Home > Usaha >>
Berita Terhangat..
Ahad, 17 Desember 2017 18:04
Hindari Macet, Andi Jemput SK DPP PDIP Naik Ojek

Ahad, 17 Desember 2017 18:01
Puluhan Tim Pemadam Kebakaran RAPP Tambah Kompetensi di Situgal

Ahad, 17 Desember 2017 16:51
Kerancuan Regulasi Gambut Ancaman Serius Iklim Investasi Indonesia

Ahad, 17 Desember 2017 16:34
Andi-Suyatno Dapat Dukungan Resmi PDIP di Pilgubri 2018, Yopi Langsung 'Merapat'

Ahad, 17 Desember 2017 15:34
Gelorakan Ajaran Bung Karno, Repdem Rekrut Kader Muda di Siak

Ahad, 17 Desember 2017 15:28
4 Sepeda Motor Jadi Doorprize Gerak Jalan HUT ke-9 Kabupaten Kepulauan Meranti

Ahad, 17 Desember 2017 15:15
Kecam Pernyataan Trump, Ratusan Muslim di Duri Gelar Aksi Damai

Ahad, 17 Desember 2017 14:48
Resmi Diusung PDIP, Suyatno Ajak Kader Partainya dan Masyarakat Menangkan Pilgubri 2018

Ahad, 17 Desember 2017 14:24
Ditutup Wagubri, Pekanbaru Juara Umum MTQ ke-36 Riau di Dumai

Ahad, 17 Desember 2017 14:03
Dewan Bengkalis Tekankan RT dan Dinsos Tak Persulit Masyarakat Kurang Mampu

 
loading...



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.

Ahad, 7 April 2013 08:51
RAPP Melawan Persaingan tak Sehat dengan Terus Berinovasi

Tidak mudah bertahan di bisnis kertas dunia. Banyak persaingan tak sehat, namun RAPP bertahan dengan terus berinovasi.

Riauterkini-JAKARTA- Indonesia semestinya bangga menjadi salah satu negara raksasa industri kertas dunia. Dua perusahaan menjadi produser pulp dan kertas yang tergolong dominan di pasar internasional. PT Riau Pupl And Paper (RAPP) dan PT Indah Kiat Pulp And Paper (IKPP). Namun faktanya, tidak mudah mencapai kondisi ,mapan di peta pasar kertas dunia.

Hal itulah yang dipaparkan Kusnan Rahmin, Direktur Utama PT RAPP kepada sejumlah wartawan, termasuk riauterkincom di kantor APRIL, induk corporrate PT RAPP di Jakarta, Jumat (5/4/13).

Kusnan memulai pemaparan dengan memberi daftar negara-negara di dunia penghasil pulp dan kertas. Produser terbesar masih dikuasi Amerika. Sementara Indonesia sampai saat ini hanya menempati urutan 9 dunia dengan produksi lebih dari 7 juta ton kertas setiap tahunnya. RAPP hanya 2,3 ton pertahunnya.

Meskipun bukan produser kertas terbesar di dunia, namun RAPP menjadi industri yang sangat diwaspadai para kompetitor. Banyak faktor yang menyebabkan RAPP dikhwatirkan mendominasi pasar kertas di dunia. Terutama faktor iklim tropis yang membuat usia panen hutan tanaman industri (HTI) jauh lebih pendek di banding negara lain.

"Kalau di Eropa, HTI baru panen 30 tahun, sementara kita cukup 4 sampai 5 tahun sudah dipanen untuk dijadikan bahan baku," papar Kusnan.

Fakta inilah yang membuat RAPP merasa selalu menjadi sasaran tembak kompetitor dari berbagai negara, terutama dari Eropa. Dengan menggunakan kampanye hitam beberapa Non Goverment Organitation (NGO) industri kertas yang berbasis di Kabupaten Pelalawan tersebut sering disudutkan dengan beragam isu lingkungan.

"LSM-LSM itu mendatangi sejumlah bayer (pembeli.red) kami di Eropa. Misalnya, kami disebut merupakan perusahaan yang paling luas melakukan de forestry atau pembabat hutan," tuturnya.

Setiap kali RAPP mampu menepis tudingan-tudingan yang dihembuskan kompetitor melalui GNO, selalu saja muncul isu baru yang menyudutkan. Termasuk terkait aturan dan sertifikasi yang terus bermunculan. RAPP selalu diwajibkan memenuhi beragam sertifikat jika produknya mau dibeli.

Selain harus menghadapi persaingan tidak sehat, RAPP juga dihadapkan pada fakta inkonsistensi pemerintah dalam melaksanakna keputusan. Sebagai contoh, pada izin awal berinvestasi APRIL mendapatkan konsesi HTI seluas 350 ribu hektar. Dengan luas kawasan konsesi tersebut, maka RAPP membangun industri dengan kapasitas produksi hingga 2,7 juta ton pertahun, baik pulp maupun kertas.

