Untitled Document
Jumat, 26 Safar 1436 H |
Home > Usaha >>

Berita Terhangat..
Jum’at, 19 Desember 2014 09:01
Tahanan Curanmor Polsek Sukajadi Pekanbaru Kabur

Jum’at, 19 Desember 2014 06:44
Menyongsong Era Gas Bumi

Jum’at, 19 Desember 2014 06:17
Bupati Kampar Mengajak Kepsek Kembalikan Kejayaan Guru

Jum’at, 19 Desember 2014 06:10
PWI Kampar Periode 2014-2017 Resmi Dilantik

Jum’at, 19 Desember 2014 06:05


Kamis, 18 Desember 2014 20:16
Hut ke-6 Meranti,
Ribuan Warga Padati Malam Kenduri Sekampung


Kamis, 18 Desember 2014 20:09
Warga Batu Panjang, Rupat Segera Nikmati Air Bersih PDAM



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Ahad, 7 April 2013 08:51
RAPP Melawan Persaingan tak Sehat dengan Terus Berinovasi

Tidak mudah bertahan di bisnis kertas dunia. Banyak persaingan tak sehat, namun RAPP bertahan dengan terus berinovasi.

Riauterkini-JAKARTA- Indonesia semestinya bangga menjadi salah satu negara raksasa industri kertas dunia. Dua perusahaan menjadi produser pulp dan kertas yang tergolong dominan di pasar internasional. PT Riau Pupl And Paper (RAPP) dan PT Indah Kiat Pulp And Paper (IKPP). Namun faktanya, tidak mudah mencapai kondisi ,mapan di peta pasar kertas dunia.

Hal itulah yang dipaparkan Kusnan Rahmin, Direktur Utama PT RAPP kepada sejumlah wartawan, termasuk riauterkincom di kantor APRIL, induk corporrate PT RAPP di Jakarta, Jumat (5/4/13).

Kusnan memulai pemaparan dengan memberi daftar negara-negara di dunia penghasil pulp dan kertas. Produser terbesar masih dikuasi Amerika. Sementara Indonesia sampai saat ini hanya menempati urutan 9 dunia dengan produksi lebih dari 7 juta ton kertas setiap tahunnya. RAPP hanya 2,3 ton pertahunnya.

Meskipun bukan produser kertas terbesar di dunia, namun RAPP menjadi industri yang sangat diwaspadai para kompetitor. Banyak faktor yang menyebabkan RAPP dikhwatirkan mendominasi pasar kertas di dunia. Terutama faktor iklim tropis yang membuat usia panen hutan tanaman industri (HTI) jauh lebih pendek di banding negara lain.

"Kalau di Eropa, HTI baru panen 30 tahun, sementara kita cukup 4 sampai 5 tahun sudah dipanen untuk dijadikan bahan baku," papar Kusnan.

Fakta inilah yang membuat RAPP merasa selalu menjadi sasaran tembak kompetitor dari berbagai negara, terutama dari Eropa. Dengan menggunakan kampanye hitam beberapa Non Goverment Organitation (NGO) industri kertas yang berbasis di Kabupaten Pelalawan tersebut sering disudutkan dengan beragam isu lingkungan.

"LSM-LSM itu mendatangi sejumlah bayer (pembeli.red) kami di Eropa. Misalnya, kami disebut merupakan perusahaan yang paling luas melakukan de forestry atau pembabat hutan," tuturnya.

Setiap kali RAPP mampu menepis tudingan-tudingan yang dihembuskan kompetitor melalui GNO, selalu saja muncul isu baru yang menyudutkan. Termasuk terkait aturan dan sertifikasi yang terus bermunculan. RAPP selalu diwajibkan memenuhi beragam sertifikat jika produknya mau dibeli.

Selain harus menghadapi persaingan tidak sehat, RAPP juga dihadapkan pada fakta inkonsistensi pemerintah dalam melaksanakna keputusan. Sebagai contoh, pada izin awal berinvestasi APRIL mendapatkan konsesi HTI seluas 350 ribu hektar. Dengan luas kawasan konsesi tersebut, maka RAPP membangun industri dengan kapasitas produksi hingga 2,7 juta ton pertahun, baik pulp maupun kertas.

Namun sampai saat ini masih banyak kawasan konsesi RAPP yang belum bisa dikelolo karena berbagai masalah. Seperti karena sudah dikuasi pihak lain atau faktor lain yang belum tuntas solusinya. Saat ini baru sekitar 210 ribu hektar HTI yang sudah bisa direalisasikan RAPP.

"Seperti kawasan konsesi Pulau Padang. Sudah sempat kami kelola, namun sekarang dihentikan dan belum jelas kapan boleh kami kembali mengelolanya," keluh Kusnan.

