Home > Hukum >>
Berita Terhangat..
Kamis, 9 Juli 2020 15:39
Agustus-September Kemarau, BBTP Sudah Siapkan Pesawat TMC di Riau

Kamis, 9 Juli 2020 15:19
Tanam Ribuan Bibit Nanas, Polres Bengkalis Luncurkan Program Jaga Kampung

Kamis, 9 Juli 2020 14:02
DPP PPP Keluarkan SK Usung Zukri- Nasar di Pilkada Pelalawan

Kamis, 9 Juli 2020 13:17
Sidang Perdana Kebakaran Lahan PT Adei di PN Pelalawan Ditunda

Kamis, 9 Juli 2020 11:49
Korban Luka-luka, Jambret Diringkus Polres Bengkalis

Kamis, 9 Juli 2020 09:10
Bupati Kuansing Ingin Bentuk 4 OPD untuk Dukung Sejumlah Program

Kamis, 9 Juli 2020 08:31
Tragis! Seorang Ibu Muda di Pelalawan Tewas Bakar Diri

Kamis, 9 Juli 2020 06:55
Sekda Inhil Hadiri Rakor Pengendalian Inflasi Kota Tembilahan Bersama BI

Rabu, 8 Juli 2020 19:34
PT PCR, Bagikan Puluhan Paket Sembako ke Warga Duri

Rabu, 8 Juli 2020 19:24
Pemkab Pelalawan Serahkan BLT untuk Dua Desa


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Selasa, 20 Nopember 2007 17:44
Indonesia Negara Ketiga Terbesar Pelepas Emisi di Dunia

Setelah Amerika dan China, Indonesia menjadi negara dalam urutan ketiga pelepas emisi karbon terbesar di dunia.

Riauterkini-PEKANBARU-Proses pengrusakan hutan alam, praktek pembakaran hutan dan lahan membawa Indonesia menjadi Negara dalam urutan ketiga pelepas emisi karbon terbesar di dunia setelah Amerika dan China setelah Amerika dan China. Kebakaran hutan/lahan yang terjadi pada tahun 1997-1998 telah mengakibatkan 10 juta hektar hutan Indonesia mengalami kerusakan dengan jumlah kerugian mencapai 3 milliar dolar Amerika dan telah melepas gas rumah kaca sebesar 0,81-2,57 Gg karbon.

"Gas Rumah Kaca adalah, gas-gas yang mempunyai kemampuan menyerap radiasi gelombang panjang dan memancarkan lagi ke permukaan bumi dalam bentuk energi panas, yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung pada efek rumah kaca, seperti : Karbon Dioksida (CO2), Metan (CH4), Dinitrogen Oksida (N2O), Chlorofluorocarbon (CFC), Hydrofluorocarbon (HFC), Karbonmonoksida (CO), Nitrogen Oksida (NOX), dan gas-gas organic non-metan yang mudah menguap (volatile)," ungkap Deputy Direktur Walhi Riau, M Teguh Surya kepada Riauterkini selasa (20/11).

Katanya, Riau yang memiliki hutan seluas 6,4 juta hektar merupakan wilayah yang juga memiliki kerusakan hutan tertinggi di dunia yakni 5,6 % pertahun. Hanya dalam kurun waktu 17 tahun, Riau telah kehilangan hutan alam seluas 2,8 juta Ha, dimana sebagaian besarnya merupakan kawasan hutan rawa gambut.

Kawasan hutan rawa gambut merupakan ekosistem yang khas dan memiliki potensi yang sangat luar biasa, baik bagi masyarakat disekitar kawasan maupun bagi masyarakat global. Bagi masyarakat tempatan, hutan rawa gambut memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan air (aquifer), sebagai penyangga ekologi, sebagai lahan pertanian, sebagai tempat perkembangbiaknya flora dan fauna, dan sebagai tempat pemenuhan kebutuhan papan.

Terkait dengan hal itu, Teguh menyatakan bahwa Indonesia harus segera menghentikan praktek penebangan di hutan alam (jeda tebang) adalah suatu keharusan, guna menghindari terjadinya kebangkrutan masal, mengurangi intensitas bencana ekologis yang terjadi dan keluar dari keterpurukan ekonomi.

"Seharusnya negara-negara maju wajib memberikan insentif kepada Indonesia karena menyelamatkan hutan. Itu suatu keharusan tanpa Indonesia harus meminta. Hal ini yang seharusnya sudah diatur dalam mekanisme CDM/ REDD," katanya pula.

