
Riauterkini-JAKARTA – Dua petani perempuan Indonesia termasuk di antara 100 Pahlawan Perempuan dalam Sistem Pangan-Pertanian dan Pembangunan Pedesaan yang diakui oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Penghargaan ini diberikan dalam acara World Food Forum pada hari Kamis (15/10) di Roma, Italia.
Direktur Jenderal FAO QU Dongyu menyerahkan penghargaan tersebut kepada Istiqamah, petani kopi dari Aceh, dan Rulyantina, petani talas Beneng dari Banten, bersama dengan 98 perempuan lainnya dari seluruh dunia atas kepemimpinan, keahlian, serta inovasi mereka dalam mentransformasi sistem pangan dan pertanian.
Pengakuan ini diberikan kepada para perempuan yang berkecimpung di sepanjang rantai nilai pangan dan pertanian dengan berbagai peran, latar belakang, dan kontribusi. Penghargaan ini sekaligus menandai Tahun Internasional Petani Perempuan 2026 serta Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober.
Melalui kiprahnya, para penerima penghargaan ini telah berhasil memperluas akses pasar, memperkuat ketahanan pangan, melestarikan pengetahuan tradisional dan kearifan lokal, melindungi sumber daya alam, serta menciptakan lapangan kerja dan peluang pelatihan bagi masyarakat pedesaan.
Petani perempuan Indonesia hadirkan solusi inovatif
Di tengah kesenjangan gender dan berbagai tantangan yang ada, petani perempuan di Indonesia telah memimpin berbagai inisiatif lokal.
Istiqamah merupakan sekretaris koperasi kopi di Aceh, Indonesia. Ia mewakili 980 anggota yang secara kolektif mengelola lebih dari 1.200 hektar lahan kopi, sekaligus memperjuangkan kepentingan jutaan petani kopi skala kecil, yang banyak di antaranya adalah perempuan.
Sebagai pendukung kuat produksi kopi berkelanjutan berbasis agroforestri, koperasi ini mempromosikan konservasi serta partisipasi yang adil dan inklusif dalam rantai nilai kopi global, khususnya bagi perempuan.
“Model pendidikan dan pemberdayaan berbasis komunitas yang menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai tenaga pendukung, melainkan sebagai pengambil keputusan dalam rantai pasok kopi sangatlah krusial. Pendekatan ini sangat mungkin untuk direplikasi di wilayah lain dan dapat didorong melalui kebijakan pemerintah daerah guna menciptakan ekosistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan,” ujar Istiqamah.
“Petani perempuan membutuhkan akses yang lebih luas dan setara dalam tiga bidang utama. Pertama, pelatihan dan teknologi yang tepat. Kedua, akses terhadap pembiayaan, pasar yang inklusif, serta perlindungan sosial. Ketiga, pengakuan atas peran formal mereka dalam lembaga pertanian. Selain itu, perempuan sangat membutuhkan dukungan dalam menghadapi perubahan iklim melalui praktik pertanian ramah lingkungan demi menjaga produktivitas dan kesejahteraan kami,” tambahnya.
Sementara itu, Rulyantina merupakan seorang inovator pangan yang telah mengolah talas Beneng yang berasal dari Banten, Indonesia, menjadi berbagai produk bernilai tambah dengan konsep nol limbah (zero-waste) dan memiliki potensi pasar nasional maupun internasional. Inovasinya telah membantu memperluas diversifikasi pangan lokal beserta komersialisasinya, membangun sistem pangan yang tangguh terhadap iklim, serta menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat, khususnya perempuan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Saya ingin membantu perempuan, terutama ibu rumah tangga di lingkungan saya, untuk memperoleh penghasilan sendiri tanpa harus pergi jauh dari rumah untuk bekerja. Dengan mengolah tanaman lokal, seperti talas Beneng, menjadi produk yang bernilai jual, kita dapat menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha di lingkungan kita sendiri. Hal ini memberikan kesempatan bagi perempuan untuk menjadi lebih mandiri secara finansial sekaligus mendukung keluarga mereka,” ujar Rulyantina.
Rulyantina berharap upayanya dapat menginspirasi pemerintah daerah untuk mengoptimalkan potensi komoditas lokal mereka dengan memberikan akses pelatihan, permodalan, teknologi, dan pasar bagi para petani perempuan.
Ia menambahkan, “Pengalaman perempuan di lapangan harus dipertimbangkan saat merancang program agar benar-benar selaras dengan kebutuhan petani. Saya yakin, dengan akses, peluang, dan dukungan yang memadai, perempuan dapat mengembangkan usaha pertanian mereka secara lebih mandiri dan berkelanjutan. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh keluarga mereka, tetapi juga oleh masyarakat luas dan perekonomian daerah.”
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi mengapresiasi pengakuan FAO terhadap dua petani perempuan Indonesia, utamanya setelah melalui proses seleksi yang ketat dengan nominasi dari 131 negara.
“Pencapaian mereka menunjukkan bagaimana inovasi dan penambahan nilai dapat membuka potensi komoditas pertanian lokal. Kementerian Pertanian tetap berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan petani, memperkuat partisipasi perempuan dalam agribisnis, serta memperluas akses terhadap teknologi dan pasar guna memajukan pembangunan ekonomi perdesaan dan mewujudkan kemandirian pangan Indonesia,” ujar Suwandi.
Investasi pada perempuan membawa manfaat untuk semua
Laporan FAO menunjukkan bahwa perempuan mencakup 41% dari tenaga kerja pangan dan pertanian global. Terlepas dari kontribusi mereka, petani perempuan umumnya menggarap lahan yang lebih kecil dibandingkan laki-laki, dengan kesenjangan gender dalam produktivitas lahan mencapai 24 persen. Dalam pekerjaan pertanian dengan sistem upah, perempuan hanya memperoleh 82 sen untuk setiap 1 dollar yang diterima laki-laki.
Laporan FAO berjudul The Unjust Climate juga mengungkapkan bahwa rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan kehilangan pendapatan 8 persen lebih besar akibat tekanan panas dibandingkan rumah tangga yang dikepalai oleh laki-laki. Angka ini setara dengan kerugian sebesar 37 miliar dolar AS per tahun di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
“Kinerja luar biasa Ibu Istiqamah dan Ibu Rulyantina menunjukkan bahwa ketika kita menutup kesenjangan gender dan berinvestasi pada perempuan, semua pihak akan mendapatkan manfaatnya. Hal ini sejalan dengan estimasi FAO yang menunjukkan bahwa menutup kesenjangan gender dapat meningkatkan PDB global sebesar 1 triliun dolar AS dan mengurangi kerawanan pangan bagi 45 juta orang di seluruh dunia,” ujar Rajendra Aryal, Perwakilan FAO di Indonesia dan Timor-Leste.
Sebagai bagian dari upaya untuk menutup kesenjangan gender, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tahun 2026 sebagai Tahun Internasional Petani Perempuan. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mengenai kontribusi petani perempuan serta mendorong kebijakan dan investasi yang lebih kuat guna mendukung peran mereka, sekaligus mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi, seperti terbatasnya akses terhadap kepemilikan lahan, layanan keuangan dan teknis, pendidikan, serta sumber daya lain yang penting bagi produktivitas dan penghidupan mereka.***(rls)
Keterangan foto: Direktur Jenderal FAO memberikan penghargaan FAO 100 Women Heroes kepada petani kopi perempuan Istiqamah dari Aceh, Indonesia, dalam World Food Forum di Roma, Italia, pada Kamis (15/10). Kredit foto: FAO