Home > Hukum >>
Berita Terhangat..
Jum’at, 15 Nopember 2019 14:47
"Nganggur" 5 Tahun, Los Ikan Pasar Terubuk Bengkalis akan Difungsikan 2020

Jum’at, 15 Nopember 2019 13:10
BRK Pangkalankerinci Jelaskan  Salah Input Penyaluran Gaji Guru di Pelalawan

Jum’at, 15 Nopember 2019 10:48
Bupati Kuansing Sampaikan Amanat Menkes Dalam Peringatan HKSN

Jum’at, 15 Nopember 2019 08:34
Turun Dibanding Sebelumnya, Gubri Terima Dipa dari Presiden Jokowi

Jum’at, 15 Nopember 2019 08:11
Pemkab Kuansing Sukses Minta Pusat Bangun Tiga Puskesmas Rawat Inap

Jum’at, 15 Nopember 2019 07:47
Kejuaraan Internasional di Malaysia, Pemanah Pelalawan Rebut 2 Perunggu

Jum’at, 15 Nopember 2019 07:28
Tanam 1000 Pohon, Bupati Mirsini Puji Anak Muda Kuansing

Kamis, 14 Nopember 2019 19:09
Kecelakaan, Siswa SMPN 3 Mandau Tewas di Bonai Darussalam, Rohul

Kamis, 14 Nopember 2019 18:31
Gubri Paparkan Strategi Kemajuan Kebudayaan

Kamis, 14 Nopember 2019 18:21
Disdikpora Rohul Evaluasi Kegiatan DAK 2019, Sampai November Realisasi Diatas 50 Persen

loading...

Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Selasa, 20 Nopember 2007 17:44
Indonesia Negara Ketiga Terbesar Pelepas Emisi di Dunia

Setelah Amerika dan China, Indonesia menjadi negara dalam urutan ketiga pelepas emisi karbon terbesar di dunia.

Riauterkini-PEKANBARU-Proses pengrusakan hutan alam, praktek pembakaran hutan dan lahan membawa Indonesia menjadi Negara dalam urutan ketiga pelepas emisi karbon terbesar di dunia setelah Amerika dan China setelah Amerika dan China. Kebakaran hutan/lahan yang terjadi pada tahun 1997-1998 telah mengakibatkan 10 juta hektar hutan Indonesia mengalami kerusakan dengan jumlah kerugian mencapai 3 milliar dolar Amerika dan telah melepas gas rumah kaca sebesar 0,81-2,57 Gg karbon.

"Gas Rumah Kaca adalah, gas-gas yang mempunyai kemampuan menyerap radiasi gelombang panjang dan memancarkan lagi ke permukaan bumi dalam bentuk energi panas, yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung pada efek rumah kaca, seperti : Karbon Dioksida (CO2), Metan (CH4), Dinitrogen Oksida (N2O), Chlorofluorocarbon (CFC), Hydrofluorocarbon (HFC), Karbonmonoksida (CO), Nitrogen Oksida (NOX), dan gas-gas organic non-metan yang mudah menguap (volatile)," ungkap Deputy Direktur Walhi Riau, M Teguh Surya kepada Riauterkini selasa (20/11).

Katanya, Riau yang memiliki hutan seluas 6,4 juta hektar merupakan wilayah yang juga memiliki kerusakan hutan tertinggi di dunia yakni 5,6 % pertahun. Hanya dalam kurun waktu 17 tahun, Riau telah kehilangan hutan alam seluas 2,8 juta Ha, dimana sebagaian besarnya merupakan kawasan hutan rawa gambut.

Kawasan hutan rawa gambut merupakan ekosistem yang khas dan memiliki potensi yang sangat luar biasa, baik bagi masyarakat disekitar kawasan maupun bagi masyarakat global. Bagi masyarakat tempatan, hutan rawa gambut memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan air (aquifer), sebagai penyangga ekologi, sebagai lahan pertanian, sebagai tempat perkembangbiaknya flora dan fauna, dan sebagai tempat pemenuhan kebutuhan papan.

Terkait dengan hal itu, Teguh menyatakan bahwa Indonesia harus segera menghentikan praktek penebangan di hutan alam (jeda tebang) adalah suatu keharusan, guna menghindari terjadinya kebangkrutan masal, mengurangi intensitas bencana ekologis yang terjadi dan keluar dari keterpurukan ekonomi.

"Seharusnya negara-negara maju wajib memberikan insentif kepada Indonesia karena menyelamatkan hutan. Itu suatu keharusan tanpa Indonesia harus meminta. Hal ini yang seharusnya sudah diatur dalam mekanisme CDM/ REDD," katanya pula.