Bagi RAPP, situasi tersebut di atas, baik persaingan tak sehat maupun ketidak-pastian regulasi pemerintah adalah situasi yang tidak boleh sekedar diratapi, tetapi harus dicarikan solusi agar rencana bisnis terus berjalan.

"Kami menyadari seperti itulah kondisi yang harus kami hadapi. Kami harus terus berjalan dengan rencana bisnis kami, karena itu kami harus terus berinovasi untuk menghadapi setiap tantangan yang muncul," papar Kusnan lagi.

Inovasi bagi RAPP adalah sesuatu keharusan. Baik untuk teknologi maupun kebijakan di lapangan. Seperti untuk menyiasati kekurangan bahan baku produksi, RAPP menerapkan kebijakan pembelian bahan baku dari perusahaan resmi.

"Tapi belakangan kebijakan kami membeli kayu dari perusahaan legal juga dipermasalahkan," keluhnya lagi.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan pemaparan mengenai kebijakan idustri berkelanjutan yang disampaikan Dian Novarina selalu Sustanablity Head RAPP.

Dian menyebutkan dari awal proses pembukaan hutan untuk HTI. Prosesnya dilakukan tanpa sistem pembakaran. Kemudian juga dilakukan pelepasan kawasan konsesi untuk sejumlah kepentingan, seperti untuk masyarakat dan kawasan konservasi, seperti untuk penambahan luas Taman Nasional Tesso Nilo seluas 48 ribu hektar.

Demikian juga untuk perlindungan kawasan gambut. Dian menegaskan kalau perusahaannya sangat berkomitmen melakukannya. RAPP menerapkan sistem tata air atau eko hydro di setiap kawasan gambut yang terdapat di lahan konsesi, seperti di Pulau Padang, Kepulauan Meranti.

Sistem tata air yang diterapkan RAPP merupakan rekomendasi dari para pakar di bidangnya dan telah teruji mampu menjaga kelembaban kawasan gambut.

"Dengan eko hydro hutan akasia bisa tumbuh tanpa harus merusak kawasan gambut," tegas Dian.***(mad)




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 
Adnan
Kalau ingin sukses dan berhasil minta saja ke STR nanti budak budak Riau kan dikasih gawe semua ha...ha....Dan dijamin Riau menjadi maju dan gemah ripah loh jinawi

syahrul
Diakui atau tidak nyatanya Prov Riau salah satu 3 prov pengekspor terbesar di Tanah Air setelah Kaltim dan Jabar Sesuai data BPS. Perlu diketahui nilai Bumi Lancang Kuning mengekspor 14,3 persen tuk th 2012. Perlu diketahui nilai tsb disumbang dari h

syahrul
Diakui atau tidak nyatanya Prov Riau salah satu 3 prov pengekspor terbesar di Tanah Air setelah Kaltim dan Jabar Sesuai data BPS. Perlu diketahui nilai Bumi Lancang Kuning mengekspor 14,3 persen tuk th 2012. Perlu diketahui nilai tsb disumbang dari h

Anak Riau Asli
yang tidak bangga pasti gak dapat cipratan dari RAPP..yang bangga, yang dapat cipratan hakhakhak

BUDAK PETALANGAN
Indonesia shrsnya bkn bangga memiliki dua perusahaan kertas raksasa, tp hrs bersedih... Karena ulah dua perusahaan ini PT. RAPP dan PT. INDAH KIAT masyarakatnya yg berada dilingkungan HTI perusahaan ini menderita, menderita ekonomi, menderita mental,

fifah 2000
Tak ada kata lain selain" segeralah tutup dua perusahaan kertas ini...tak ada yg bisa di banggakan...mari anak bumi lancang kuning dari sekarang rapatkan barisan untuk menutup pabrik yg bikin banyak mudarat ini...

Rslii dkk
Apapun alasan Rapp atau Indah Kiat..semuanya untuk keuntungan bisnis..ternyata .anda yang memanikmati keuntungan tak pernah tersentuh oleh aparat hukum..sudah banyak pejabat di penjara karena kepentingan nasional yg anda katakan. pejabat tetap menja


Berita lainnya..........
- Menyongsong Era Gas Bumi
- BBM Bersubsidi Tepat Sasaran,
Pertamina Laksanakan Kartu Survei

- 2015, Pertumbuhan Ekonomi Riau Diprdiksi Melambat
- Warga Batu Panjang, Rupat Segera Nikmati Air Bersih PDAM
- 12 Koperasi Perkebunan di Rohul Masih Bermasalah
- Disewa Perhari, Pemko Optimis Bus TMP Terus Beroperasi
- Usaha Kuliner menjadi Sekala Prioritas di Meranti
- Pengusaha Australia Minati Kembangkan Rumah Potong Hewan di Pekanbaru


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 54.163.89.8
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com