Home > Usaha >>
Berita Terhangat..
Selasa, 7 April 2020 21:18
Lima Pelaku Illegal Taping Antar Provinsi Diringkus Polda Riau

Selasa, 7 April 2020 21:14
Terbukti Korupsi Dana Desa, Mantan Kades di Kampar Divonis 5 Tahun Penjara

Selasa, 7 April 2020 20:55
Hasil Swab Tujuh PDP Covid-19 Meninggal Belum Keluar

Selasa, 7 April 2020 19:11
KPU Riau Gelar Pleno Jumlah Pemilih

Selasa, 7 April 2020 18:43
Kaji Pembatasan Sosial Berskala Besar, Pos Pemantauan di Perbatasan Jambi, Sumut dan Kiliranjou Sedang Disiapkan

Selasa, 7 April 2020 18:01
Angka ODP di Inhu Menurun

Selasa, 7 April 2020 17:52
99 Persen Pengerjaan, Tol Pekdum V Lakukan Pemasangan Erection Girder Akhir

Selasa, 7 April 2020 16:24
Bawaslu Bengkalis Buka Sekolah Pengawasan Partisipatif Online Pilkada

Selasa, 7 April 2020 16:03
Gubri Serahkan Rapid Test dan APD untuk Tim Medis Tangani Pasien Covid-19

Selasa, 7 April 2020 15:22
Dampak Corona, Ribuan Pelaku UKM dan UMKM di Bengkalis Merugi

 

Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Kamis, 19 Maret 2020 13:34
Target Pertumbuhan Ekonomi Riau 3 Persen Meredup

Rupiah terpuruk, harga minyak turun, masalah Corona menjadi bagian meredupnya target pertumbuhan ekonomi Riau sebesar 3 persen.

Riauterkini-PEKANBARU-Empat hari terakhir dunia dikejutkan dengan pergerakan ekonomi dunia. Ahad (14/3/20) lalu "the FED" menurunkan suku bunga acuan ke titik nol dari sebelumnya 0,25% untuk memberi rangsangan atas ekonominya yang dikuatirkan ambruk. Hari berikutnya dolar terhadap rupiah mencecah angka di atas Rp 15.000 dan kini sudah di atas Rp 16.000. Sebuah fenomena yang merisaukan bagi bangsa ini di saat harus berjuang menghadapi corona.

Rupiah secara rata-rata bulanan telah melemah sekitar 5,95%. Memang rupiah tidak sendirian, di sesi penutupan hari Rabu (18/3/20) hampir semua mata uang loyo, kecuali yen (Peso sementara libur).

Rupiah saat ini berada pada posisi paling teruk selepas kondisi krisis moneter 1998. IHSG juga berada pada posisi melemah di level 4.330,68, dengan rata-rata pelemahan bulanan mencapai 20,58%.

Ada 93 saham mengalami penguatan dan 94 saham tidak berubah, tapi ada 320 saham melemah.

"Kalau kita mengintip indeks sektoral, sektor perdagangan melemah 0,02%, properti melemah 1,36% sedangkan sektor lainnya melemah antara 2,4 (industri dasar) hingga melemah 3,85% (infrastruktur). Memang secara regional kita tidak sendirian mengalami pelemahan, masih ada Nikkei, STI, Hangseng, Shanghai dan Kospi (terparah). Hanya SET yang mengalami penguatan. Di pasar obligasi juga ada penurunan kepemiliki non residenatas SBN. Mengikut data setlemen BI (17/3/20), kepemilikan non residen secara year to date turun 7,43% dan secara moth to date turun 6,22%," terang pengamat ekonomi Universitas Riau, Dahlan Tampubolon Kamis (19/3/20).

Kepemilikan Non Residen atas SBN, tambahnya, berdasarkan data setelmen BI tanggal 17 Maret 2020 turun Rp9,07 T (0,91%) dari Rp992,07 T (35,51%) ke Rp983,01 T (35,16%). Kepemilikan Non Residen turun Rp78,85 T (7,43%) secara year to date (YTD) dan turun Rp65,15 T (6,22%) secara month to date (MTD).

Kondisi tersebut menurut Dahlan masih belum menyentuh masyarakat daerah (terutama Riau) karena data-data yang dipaparkan menyangkut pasar yang ada di Jakarta. Namun kalau masuk ke data komoditas, minyak mentah Brent turun ke level 28,21 dolar per barel (turun 1,81%).

Kalau penurunan ini terus berlangsung ke level titik impas biaya produksi, maka akan ada perusahaan yang bekerja di sektor perminyakan atau ada kaitan dengan industri minyak yang akan merumahkan karyawannya (bukan lockdown) karena harga yang terlalu rendah.

"Optimisme pertumbuhan ekonomi Riau menuju angka 3% akan meredup, seiring pelemahan harga minyak dunia," tegas Dahlan.

