Logo RTC
Logo AMSI
Logo HUT RTC Ke 23
 
 
Sedimentasi Ancam Danau PLTA Koto Panjang, WWF dan RSF Dorong Penghijauan

Riauterkini - PEKANBARU - Persoalan sedimentasi atau pendangkalan menjadi salah satu ancaman terhadap keberlanjutan ekosistem Danau Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang, Kabupaten Kampar, Riau. Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak memperkuat upaya konservasi melalui pemulihan vegetasi di kawasan sekitar bendungan.

World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia bersama Rimba Satwa Foundation (RSF) dan PT PLN Nusantara Power (PLN NP) mengambil langkah awal dengan melakukan penanaman pohon di salah satu kawasan yang dinilai membutuhkan pemulihan vegetasi.

Penanaman tersebut tidak sekadar untuk menghijaukan kawasan. Vegetasi di sekitar danau diharapkan mampu membantu menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menekan laju sedimentasi yang masuk ke kawasan perairan PLTA Koto Panjang. Program ini merupakan bagian dari Biodiversity Safeguard, sebuah kolaborasi untuk mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati dalam pengelolaan infrastruktur energi.

Tahap awal program dilakukan melalui kajian biodiversitas terestrial dan akuatik pada 18 grid di kawasan Koto Panjang. Kajian tersebut dilakukan untuk memetakan kondisi ekosistem, mengidentifikasi kawasan bernilai konservasi, sekaligus melihat berbagai tekanan terhadap keanekaragaman hayati.

Hasil kajian kemudian menjadi dasar penyusunan rekomendasi pengelolaan dan Biodiversity Management Plan. Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah kawasan sekitar bendungan yang kondisi vegetasinya mulai kritis dan memiliki potensi terhadap persoalan sedimentasi.

Aren Dipilih untuk Pulihkan Vegetasi Sebagai langkah awal, sejumlah bibit tanaman ditanam, salah satunya pohon aren. Tanaman tersebut dipilih karena memiliki manfaat ekologis sekaligus berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Sistem perakaran tanaman diharapkan dapat membantu memperkuat tanah dan menahan material tanah yang terbawa aliran air menuju kawasan danau. Dengan demikian, penghijauan di kawasan tangkapan air diharapkan ikut berkontribusi dalam mengurangi laju sedimentasi.

Team Leader Sipil Bendungan dan Lingkungan PLN NP Unit Layanan PLTA Koto Panjang, Yauma Adina, mengatakan penanaman tersebut merupakan langkah awal dari rencana aksi biodiversitas yang disusun bersama WWF Indonesia dan RSF. “Kita pilih grid yang bisa kita lestarikan terlebih dahulu di titik ini dan ini bisa menjadi contoh untuk kegiatan selanjutnya,” kata Yauma saat kegiatan penanaman bibit aren di salah satu grid kawasan Danau PLTA Koto Panjang, Sabtu (29/8/26).

Menurutnya, pemilihan tanaman tidak hanya mempertimbangkan aspek ekologis, tetapi juga manfaat bagi masyarakat. PLN NP akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan dinas terkait agar kegiatan penghijauan dapat berjalan beriringan dengan program pemerintah.

Sementara itu, Project Leader RSF, Git Fernando, mengatakan lokasi penanaman ditentukan berdasarkan hasil kajian biodiversitas terestrial dan akuatik. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah tingginya sedimentasi di kawasan PLTA Koto Panjang.

“Sedimentasi termasuk tinggi juga di PLTA Koto Panjang. Jadi kita berharap dengan permulaan penanaman ini, stakeholder lainnya ikut andil untuk menjaga PLTA Koto Panjang,” ujar Git.

Bukan Sekadar Menanam Pohon Git mengatakan, penghijauan menjadi bagian dari upaya lebih besar untuk menjaga keberlangsungan ekosistem Danau PLTA Koto Panjang.