Namun sampai saat ini masih banyak kawasan konsesi RAPP yang belum bisa dikelolo karena berbagai masalah. Seperti karena sudah dikuasi pihak lain atau faktor lain yang belum tuntas solusinya. Saat ini baru sekitar 210 ribu hektar HTI yang sudah bisa direalisasikan RAPP.

"Seperti kawasan konsesi Pulau Padang. Sudah sempat kami kelola, namun sekarang dihentikan dan belum jelas kapan boleh kami kembali mengelolanya," keluh Kusnan.

Bagi RAPP, situasi tersebut di atas, baik persaingan tak sehat maupun ketidak-pastian regulasi pemerintah adalah situasi yang tidak boleh sekedar diratapi, tetapi harus dicarikan solusi agar rencana bisnis terus berjalan.

"Kami menyadari seperti itulah kondisi yang harus kami hadapi. Kami harus terus berjalan dengan rencana bisnis kami, karena itu kami harus terus berinovasi untuk menghadapi setiap tantangan yang muncul," papar Kusnan lagi.

Inovasi bagi RAPP adalah sesuatu keharusan. Baik untuk teknologi maupun kebijakan di lapangan. Seperti untuk menyiasati kekurangan bahan baku produksi, RAPP menerapkan kebijakan pembelian bahan baku dari perusahaan resmi.

"Tapi belakangan kebijakan kami membeli kayu dari perusahaan legal juga dipermasalahkan," keluhnya lagi.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan pemaparan mengenai kebijakan idustri berkelanjutan yang disampaikan Dian Novarina selalu Sustanablity Head RAPP.

Dian menyebutkan dari awal proses pembukaan hutan untuk HTI. Prosesnya dilakukan tanpa sistem pembakaran. Kemudian juga dilakukan pelepasan kawasan konsesi untuk sejumlah kepentingan, seperti untuk masyarakat dan kawasan konservasi, seperti untuk penambahan luas Taman Nasional Tesso Nilo seluas 48 ribu hektar.

Demikian juga untuk perlindungan kawasan gambut. Dian menegaskan kalau perusahaannya sangat berkomitmen melakukannya. RAPP menerapkan sistem tata air atau eko hydro di setiap kawasan gambut yang terdapat di lahan konsesi, seperti di Pulau Padang, Kepulauan Meranti.

Sistem tata air yang diterapkan RAPP merupakan rekomendasi dari para pakar di bidangnya dan telah teruji mampu menjaga kelembaban kawasan gambut.

"Dengan eko hydro hutan akasia bisa tumbuh tanpa harus merusak kawasan gambut," tegas Dian.***(mad)



Berita lainnya..........
- Ratusan Triliun Disumbangkan ke Negara, Apkasindo Dorong Riau Rebut DBH CPO
- 2017 Terjadi 436 Lakalantas Kendaraan Barang,
Hino Dutro Gelar Safety Driving Competition

- Demi Kepastian Hukum,
RAPP Ajukan Permohonan Pembatalan SK 5322 ke PTUN

- 2018, BI Sebut Perekonomian Riau Membaik
- RSI Ibnu Sina Akan Gelar Khitanan Massal
- Pemdes Petapahan Gandeng PT TYE Kelola TKD Jadi Kebun Sawit
- Dituding Perlakukan Karyawan Tak Manusiawi,
PT LIH Selalu Terapkan Tata Kelola Karyawan dan Lingkungan Secara Baik

- Operasi Pasar LPG 3 Kilogram Perdana di Duri Diserbu Warga
- PT LIH Pelalawan Dianggap Pekejakan Karyawannya Secara Tidak Manusiawi
- Tingkatkan Peran sebagai APEX BPR, Bank Riau Kepri Gelar Workshop Sinergitas
- Tingkat Kesadaran Wajib Pajak, Pemko Pekanbaru Gelar Edukasi Kepatuhan
- 2 Pekan Jelang Natal, Harga Barang Kebutuhan Merangkak Naik
- Walikota Pekanbaru Optimis Pambangunan Pasar Induk Selesai Tepat Waktu
- Tingkatkan PAD, Bapenda Pekanbaru Revisi Empat Perda Pajak
- Bupati Bengkalis Hadiri Grand Opening Surya Daya Residence
- Revitalisasi Pasar Higienis Selesai, Siap-siap PKL Jalan Teratai Segera Digusur
- DPMPTS Dumai Sosialisasikan SOP Perizinan dan Non Perizinan Tahun 2017
- Telat Gelar RAT, Koperasi di Bengkalis Diminta Siap-siap Terima Sanksi
- Sembako di Bengkalis Terpantau Aman Hingga Tiga Bulan
- Walikota Pekanbaru Janji, Tahun Depan DPM-PTS Jadi Mall Pelayanan Publik


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda : 54.90.159.192
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com