Riauterkini - PEKANBARU - Film sejarah bertajuk "Rengat 1949" karya kreator muda Riau, Fitra Asrirama, mendapat sambutan hangat dari kalangan generasi muda saat diputar di Anjungan Seni Idrus Tintin, kawasan Purna MTQ Pekanbaru, Sabtu (20/6/26).
Film animasi yang diproduksi dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) itu mengangkat peristiwa tragis sekaligus heroik yang terjadi di Rengat pada tahun 1949. Karya tersebut dibuat sebagai upaya mengingatkan generasi muda terhadap sejarah perjuangan rakyat Riau dalam melawan penjajahan Belanda serta menumbuhkan rasa cinta tanah air.
Sebagian besar penonton yang hadir merupakan kader muda dari Partai Nasdem. Hal ini kebetulan Fitra sang kreator film sendiri merupakan kader dari Nasdem Riau.
Ketua Bapilu DPW Nasdem Riau, Dedi Harianto Lubis, menilai film tersebut merupakan karya yang layak mendapat apresiasi karena mampu menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan bangsa melalui pendekatan yang dekat dengan generasi saat ini.
"Ini merupakan sebuah karya yang patut kita apresiasi. Sejarah di republik ini perlu terus diulang, terutama bagi generasi muda, agar mereka mengetahui dan memahami cerita perjuangan yang terjadi sebelum masa kita saat ini," kata Dedi.
Menurutnya, kegiatan nonton bareng dan bedah film menjadi sarana efektif dalam menyampaikan edukasi kebangsaan dan politik kepada masyarakat dengan cara yang lebih menarik.
Dedi mengungkapkan, film "Rengat 1949" tidak dibuat secara instan. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari sang kreator, proses riset dan penggarapan film berlangsung selama kurang lebih satu tahun.
"Partai NasDem sangat mendukung kegiatan ini sebagai bagian dari peran politik dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Kami berharap ke depan Kesbangpol Riau juga dapat terus mendukung kegiatan seperti ini," ujarnya.
Ia menambahkan, film tersebut mengingatkan masyarakat terhadap pengorbanan para pahlawan yang telah berjuang demi kemerdekaan Indonesia.
"Kita diingatkan kembali bagaimana perjuangan para pahlawan yang membuat kita bisa menikmati kehidupan hari ini dengan nyaman," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Analis Kebijakan Kesbangpol Riau, Tengku Hardiyan, turut mengapresiasi penyelenggaraan pemutaran film tersebut. Menurutnya, karya sejarah seperti "Rengat 1949" memiliki nilai edukasi yang kuat di tengah derasnya arus informasi digital.
"Kegiatan ini sangat luar biasa. Film ini mampu menumbuhkan rasa cinta tanah air di kalangan generasi muda, sekaligus mengingatkan pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujarnya.
Sementara itu, kreator film "Rengat 1949", Fitra Asrirama, menjelaskan bahwa ide penggarapan film berangkat dari keprihatinannya melihat masih banyak generasi muda yang belum mengenal peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di Rengat.
"Ini adalah peristiwa besar yang terjadi di Riau, tetapi masih banyak anak muda yang belum mengetahuinya. Itu yang membuat saya tertarik untuk mengangkatnya, agar generasi sekarang memahami bahwa sejarah kelam ini pernah terjadi, khususnya di Rengat," ungkap Fitra saat sesi bedah film.
Untuk menghadirkan kisah yang mendekati fakta sejarah, Fitra melakukan riset mendalam melalui berbagai sumber, mulai dari buku sejarah perjuangan daerah, arsip pemberitaan lama, hingga wawancara dengan veteran dan keluarga korban. Salah satu narasumber yang dilibatkan adalah Panca, anak dari pejuang yang terlibat langsung dalam peristiwa tersebut.
Menurut Fitra, film ini bukan sekadar karya visual, melainkan upaya mendokumentasikan kontribusi besar masyarakat Riau dalam perjuangan bangsa yang telah menelan ribuan korban jiwa.
"Ini adalah bagian dari sejarah yang harus kita ketahui bersama. Masyarakat Riau memiliki kontribusi besar untuk Indonesia, bahkan harus mengorbankan nyawa dalam jumlah yang tidak sedikit," katanya.
Ia mengakui, salah satu tantangan terbesar dalam proses produksi adalah minimnya saksi hidup yang benar-benar menyaksikan langsung peristiwa Rengat 1949. Karena itu, tim produksi lebih banyak mengandalkan data dari keluarga korban, veteran, dan literatur sejarah.
Selain keterbatasan sumber informasi, kendala anggaran juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasinya, tim memanfaatkan teknologi AI dalam proses pembuatan animasi.
"Penggunaan AI sangat membantu dari sisi biaya, tetapi tetap memiliki keterbatasan. Kadang hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan sehingga harus diulang berkali-kali," jelasnya.
Bahkan, untuk menghasilkan satu adegan berdurasi 20 hingga 30 detik, proses pengerjaan bisa memakan waktu hingga lima jam agar hasil visual yang ditampilkan mendekati gambaran peristiwa sebenarnya.
Melalui film "Rengat 1949", Fitra berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang mengenal sejarah daerahnya sendiri dan menghargai perjuangan para pendahulu dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. ***(mok)