Komponen pertumbuhan ekonomi Riau banyak didukung besarnya konsumsi masyarakat, terutama para pemilik lahan perkebunan sawit. Penurunan harga CPO sekitar 22,46% sejak awal tahun tentu bukan berita yang menggembirakan. Walaupun sesi perdagangan kemarin ada kenaikan akibat pasokan dari Malaysia menurun. Penurunan produksi Malaysia akibat isolasi mengurangi dampak merebaknya virus corona. Perkebunan dan pabrik mereka ditutup selama 2 pekan. Pelemahan harga CPO dunia banyak disebabkan menurunnya permintaan Cina akibat covid-19 dan merosotnya impor India dalam 20 bulan terakhir.

Penurunan harga minyak mentah juga mereduksi harga CPO sebagai minyak nabati alternatif yang tidak menarik. Negara ekonomi terbesar, AS, memberikan paket fiskal sebagai antisipasi ekonomi dari covid-19, karena kuatir akan terjadi lonjakan sekitar 20% pengangguran.

"Maka sudah saatnya Indonesia mengantisipasi gejolak ekonomi dengan rangsangan fiskal juga. Walaupun kalau kita lihat perkembangan APBN terkini, realisasi pendapatan turun 0,5% dengan belanja tumbuh 2,8% yang cenderung menaikkan defisit. Defisit Februari ini mencapai 0,37% terhadap PDB, lebih tinggi dibanding defisit Februari 2019 yang hanya 0,34%," terang Dahlan Tampubolon.

Perubahan di dalam penerimaan APBN menurutnya akan memiliki konsekuensi bagi APBD Riau, terutama akan memangkas sumber penerimaan transfer. Apalagi jika harga minyak di bawah 30 dolar per barel berlangsung lama (ICP di APBN 63 dolar).

" Ketergantungan APBD Riau terhadap dana transfer menyebabkan goncangan global mengkoreksi total penerimaan pemerintah daerah. Ekonomi kreatif dan pariwisata yang menjadi andalan baru Riau, akan tertunda perkembangannya dengan adanya pembatasan aktivitas masyarakat untuk meredam penyebaran covid-19. Sektor hotel, restoran dan penyedia akomodasi tentunya sangat terpukul. Belum lagi jasa transportasi dan logistik akan menjerit karena berkurangnya aktivitas traveler dan pergerakan manusia. Merumahkan karyawan akan menjadi pertimbangan bagi pemilik usaha, namun tetap berkewajiban membayar gaji karyawan. Ini menjadi beban yang mesti dihitung pemerintah dan harus ada kompensasinya dalam bentuk rangsangan fiskal," urai Dahlan.

Melihat kondisi jalanan yang sebagian besar mulai sepi, banyak usaha masyarakat yang tutup (terutama perdagangan kecil), banyaknya orang menganggur dan ekonomi yang melemah, perlu antisipasi untuk menjaga kondusiftitas.

"Jika pelemahan ekonomi dan diiringi pengangguran yang tinggi di saat beban ekonomi terus meningkat, bisa saja muncul kriminalitas. Alasan ekonomi dan kondisi yang lengang memungkinkan hal tersebut terjadi. Sebagai sesama warga dan anak bangsa, saatnya kita menjaga momentum isolasi sendiri ini melalui aktivitas pribadi yang bermanfaat. Mudah-mudahan badai segera berlalu. Tapi kapan?," pungkasnya.*(H-we)

Loading...


Berita lainnya..........
- Covid - 19 Merebak, Harga Gula Pasir di Duri, Bengkalis Meroket
- Pedesaan di Riau Alami Inflasi 0,24 Persen
- Dampak Virus Corona, 6 Hotel di Pekanbaru Tutup Sementara
- 6 Paket Proyek DAK Milik Dinas PUPR Dumai Selamat dari Surat Edaran Menkeu
- Dukung Kebijakan #DiRumahAja, Pertamina Luncurkan Layanan Antar Rumah
- Bapenda Riau Bebaskan Denda Pajak Selama Masa Tanggap Darurat Corona
- Harga TBS Naik, Efek Kejut Malaysia Lockdown
- Pemkab Kuansing Bantah Hoax Penutupan Pasar Modern Telukkuantan
- Keroncongantar.com, Starup Asal Riau Wakili Infonesia ke Turki
- Target Pertumbuhan Ekonomi Riau 3 Persen Meredup
- Puluhan UMKM dan Exportir Ikan Ikuti HACCP BI Kpw Riau
- Hoby Menjahit Bikin Sheila Kini Bangga jadi Bagian APR
- BI Kpw Riau Gelar Puncak Pekan QRIS
- Co-op PT CPI 2020 Ditutup
- BPSK Hanya Dua di Riau, Salah Satunya di Kuansing
- ABUJAPI Riau-BPJS Sosialisasikan PP 82/2019 untuk BUJP se-Riau
- 33 Ribu Bibit Ikan Nila Akan Disemai Bupati di Seluruh Desa Kuansing
- Seko Pekanbaru Optimis Koperasi Syariah Bisa Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
- BI Kpw Riau Gelar Pekan QRIS di Sejumlah Lokasi
- Tenaga Kerja AKAD Merajalela di Pekanbaru, SPSI Minta Disnaker Tegas


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com