selama satu jam, dipandu Ketua 3 YMN yang juga Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Setri Yasra. Acara ditutup dengan makan siang bersama dan hiburan. ***(rls/mok)