Amerika Sumbang Emisi 4,9 juta Gg

Kontributor utama gas rumah kaca adalah Negara maju/industri (Annex 1), dimana Amerika memberikan kontribusi sebesar 4.957.022 Gg (36,1%) dan menempati urutan pertama berdasarkan laporan COP ke-3 di Kyoto Jepang.

" Jumlah emisi total dari Negara-negara Annex 1 yang meratifikasi protocol minimal 55% dari total emisi mereka di tahun 1990. Syarat pertama terpenuhi pada tanggal 23 Mei 2002 ketika Islandia menandatangani protocol tersebut, kemudian disusul Rusia yang menandatangani protocol pada 18 November 2004, sekaligus menandai telah terpenuhinya syarat kedua. Dimana jumlah emisi total Negara Annex 1 peratifikasi protocol berjumlah sebesar 61,79%. Setelah kedua syarat terpenuhi maka Protokol Kyoto mulai berkekuatan hukum pada 16 Februari 2005," kata Teguh.

Berdasarkan Protokol Kyoto[6], tambahnya, seluruh negara Annex 1 (Negara maju) wajib menurunkan emisinya sebesar 5,2 % dari tingkat emisi tersebut di tahun 1990. Sementara Negara-negara non Anex 1 (Negara berkembang) tidak mempunyai kewajiban untuk menurunkan emisi, namun bisa ikut berpartisipasi dalam upaya penurunan emisi dengan prinsip common but differentiated responsibility (tanggung jawab bersama dengan porsi yang berbeda).

Protokol Kyoto menurut hemat Teguh adalah memberikan tiga mekanisme penurunan emisi kepada Negara-negara Annex 1, yaitu : Joint Implementation (JI). JI adalah mekanisme yang memungkinkan negara-negara maju unjtuk membangun proyek bersama yang dapat menghasilkan kredit penurunan/ penyerapan emisi gas rumah kaca. Emission Trading (ET), mekanisme yang memungkinkan sebuah Negara maju untuk menjual kredit penurunan emisi gas rumah kaca kepada Negara maju lainnya. Clean Development Mechanism (CDM), mekanisme yang memungkinkan negara non Annex 1 untuk berperan aktif membantu penurunan emisi gas rumah kaca melalui proyek yang diimplementasikan oleh sebuah negara maju.***(H-we)

Loading...


Berita Hukum lainnya..........
- Baru Transaksi di Gubuk, Dua Pengedar Sabu di PT Ekadura Ditangkap Satres Narkoba Polres Rohul
- Gerebek Rumah Pengedar di Desa Bonai, Polisi Rohul Sita 4 Paket Sabu dan 430 Butir Ekstasi
- Prapid Tersangka Sabu di Rupat, Hakim Menangkan Polres Bengkalis
- Tukang Antar Barang Haram, Pria Pengangguran di Bengkalis Ditangkap Polisi
- Diduga Edar Sabu 1 Kg, Pecatan dan Oknum Anggota Polres Bengkalis Diancam Penjara Seumur Hidup
- Terbukti Korupsi Kredit Fiktif BRK Rohul, Mantan Kacab dan Tiga Pegawai Divonis Berbeda
- Dapat "Barang" di Kampung Dalam, Satpam Queen Club Pekanbaru Tertangkap Jualan Ekstasi
- Kampak Tetangga Hingga Tewas, Warga Rohil Ditangkap Polsek Pujud
- Polisi Ungkap Penyelundupan 560 Ponsel Senilai Rp3,362 M di Bengkalis
- Polres dan BC Bengkalis Ringkus Lima Pelaku Pengedar 10 Kg Sabu-sabu
- Jajaran Polres Pelalawan Berhasil Tangkap Pelaku Ranmor
- Kejari Pelalawan Eksekusi Terpidana Pelecehan Seksual
- Diduga Alami Pecah Pembuluh Darah, Buruh di Rohil Ditemukan Tewas
- Dituding Gelapkan Mobil, Oknum Polisi Polda Riau Disidang
- Utang Material Rp2,874 M, JPU Kejari Bengkalis Akan Dalami Tersangka Baru
- Bullying di Sekolah, Siswa SMP di Pekanbaru Alami Patah Hidung Dikeroyok Temannya
- Selama Operasi Zebra Muara Takus 2019‎, Polisi Rohul Tilang 1.664 Pengendara
- Tak Bayar Material Rp2,874 M, Mantan Ketua DPC Gerindra Bengkalis Dipenjarakan
- ‎Dua Bulan Jabatan Kapolres Rohul, 40 Tersangka Narkoba dari 30 Kasus Berhasil Ditangkap
- Polsek Rupat Dipraperadilankan,
Tim Advokasi Polres : Penangkapan Tersangka Pengedar Sabu Sudah Penuhi SOP



Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com