Riauterkini - PEKANBARU - Persoalan sedimentasi atau pendangkalan menjadi salah satu ancaman terhadap keberlanjutan ekosistem Danau Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang, Kabupaten Kampar, Riau. Kondisi tersebut mendorong berbagai pihak memperkuat upaya konservasi melalui pemulihan vegetasi di kawasan sekitar bendungan.
World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia bersama Rimba Satwa Foundation (RSF) dan PT PLN Nusantara Power (PLN NP) mengambil langkah awal dengan melakukan penanaman pohon di salah satu kawasan yang dinilai membutuhkan pemulihan vegetasi.
Penanaman tersebut tidak sekadar untuk menghijaukan kawasan. Vegetasi di sekitar danau diharapkan mampu membantu menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menekan laju sedimentasi yang masuk ke kawasan perairan PLTA Koto Panjang.
Program ini merupakan bagian dari Biodiversity Safeguard, sebuah kolaborasi untuk mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati dalam pengelolaan infrastruktur energi.
Tahap awal program dilakukan melalui kajian biodiversitas terestrial dan akuatik pada 18 grid di kawasan Koto Panjang. Kajian tersebut dilakukan untuk memetakan kondisi ekosistem, mengidentifikasi kawasan bernilai konservasi, sekaligus melihat berbagai tekanan terhadap keanekaragaman hayati.
Hasil kajian kemudian menjadi dasar penyusunan rekomendasi pengelolaan dan Biodiversity Management Plan. Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah kawasan sekitar bendungan yang kondisi vegetasinya mulai kritis dan memiliki potensi terhadap persoalan sedimentasi.
Aren Dipilih untuk Pulihkan Vegetasi
Sebagai langkah awal, sejumlah bibit tanaman ditanam, salah satunya pohon aren. Tanaman tersebut dipilih karena memiliki manfaat ekologis sekaligus berpotensi memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Sistem perakaran tanaman diharapkan dapat membantu memperkuat tanah dan menahan material tanah yang terbawa aliran air menuju kawasan danau. Dengan demikian, penghijauan di kawasan tangkapan air diharapkan ikut berkontribusi dalam mengurangi laju sedimentasi.
Team Leader Sipil Bendungan dan Lingkungan PLN NP Unit Layanan PLTA Koto Panjang, Yauma Adina, mengatakan penanaman tersebut merupakan langkah awal dari rencana aksi biodiversitas yang disusun bersama WWF Indonesia dan RSF.
“Kita pilih grid yang bisa kita lestarikan terlebih dahulu di titik ini dan ini bisa menjadi contoh untuk kegiatan selanjutnya,” kata Yauma saat kegiatan penanaman bibit aren di salah satu grid kawasan Danau PLTA Koto Panjang, Sabtu (29/8/26).
Menurutnya, pemilihan tanaman tidak hanya mempertimbangkan aspek ekologis, tetapi juga manfaat bagi masyarakat. PLN NP akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan dinas terkait agar kegiatan penghijauan dapat berjalan beriringan dengan program pemerintah.
Sementara itu, Project Leader RSF, Git Fernando, mengatakan lokasi penanaman ditentukan berdasarkan hasil kajian biodiversitas terestrial dan akuatik.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah tingginya sedimentasi di kawasan PLTA Koto Panjang.
“Sedimentasi termasuk tinggi juga di PLTA Koto Panjang. Jadi kita berharap dengan permulaan penanaman ini, stakeholder lainnya ikut andil untuk menjaga PLTA Koto Panjang,” ujar Git.
Bukan Sekadar Menanam Pohon
Git mengatakan, penghijauan menjadi bagian dari upaya lebih besar untuk menjaga keberlangsungan ekosistem Danau PLTA Koto Panjang.
Selain aren, rekomendasi penanaman juga mencakup meranti rawa dan sejumlah jenis pohon lokal lainnya. Sementara untuk ekosistem perairan, terdapat sejumlah jenis tumbuhan yang dapat menjadi tempat berlindung sekaligus sumber makanan bagi ikan.
Menurut Git, kawasan PLTA Koto Panjang masih menyimpan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Berbagai satwa seperti kijang, rusa, landak dan beragam jenis burung, termasuk burung migrasi, masih ditemukan di kawasan tersebut.
Tim peneliti bahkan pernah menemukan jejak harimau.
“Kalau satwanya masih banyak dan tumbuhannya masih ada yang dilindungi, berarti habitat itu termasuk bagus juga,” paparnya.
Meski demikian, kondisi 18 grid yang diteliti tidak seluruhnya kritis. Karena itu, penanganan dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan titik-titik yang membutuhkan pemulihan vegetasi.
Upaya tersebut juga mendapat dukungan Pemerintah Desa Pulau Gadang dan pemangku adat Kenegerian Pulau Gadang. Kawasan hutan adat yang mencakup wilayah Desa Pulau Gadang dan Desa Koto Masjid tersebut memiliki luas sekitar 23 ribu hektar.
Hutan Adat Jadi Benteng Ekosistem Danau
Kepala Desa Pulau Gadang, Syofian, mengatakan sebagian kawasan hutan adat telah tersentuh aktivitas manusia. Untuk mencegah kerusakan semakin meluas, pemerintah desa bersama pemangku adat tengah menyiapkan aturan adat yang nantinya diperkuat melalui Peraturan Desa (Perdes).
Salah satu rencana yang disiapkan adalah pembentukan Satgas Tanah Ulayat untuk menjaga flora, fauna serta ekosistem Danau PLTA Koto Panjang.
“Paling tidak ada dua fungsi besar, pertama menjaga kehidupan flora dan fauna di atas tanah ulayat, kemudian juga menjaga ekosistem Danau PLTA Koto Panjang,” kata Syofian.
Ia menegaskan aktivitas penebangan liar, termasuk tebang pilih, serta perburuan satwa tidak diperbolehkan. Perlindungan tersebut penting untuk mempertahankan populasi satwa yang masih ditemukan di kawasan tersebut, seperti rusa, kijang dan landak.
Di sisi lain, masyarakat tetap didorong memperoleh manfaat ekonomi dari kawasan hutan secara berkelanjutan. Salah satunya melalui pengembangan tanaman aren dengan pola tumpang sari di kawasan yang tidak terlalu lebat.
Penanaman aren telah dilakukan di sejumlah titik sekitar Danau PLTA Koto Panjang. Pemerintah desa berharap WWF Indonesia dan RSF terus memberikan dukungan terhadap penghijauan sekaligus penguatan konservasi.
Syofian menilai perlindungan hutan adat dan ekosistem danau tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah desa, pemangku adat, masyarakat, aparat penegak hukum, PLN serta lembaga pemerhati lingkungan perlu bergerak bersama.
Ke depan, Pemerintah Desa Pulau Gadang juga mendorong pembentukan posko lingkungan di kawasan PLTA Koto Panjang. Posko tersebut diharapkan menjadi pusat pemantauan sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga hutan, satwa dan ekosistem danau.
“Banyak masyarakat belum teredukasi tentang akibat kerusakan hutan. Itu penting sekali bagi kita,” pungkasnya. ***(mok)