Amerika Sumbang Emisi 4,9 juta Gg

Kontributor utama gas rumah kaca adalah Negara maju/industri (Annex 1), dimana Amerika memberikan kontribusi sebesar 4.957.022 Gg (36,1%) dan menempati urutan pertama berdasarkan laporan COP ke-3 di Kyoto Jepang.

" Jumlah emisi total dari Negara-negara Annex 1 yang meratifikasi protocol minimal 55% dari total emisi mereka di tahun 1990. Syarat pertama terpenuhi pada tanggal 23 Mei 2002 ketika Islandia menandatangani protocol tersebut, kemudian disusul Rusia yang menandatangani protocol pada 18 November 2004, sekaligus menandai telah terpenuhinya syarat kedua. Dimana jumlah emisi total Negara Annex 1 peratifikasi protocol berjumlah sebesar 61,79%. Setelah kedua syarat terpenuhi maka Protokol Kyoto mulai berkekuatan hukum pada 16 Februari 2005," kata Teguh.

Berdasarkan Protokol Kyoto[6], tambahnya, seluruh negara Annex 1 (Negara maju) wajib menurunkan emisinya sebesar 5,2 % dari tingkat emisi tersebut di tahun 1990. Sementara Negara-negara non Anex 1 (Negara berkembang) tidak mempunyai kewajiban untuk menurunkan emisi, namun bisa ikut berpartisipasi dalam upaya penurunan emisi dengan prinsip common but differentiated responsibility (tanggung jawab bersama dengan porsi yang berbeda).

Protokol Kyoto menurut hemat Teguh adalah memberikan tiga mekanisme penurunan emisi kepada Negara-negara Annex 1, yaitu : Joint Implementation (JI). JI adalah mekanisme yang memungkinkan negara-negara maju unjtuk membangun proyek bersama yang dapat menghasilkan kredit penurunan/ penyerapan emisi gas rumah kaca. Emission Trading (ET), mekanisme yang memungkinkan sebuah Negara maju untuk menjual kredit penurunan emisi gas rumah kaca kepada Negara maju lainnya. Clean Development Mechanism (CDM), mekanisme yang memungkinkan negara non Annex 1 untuk berperan aktif membantu penurunan emisi gas rumah kaca melalui proyek yang diimplementasikan oleh sebuah negara maju.***(H-we)

Loading...


Berita Hukum lainnya..........
- Sidang Perdana Kebakaran Lahan PT Adei di PN Pelalawan Ditunda
- Korban Luka-luka, Jambret Diringkus Polres Bengkalis
- Tragis! Seorang Ibu Muda di Pelalawan Tewas Bakar Diri
- Tiga Pejabat Sekwan Rohil Terjerat Korupsi Dana Publikasi Media Diadili
- Dipindah KPK ke Pekanbaru, Bupati Bengkalis Nonaktif Tiba dengan Tangan Diborgol
- Lahan Terbakar, Polda Riau Tetapkan PT DSI Sebagai Tersangka
- Praktisi Hukum Nilai Janggal Jika Kebakaran Lahan di PT AA tak Diproses Hukum
- Ditpolair Polda Riau Gagalkan Penyelundupan 1.062 Dus Rokok Ilega
- Jaksa Tuntut Tinggi Tiga Terdakwa Kredit Macet PT PER Pekanbaru
- BC Bengkalis Musnahkan 1.115 Karung Bawang Merah Asal Malaysia
- Lagi, Sekdaprov Riau Diperiksa Kejati Terkait Dugaan Korupsi di Siak
- Polda Dalami Surat Panggilan KPK Palsu untuk Anggota DPRD Riau
- Terekam CCTV, Spesialis Maling di Masjid Diringkus Polres Bengkalis
- BNNP Riau Bongkar Jaringan Narkoba Antar Provinsi
- Diduga Bawa Puluhan Kg Sabu, Beredar Video Penangkapan Bandar Narkoba di Dumai
- Sekdaprov Riau Diperiksa Jaksa Terkait Dugaab Korupsi Pemkab Siak
- Menjadi Kurir Sabu, Seorang Warga Sorek Dicokok Polisi
- Edar Ganja, Buruh Asal Dumai Diringkus Polres Bengkalis
- Videonya Viral di Medsos, Polresta Pekanbaru Amankan Pelaku Penganiayaan Driver Ojol
- SIM Internasional Kini Dapat Diurus Secara Online


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com