Selain aren, rekomendasi penanaman juga mencakup meranti rawa dan sejumlah jenis pohon lokal lainnya. Sementara untuk ekosistem perairan, terdapat sejumlah jenis tumbuhan yang dapat menjadi tempat berlindung sekaligus sumber makanan bagi ikan.

Menurut Git, kawasan PLTA Koto Panjang masih menyimpan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Berbagai satwa seperti kijang, rusa, landak dan beragam jenis burung, termasuk burung migrasi, masih ditemukan di kawasan tersebut. Tim peneliti bahkan pernah menemukan jejak harimau.

“Kalau satwanya masih banyak dan tumbuhannya masih ada yang dilindungi, berarti habitat itu termasuk bagus juga,” paparnya.

Meski demikian, kondisi 18 grid yang diteliti tidak seluruhnya kritis. Karena itu, penanganan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan titik-titik yang membutuhkan pemulihan vegetasi.

Upaya tersebut juga mendapat dukungan Pemerintah Desa Pulau Gadang dan pemangku adat Kenegerian Pulau Gadang. Kawasan hutan adat yang mencakup wilayah Desa Pulau Gadang dan Desa Koto Masjid tersebut memiliki luas sekitar 23 ribu hektar.

Hutan Adat Jadi Benteng Ekosistem Danau Kepala Desa Pulau Gadang, Syofian, mengatakan sebagian kawasan hutan adat telah tersentuh aktivitas manusia. Untuk mencegah kerusakan semakin meluas, pemerintah desa bersama pemangku adat tengah menyiapkan aturan adat yang nantinya diperkuat melalui Peraturan Desa (Perdes).

Salah satu rencana yang disiapkan adalah pembentukan Satgas Tanah Ulayat untuk menjaga flora, fauna serta ekosistem Danau PLTA Koto Panjang.

“Paling tidak ada dua fungsi besar, pertama menjaga kehidupan flora dan fauna di atas tanah ulayat, kemudian juga menjaga ekosistem Danau PLTA Koto Panjang,” kata Syofian.

Ia menegaskan aktivitas penebangan liar, termasuk tebang pilih, serta perburuan satwa tidak diperbolehkan. Perlindungan tersebut penting untuk mempertahankan populasi satwa yang masih ditemukan di kawasan tersebut, seperti rusa, kijang dan landak.

Di sisi lain, masyarakat tetap didorong memperoleh manfaat ekonomi dari kawasan hutan secara berkelanjutan. Salah satunya melalui pengembangan tanaman aren dengan pola tumpang sari di kawasan yang tidak terlalu lebat.

Penanaman aren telah dilakukan di sejumlah titik sekitar Danau PLTA Koto Panjang. Pemerintah desa berharap WWF Indonesia dan RSF terus memberikan dukungan terhadap penghijauan sekaligus penguatan konservasi.

Syofian menilai perlindungan hutan adat dan ekosistem danau tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah desa, pemangku adat, masyarakat, aparat penegak hukum, PLN serta lembaga pemerhati lingkungan perlu bergerak bersama.

Ke depan, Pemerintah Desa Pulau Gadang juga mendorong pembentukan posko lingkungan di kawasan PLTA Koto Panjang. Posko tersebut diharapkan menjadi pusat pemantauan sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga hutan, satwa dan ekosistem danau. “Banyak masyarakat belum teredukasi tentang akibat kerusakan hutan. Itu penting sekali bagi kita,” pungkasnya. ***(mok)

 
BERITA SEBELUMNYA :
Advertorial
Kamis, 10 September 2026

Capella Honda Riau Apresiasi 26 SMK Mitra Binaan Program AHASS Goes to School

Capella Honda Riau Apresiasi 26 SMK Mitra Binaan Program AHASS Goes to School.

Galeri
Rabu, 19 Agustus 2026

Dari Renungan Suci hingga Resepsi, Potret HUT ke-81 RI di Inhu

Dari Renungan Suci hingga Resepsi, Potret HUT ke-81 RI di Inhu

Advertorial
Minggu, 06 September 2026

Capella Honda Apresiasi Konsumen Loyal di Momen Hari Pelanggan Nasional 2026

Capella Honda Apresiasi Konsumen Loyal di Momen Hari Pelanggan Nasional 2026.

