Home > Hukum >>
Berita Terhangat..
Rabu, 22 September 2021 20:53
Sengketa Lahan, PN Bengkalis Tolak Permohonan Buyung Nahar Gugat Presiden

Rabu, 22 September 2021 20:21
Pelaku Pencuri Kabel di RSUD Puri Husada Tembilahan Berhasil Diringkus Polisi

Rabu, 22 September 2021 16:49
Pemprov Silahkan Kejari Kuansing Periksa Kadis ESDM Riau

Rabu, 22 September 2021 16:44
Bupati Pelalawan Harapkan HIPMI Jadi Leader Penggerak Ekonomi Pelalawan

Rabu, 22 September 2021 16:38
Bentrok Eks Karyawan PT Padasa, Ini Penjelasan Polres Kampar

Rabu, 22 September 2021 16:34
Dipimpin Ginda, Paripurna DPRD Pekanbaru Berjalan Lancar

Rabu, 22 September 2021 16:32
Dibuka Camat Mandau, MTQ Air Jamban Ke - 2, Berlangsung Meriah

Rabu, 22 September 2021 16:27
Evakuasi Anak-Anak Ditengah Konflik, Begini Penjelasan TNI AU

Rabu, 22 September 2021 15:08
Terapkan Prokes dengan Ketat, Pelatihan Public Speaking IMM PK Hisyam Berlangsung Sukses

Rabu, 22 September 2021 13:36
Tim Yustisi Covid-19 Inhil SIdang di Tempat 3 Pelanggar Prokes


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Selasa, 20 Nopember 2007 17:44
Indonesia Negara Ketiga Terbesar Pelepas Emisi di Dunia

Setelah Amerika dan China, Indonesia menjadi negara dalam urutan ketiga pelepas emisi karbon terbesar di dunia.

Riauterkini-PEKANBARU-Proses pengrusakan hutan alam, praktek pembakaran hutan dan lahan membawa Indonesia menjadi Negara dalam urutan ketiga pelepas emisi karbon terbesar di dunia setelah Amerika dan China setelah Amerika dan China. Kebakaran hutan/lahan yang terjadi pada tahun 1997-1998 telah mengakibatkan 10 juta hektar hutan Indonesia mengalami kerusakan dengan jumlah kerugian mencapai 3 milliar dolar Amerika dan telah melepas gas rumah kaca sebesar 0,81-2,57 Gg karbon.

"Gas Rumah Kaca adalah, gas-gas yang mempunyai kemampuan menyerap radiasi gelombang panjang dan memancarkan lagi ke permukaan bumi dalam bentuk energi panas, yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung pada efek rumah kaca, seperti : Karbon Dioksida (CO2), Metan (CH4), Dinitrogen Oksida (N2O), Chlorofluorocarbon (CFC), Hydrofluorocarbon (HFC), Karbonmonoksida (CO), Nitrogen Oksida (NOX), dan gas-gas organic non-metan yang mudah menguap (volatile)," ungkap Deputy Direktur Walhi Riau, M Teguh Surya kepada Riauterkini selasa (20/11).

Katanya, Riau yang memiliki hutan seluas 6,4 juta hektar merupakan wilayah yang juga memiliki kerusakan hutan tertinggi di dunia yakni 5,6 % pertahun. Hanya dalam kurun waktu 17 tahun, Riau telah kehilangan hutan alam seluas 2,8 juta Ha, dimana sebagaian besarnya merupakan kawasan hutan rawa gambut.

Kawasan hutan rawa gambut merupakan ekosistem yang khas dan memiliki potensi yang sangat luar biasa, baik bagi masyarakat disekitar kawasan maupun bagi masyarakat global. Bagi masyarakat tempatan, hutan rawa gambut memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan air (aquifer), sebagai penyangga ekologi, sebagai lahan pertanian, sebagai tempat perkembangbiaknya flora dan fauna, dan sebagai tempat pemenuhan kebutuhan papan.

Terkait dengan hal itu, Teguh menyatakan bahwa Indonesia harus segera menghentikan praktek penebangan di hutan alam (jeda tebang) adalah suatu keharusan, guna menghindari terjadinya kebangkrutan masal, mengurangi intensitas bencana ekologis yang terjadi dan keluar dari keterpurukan ekonomi.

"Seharusnya negara-negara maju wajib memberikan insentif kepada Indonesia karena menyelamatkan hutan. Itu suatu keharusan tanpa Indonesia harus meminta. Hal ini yang seharusnya sudah diatur dalam mekanisme CDM/ REDD," katanya pula.

