Riauterkini - PEKANBARU - Penandatanganan kerja sama dalam rangka Misi Dagang dan Investasi Provinsi Jawa Timur dan Provinsi Riau menjadi momentum penting untuk memperkuat perdagangan antardaerah sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah komoditas unggulan Riau.
BPD HIPMI Riau menilai, potensi besar yang dimiliki Bumi Lancang Kuning harus dioptimalkan melalui hilirisasi agar tidak lagi hanya mengandalkan penjualan bahan mentah.
Ketua Umum BPD HIPMI Riau, Migo Mufartha, mengatakan Riau memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar, mulai dari kelapa sawit, sagu, nanas, kelapa, kopi liberika, hasil perikanan seperti ikan patin, hingga madu sialang.
Menurutnya, komoditas tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
"Selama ini Riau dikenal sebagai daerah penghasil komoditas. Ke depan, kita harus naik kelas dengan menghadirkan produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Jangan hanya menjual bahan mentah, tetapi bagaimana komoditas itu diolah menjadi produk yang memiliki merek, kualitas, dan daya saing," ujar Migo.
Ia mencontohkan, kelapa sawit tidak hanya dipasarkan sebagai bahan baku, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk turunan seperti minyak goreng, oleokimia, hingga produk perawatan tubuh.
Sagu dapat diolah menjadi mi sagu, tepung premium, biskuit, dan aneka pangan modern.
Nanas dapat dikembangkan menjadi keripik, selai, sirup, hingga minuman siap saji, sementara ikan patin memiliki peluang besar menjadi fillet beku, abon, bakso ikan, hingga produk makanan siap masak.
Selain itu, kopi liberika Riau dapat diperkuat melalui pengolahan pascapanen, pengemasan premium, dan pengembangan identitas merek agar mampu menembus pasar kopi spesialti.
Begitu pula madu sialang yang memiliki potensi besar sebagai produk kesehatan dan premium apabila dikemas dengan standar yang baik.
Menurut Migo, kerja sama dengan Jawa Timur harus dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk memperluas jaringan distribusi, transfer pengetahuan, dan membangun kemitraan bisnis. Namun, target akhirnya tidak berhenti di Jawa Timur.
"Kerja sama ini jangan hanya dipandang sebagai peluang menjual produk ke Jawa Timur. Justru ini harus menjadi batu loncatan agar produk unggulan Riau mampu menembus pasar di berbagai provinsi lain, bahkan pasar ekspor. Yang kita bangun adalah daya saing produk Riau," tegasnya.
Ia menilai pengusaha muda memiliki peran strategis dalam mewujudkan tujuan tersebut. Kreativitas dalam inovasi produk, pengemasan, branding, digital marketing, hingga pemanfaatan teknologi menjadi kekuatan yang harus terus didorong.
Meski demikian, Migo menegaskan bahwa pengusaha muda tidak dapat berjalan sendiri. Sinergi dengan para pengusaha senior tetap menjadi kunci agar inovasi dapat dipadukan dengan pengalaman, jejaring bisnis, dan pemahaman pasar yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
"Pengusaha muda membawa semangat inovasi dan keberanian menciptakan terobosan. Sementara para pengusaha senior memiliki pengalaman, jaringan, dan kebijaksanaan dalam membangun usaha. Kolaborasi keduanya akan menjadi modal besar untuk melahirkan produk-produk unggulan Riau yang semakin kompetitif," katanya.
Ia berharap kolaborasi yang terjalin melalui Misi Dagang dan Investasi Riau–Jawa Timur tidak hanya menghasilkan transaksi jangka pendek, tetapi juga memperkuat ekosistem usaha yang mampu mendorong lahirnya industri pengolahan, memperkuat UMKM, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing ekonomi Riau di tingkat nasional maupun global.***(mok)