Advertorial
Kamis, 03 September 2026

New Vario Evo Night Ride Vol 2, Lebih dari 170 Bikers Terangi Malam Pekanbaru

New Vario Evo Night Ride Vol 2, Lebih dari 170 Bikers Terangi Malam Pekanbaru.

Galeri
Senin, 17 Agustus 2026

Galeri, Ketua DPRD Inhil Iwan Taruna Bacakan Teks Proklamasi pada Upacara Hari HUT Kemerdekaan ke-81 RI

Galeri, Ketua DPRD Inhil Iwan Taruna Mengikuti dan Baca Teks Proklamasi pada Upacara Hari HUT Kemerdekaan RI ke-81

Advertorial
Senin, 27 Juli 2026

Peringati HAN ke-42, Bupati Inhu Tegaskan Pemenuhan Hak Hak Anak

Peringati HAN ke-42, Bupati Inhu Tegaskan Pemenuhan Hak Hak Anak

Berita Lainnya

Senin, 14 September 2026

Kapolda Riau hingga Praktisi IT Jerman Hadir di Kuliah Umum UHTP, Bahas Tantangan Era Digital


Senin, 14 September 2026

Dinkes Pekanbaru Genjot Edukasi Cegah Dampak Kabut Asap Karhutla


Senin, 14 September 2026

Sudah Padam, Tanaman Kelapa dan Bangkai Ular Gosong Ditemukan di Bekas Areal Perkebunan


Senin, 14 September 2026

Kejar Target DPP, Golkar Inhil Pacu Persiapan Musda September 2026


Senin, 14 September 2026

KKI 2026 Resmi Dibuka, Bengkalis Jadi Panggung Inovasi Maritim Nasional


Senin, 14 September 2026

Cari Aman Gas ke HBD 2026, 70 Bikers HOBIKU Ikuti Kegiatan Safety Riding dan Edukasi Keselamatan


Senin, 14 September 2026

Biji Getah Jadi Pangan, Inovasi Warga Bantan Tembus 10 Besar DPD RI Award 2026


Senin, 14 September 2026

Kabut Asap Mengepung, 400 Warga Terjangkit Ispa


Senin, 14 September 2026

Tiga Kapolsek Polres Bengkalis Dimutasi


Senin, 14 September 2026

Asap Kembali Pekat, Pemko Pekanbaru Potong Jam Sekolah Sampai Pukul 12 WIB


Senin, 14 September 2026

Bedelau Langsung BRK Syariah, Siswanto Bawa Pulang Honda ADV 160


Senin, 14 September 2026

Pastikan Ibadah Minggu Kondusif, Polsek Tanah Putih Patroli Gereja di Simpang Benar


Senin, 14 September 2026

Pengurus IDI Kuansing Dilantik, Pj. Sekda Tekankan RSUD Harus Menjadi Pilihan Pelayanan Kesehatan Utama


Minggu, 13 September 2026

Musda DPD II Golkar Inhil Ditunda, Apa Pasal?


Minggu, 13 September 2026

Polda Riau Tangani 55 Kasus Karhutla, 55 Orang Jadi Tersangka


Minggu, 13 September 2026

PTPN IV PalmCo Inisiasi PSR Awards 2026, Perkuat Ekosistem Sawit Rakyat


Minggu, 13 September 2026

PPN Sumbagut Masif Pantau Dampak Karhutla, Salurkan Bantuan Penanggulangan Asap


Minggu, 13 September 2026

Areal Perkebunan Kelapa di Dusun Sungai Cakah Inhil Terbakar, Tim Gabungan Berjibaku Padamkan Api


Minggu, 13 September 2026

Cegah Gangguan Kamtibmas, Polsek Tanah Putih Gencarkan KRYD


Sabtu, 12 September 2026

MTQ ke X se Perhentian Marpoyan Sukses, Lantunan Ayat Suci Al-Quran Menggema di Masjid Baitul Ikhlas