Amerika Sumbang Emisi 4,9 juta Gg

Kontributor utama gas rumah kaca adalah Negara maju/industri (Annex 1), dimana Amerika memberikan kontribusi sebesar 4.957.022 Gg (36,1%) dan menempati urutan pertama berdasarkan laporan COP ke-3 di Kyoto Jepang.

" Jumlah emisi total dari Negara-negara Annex 1 yang meratifikasi protocol minimal 55% dari total emisi mereka di tahun 1990. Syarat pertama terpenuhi pada tanggal 23 Mei 2002 ketika Islandia menandatangani protocol tersebut, kemudian disusul Rusia yang menandatangani protocol pada 18 November 2004, sekaligus menandai telah terpenuhinya syarat kedua. Dimana jumlah emisi total Negara Annex 1 peratifikasi protocol berjumlah sebesar 61,79%. Setelah kedua syarat terpenuhi maka Protokol Kyoto mulai berkekuatan hukum pada 16 Februari 2005," kata Teguh.

Berdasarkan Protokol Kyoto[6], tambahnya, seluruh negara Annex 1 (Negara maju) wajib menurunkan emisinya sebesar 5,2 % dari tingkat emisi tersebut di tahun 1990. Sementara Negara-negara non Anex 1 (Negara berkembang) tidak mempunyai kewajiban untuk menurunkan emisi, namun bisa ikut berpartisipasi dalam upaya penurunan emisi dengan prinsip common but differentiated responsibility (tanggung jawab bersama dengan porsi yang berbeda).

Protokol Kyoto menurut hemat Teguh adalah memberikan tiga mekanisme penurunan emisi kepada Negara-negara Annex 1, yaitu : Joint Implementation (JI). JI adalah mekanisme yang memungkinkan negara-negara maju unjtuk membangun proyek bersama yang dapat menghasilkan kredit penurunan/ penyerapan emisi gas rumah kaca. Emission Trading (ET), mekanisme yang memungkinkan sebuah Negara maju untuk menjual kredit penurunan emisi gas rumah kaca kepada Negara maju lainnya. Clean Development Mechanism (CDM), mekanisme yang memungkinkan negara non Annex 1 untuk berperan aktif membantu penurunan emisi gas rumah kaca melalui proyek yang diimplementasikan oleh sebuah negara maju.***(H-we)

Loading...


Berita Hukum lainnya..........
- Sengketa Lahan, PN Bengkalis Tolak Permohonan Buyung Nahar Gugat Presiden
- Pelaku Pencuri Kabel di RSUD Puri Husada Tembilahan Berhasil Diringkus Polisi
- Bentrok Eks Karyawan PT Padasa, Ini Penjelasan Polres Kampar
- Evakuasi Anak-Anak Ditengah Konflik, Begini Penjelasan TNI AU
- Curi Rp1.2 Miliar Uang Nasabah, Teler BRI Dumai Ditahan Polda Riau
- Gugatan Tanah di GS 8 Ditolak, Tergugat Minta Warga Duri Hormati Putusan Sidang
- Tersebab Utang Mahar, Buruh Toko Bangunan di Duri Tewas Mengenaskan
- Polres Inhil Gelar Apel Pasukan Operasi Patuh Lancang Kuning 2021
- Perampok Tusuk Petani di Bengkalis Diringkus Polisi
- Polres Meranti Gelar Operasi Patuh Lancang Kuning, Ini Sasarannya
- Terkuak, Kadiskes Meranti Tahan 3.000 Rapid Tes Antigen
- Ingin Aman Saat Pembayaran, Atlet PON Riau Diedukasi Tentang Penggunaan QRIS Bank Riau Kepri
- Dalam Sehari, Seorang Kurir, Bandar dan Pengedar Narkoba Digulung Polisi di Bengkalis
- Ditikam Orang tak Dikenal, Buruh Toko Bangunan di Duri Tewas di Tepi Jalan
- Dugaan Penganiayaan Anak Anggota DPRD Pekanbaru, Sejumlah Warga Ditetapkan sebagai Tersangka
- Diduga Komersilkan Bantuan Swab Antigen, Kadiskes Meranti Jadi Tersangka
- Bongkar 7 Jaringan Narkoba, Polda Riau Sita 117 Kilogram Sabu dan 1.000 Butir Ekstasi
- BC Bengkalis dan Polres Gagalkan Penyelundupan Sabu 49 Kg
- Pembunuh Balita 7 Bulan di Rohul Terancam Hukuman 15 Tahun Penjara
- Hendak Transaksi Shabu, Pria di Batin Solapan, Bengkalis Dibekuk Polisi


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com