Riauterkini - TELUKKUANTAN - Rimbo Sakti Saiyo Batuah, jalur baru kebanggaan masyarakat Logas Tanah Darat (LTD) desa Perhentian Luas sah diluncurkan ke Sungai Kuantan atau lebih dikenal dengan sebutan turun mandi di kalangan orang Kuansing.
Dalam tradisi masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi, istilah "Turun Mandi" bagi sebuah Jalur memiliki makna yang sangat sakral dan emosional.
Turun mandi atau turun perdana, masyarakat Perhentian Luas, begitu antusias mengiringi jalur baru dengan prosesi adat menggunakan iring-iringan sisampek atau jambar.
"Ini bukan sekadar meluncurkan perahu ke air, melainkan perayaan lahirnya sebuah "identitas" baru bagi sebuah desa atau kenegerian," ujar Ketua Jalur Kasmuri, Rabu (24/6/2026) pagi.
Menurut Kasmuri, prosesi ini menandai selesainya masa pembuatan jalur yang memakan waktu cukup lama mulai dari pencarian kayu di hutan, pembuatan, hingga tahap penyelesaian (finishing) yang disebut masyarakat Kuansing melayur jalur.
Sebelum turun ke air, masyarakat saat pelayuran jalur melakukan ritual doa. Hal ini melambangkan penghormatan kepada alam (kayu) yang telah dikorbankan untuk menjadi sebuah jalur kebanggaan desa.
Ritual doa selamat dilakukan agar jalur tersebut "bertuah", tangguh dalam perlombaan, dan para atlet (anak pacu) selalu diberikan keselamatan serta kesehatan.
Senada orang tua adat Datuak Momat yang akrab disapa Junui, menyampaikan tahapan prosesi turun mandi tradisi ini melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Prosesi penurunan Jalur ditarik bersama-sama oleh warga dengan iringan musik tradisional seperti gong dan talempong atau pun randai dan serta sorak-sorai masyarakat. "Ini adalah momen puncak yang menunjukkan kekompakan (saiyo)," jelasnya.
Mandi pertama, Jalur "dimandikan" dengan air doa atau tepung tawar sebagai simbol penyucian dan penolak bala sebelum ia berinteraksi sepenuhnya dengan air sungai.
Nilai Sosial, "Saiyo Sakato" turun Mandi Jalur adalah manifestasi nyata dari filosofi "Saiyo Sakato" (seiya sekata). Karena Jalur yang besar dan berat tidak mungkin bisa diturunkan tanpa gotong royong seluruh warga desa.
"Jalur bukan milik pribadi, melainkan milik seluruh warga desa. Keberhasilan jalur saat dipacukan nanti adalah harga diri bagi seluruh masyarakat desa tersebut," sebut Datuak Momat.
Kemudian katanya dilakukan doa bersama di lokasi pembuatan atau di tepian sungai (tempat jalur akan diletakkan ke air). Tokoh adat dan pemuka agama biasanya memimpin doa.
Dan dalam penamaan nama jalur dipilih dengan penuh pertimbangan filosofis, seperti Rimbo Sakti Saiyo Batuah. Nama tersebut diharapkan menjadi doa dan spirit bagi para pendayung.
Dalam budaya Kuansing, jalur yang sudah menjalani prosesi "Turun Mandi" resmi menjadi entitas yang harus dijaga kehormatannya.
Ada pantangan-pantangan adat yang harus dipatuhi oleh para anak pacu maupun masyarakat selama jalur tersebut beroperasi, demi menjaga marwah jalur tersebut di gelanggang pacuan.*** (Jok)