Riauterkini-PEKANBARU-Forum Komunikasi Pemuka Masyarakat Riau (FKPMR) menyampaikan keprihatinan dan kecaman
yang mendalam atas terjadinya aksi perkelahian antara dua kelompok pendukung anggota DPRD
Provinsi Riau dari Fraksi Golkar pada saat pelaksanaan Rapat Badan Anggaran DPRD Provinsi Riau,
Rabu 16 Juli 2026.
Peristiwa ini, menurut siaran pers FKPMR yang diterima Redaksi, Jumat (17/7/2026), sangat disayangkan, dan ironis karena terjadi di lembaga terhormat
yang merupakan representasi dan amanah langsung dari rakyat Provinsi Riau.
Atas peristiwa memalukan tersebut FKPMR menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Mengecam keras segala bentuk tindakan anarkis, pengerahan massa, dan kekerasan fisik di
lingkungan DPRD Provinsi Riau. DPRD adalah rumah rakyat. Tempat bermusyawarah, berdebat
gagasan, dan memperjuangkan kepentingan publik. Bukan arena perkelahian dan pelampiasan
emosi.
2. Sangat menyesalkan peristiwa ini terjadi di Bumi Lancang Kuning, Negeri Melayu Riau yang
sepanjang sejarah memegang erat falsafah "Adat Bersendi Syara'
Syara' - Syara' Bersendi Kitabullah,
Syara' Mengata Adat Memakai". Patutnya, setiap perbedaan pendapat dan perselisihan wajib
diselesaikan dengan musyawarah, adab, dan akal sehat, bukan dengan otot dan kekerasan.
3. Mendesak :
a. Pimpinan DPRD Provinsi Riau untuk segera mengambil langkah tegas. Melakukan evaluasi
pengamanan internal, menertibkan akses massa pendukung, dan memberikan sanksi kepada
pihak-pihak yang terbukti melanggar tata tertib.
b. Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Riau dan Ketua Umum DPP Partai Golkar untuk bertanggung
jawab melakukan pembinaan internal dan menertibkan kader serta simpatisannya agar tidak
mencoreng nama baik partai dan lembaga.
c. Aparat Penegak Hukum untuk menindak secara hukum jika ditemukan unsur pidana dalam
peristiwa tersebut.
4. Mengingatkan kepada seluruh anggota DPRD, partai politik, dan masyarakat bahwa jabatan
politik adalah amanah.
Sesuai peran FKPMR sebagai bagian tak terpisahkan dari “Tali Berpilin Tiga” FKPMR hadir
sebagai penopang dan penyeimbang, merupakan tugas kami untuk mengingatkan bahwa kekuasaan
harus dijaga dengan adab dan etika. Setiap perbedaan harus diselesaikan dengan dialog dan pikiran
jernih. FKPMR tidak ingin peristiwa ini menjadi preseden buruk dan jangan sampai karena ulah
segelintir orang, marwah 65 Anggota DPRD Riau dan kepercayaan 7 juta rakyat Riau ikut tercoreng.
Riau perlu wakil rakyat bertarung gagasan dengan mengepankan akhlaq di ruang rapat, bukan
bertarung fisik di lorong kantor.
Demikian pernyataan sikap ini kami sampaikan untuk menjadi bahan renungan bersama dalam
menjaga marwah lembaga dan marwah. ***