Riauterkini - PEKANBARU - PT Kawasan Industri Tanjung Buton (PT KITB) bersama mitra lokal PT Energi Bumi Riau (EBR) dan perusahaan asal Korea Selatan, YEJU Co Ltd resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) pembangunan industri Crude Alga Oil (CAO) di Kabupaten Siak.
Penandatanganan berlangsung di Hotel Arya Duta Pekanbaru, Rabu (11/2/26) tersebut disaksikan oleh Wakil Bupati Siak, Syamsurizal. Proyek ini dirancang untuk membangun pabrik pengolahan mikroalga menjadi Crude Alga Oil (CAO), yang akan digunakan sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau avtur ramah lingkungan. SAF saat ini telah digunakan di sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat dan Eropa sebagai bagian dari transisi menuju energi rendah karbon.
Pimpinan PT Energi Bumi Riau, Iwan Syafruddin, mengungkapkan nilai investasi proyek ini mencapai 9 miliar dolar AS.
“Proyek akan dimulai Maret tahun ini. Total investasi cukup besar yang sudah dikumpulkan pihak Yeju dari Uni Eropa,” ujar Iwan. Ia menegaskan, proyek tersebut bukan sekadar rencana di atas kertas. Pasalnya, pihaknya telah mengantongi pembeli dari Eropa dan Amerika.
“Proyek ini bukan isapan jempol belaka, karena sudah ada buyer di Eropa dan Amerika. Di sana, avtur memang diwajibkan memiliki campuran nabati, dan itu yang akan kita produksi,” jelasnya.
Menurut Iwan, investasi ini akan dikembangkan di Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB), Kabupaten Siak, dengan konsep industri hijau yang terintegrasi.
Dukung Target Net Zero Emission 2060
Pada kesempatan ini, Iwan menyampaikan bahwa PT EBR merupakan perusahaan energi baru terbarukan yang fokus pada pengembangan mikroalga sebagai bahan baku SAF dan produk bioindustri bernilai tambah.
Proyek ini turut melibatkan mitra dari Malaysia, Algae Bumi Energy SDN BHD, yang telah membangun 1.000 tangki alga di Bukit Kayu Hitam Industrial Estate, Kedah, Malaysia. Selain itu, YEJU Co. Ltd. dari Korea Selatan bertindak sebagai investor utama sekaligus penyedia teknologi.
Chairman Yeju Co Ltd Mr Kim Byeong Yeol, disebut memimpin langsung investasi strategis ini dengan membawa dukungan modal dan teknologi tinggi di bidang industri alga dan SAF.
Iwan menegaskan, kehadiran mereka bukan hanya sebagai investor, tetapi sebagai mitra strategis yang ingin mendukung agenda pembangunan nasional, termasuk target Net Zero Emission 2060, pengembangan industri hijau, serta bioekonomi berkelanjutan sebagaimana tertuang dalam RPJMN.
“Dunia sedang bergerak menuju ekonomi rendah karbon. Permintaan Sustainable Aviation Fuel terus meningkat karena tekanan regulasi global. Negara yang mampu membangun rantai pasok berkelanjutan sejak dini akan memiliki posisi strategis di masa depan,” paparnya.
Lanjut Iwan, Indonesia memiliki potensi besar menjadi pemain utama industri alga dunia, termasuk di Asia Tenggara. Dalam konteks tersebut, Kabupaten Siak dan Provinsi Riau dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pengembangan industri hijau masa depan.
“Tujuan kami bukan hanya membangun fasilitas produksi, tetapi membentuk ekosistem industri hijau yang menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya saing daerah, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Ia meyakini proyek ini dapat menjadi awal terbentuknya pilar ekonomi baru bagi Kabupaten Siak yang mengintegrasikan inovasi teknologi, keberlanjutan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat.
Sementara Wakil Bupati Siak, Syamsurizal, menyambut baik penandatanganan MoU tersebut. Ia berharap komitmen yang telah disepakati segera ditindaklanjuti hingga tahap realisasi. Ia menekankan pentingnya komitmen agar proyek besar tersebut benar-benar terealisasi dan memberi dampak luas bagi daerah.
“Harapan kami setelah MoU ini, dapat segera menindaklanjuti apa yang telah disepakati. Dari paparan mereka, akan didatangkan mesin tercanggih di dunia. Kalau ini berjalan maksimal, saya yakin akan banyak investor lain yang mengikuti,” ujar Syamsurizal.
Hal senada dengan itu, Pelaksana Tugas Direktur BUMD Siak, KTB Siak, Junaidi, menyatakan pihaknya siap mendukung penuh realisasi investasi tersebut.
“Kami dari BUMD akan berjuang keras agar MoU ini benar-benar terealisasi dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat Siak,” paparnya.
Junaidi menyebut program ini dikategorikan ramah lingkungan. Limbah hasil pengolahan bahkan dapat dimanfaatkan kembali, antara lain sebagai bahan pakan dan kertas.
“Bahan bakunya dari lumut atau mikroalga yang diolah menjadi minyak. Minyak inilah yang nantinya menjadi campuran avtur. Keistimewaannya, dapat membantu mengurangi polusi udara,” jelasnya.
Dengan nilai investasi yang fantastis dan dukungan teknologi internasional, proyek ini diharapkan menjadi tonggak baru transformasi ekonomi hijau di Kabupaten Siak dan Provinsi Riau. ***(mok)