Home > Usaha >>
Berita Terhangat..
Sabtu, 21 Oktober 2017 22:47
Ratusan Guru di Bengkalis Siap-siap Dimutasi

Sabtu, 21 Oktober 2017 22:09
Leher Terlilit Lakban,
Mayat Pria di Parkiran Bandara SSK II Dipastikan Dibunuh


Sabtu, 21 Oktober 2017 21:36
30 Personel Polres Rohil Padamkan Karlahut di Rimba Melintang

Sabtu, 21 Oktober 2017 21:32
Resmi Ditutup,
Kafillah Kuantan Tengah Raih Juara Umum MTQ ke-16 Kuansing


Sabtu, 21 Oktober 2017 21:29
213 Calon Anggota PPK Pilgubri 2018 Bengkalis Lulus Administrasi

Sabtu, 21 Oktober 2017 17:51
RAPP Bantu Perbaiki Jalan Rusak di Teluk Meranti

Sabtu, 21 Oktober 2017 15:14
Waspada akan Diabetes Mellitus, Prodia Gelar Seminar Dokter

Sabtu, 21 Oktober 2017 14:42
5 Bulan Tak Terima Gaji, Honorer di Duri Mulai Galau

Sabtu, 21 Oktober 2017 13:48
Liga Dangdut Indonesia, 5 Remaja Riau Berlaga di Kancah Nasional

Sabtu, 21 Oktober 2017 13:20
Warga Kopah, Kuansing Nyaris Tewas Ditembak Maling Kerbau

 
loading...



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.

Ahad, 7 April 2013 08:51
RAPP Melawan Persaingan tak Sehat dengan Terus Berinovasi

Tidak mudah bertahan di bisnis kertas dunia. Banyak persaingan tak sehat, namun RAPP bertahan dengan terus berinovasi.

Riauterkini-JAKARTA- Indonesia semestinya bangga menjadi salah satu negara raksasa industri kertas dunia. Dua perusahaan menjadi produser pulp dan kertas yang tergolong dominan di pasar internasional. PT Riau Pupl And Paper (RAPP) dan PT Indah Kiat Pulp And Paper (IKPP). Namun faktanya, tidak mudah mencapai kondisi ,mapan di peta pasar kertas dunia.

Hal itulah yang dipaparkan Kusnan Rahmin, Direktur Utama PT RAPP kepada sejumlah wartawan, termasuk riauterkincom di kantor APRIL, induk corporrate PT RAPP di Jakarta, Jumat (5/4/13).

Kusnan memulai pemaparan dengan memberi daftar negara-negara di dunia penghasil pulp dan kertas. Produser terbesar masih dikuasi Amerika. Sementara Indonesia sampai saat ini hanya menempati urutan 9 dunia dengan produksi lebih dari 7 juta ton kertas setiap tahunnya. RAPP hanya 2,3 ton pertahunnya.

Meskipun bukan produser kertas terbesar di dunia, namun RAPP menjadi industri yang sangat diwaspadai para kompetitor. Banyak faktor yang menyebabkan RAPP dikhwatirkan mendominasi pasar kertas di dunia. Terutama faktor iklim tropis yang membuat usia panen hutan tanaman industri (HTI) jauh lebih pendek di banding negara lain.

"Kalau di Eropa, HTI baru panen 30 tahun, sementara kita cukup 4 sampai 5 tahun sudah dipanen untuk dijadikan bahan baku," papar Kusnan.

Fakta inilah yang membuat RAPP merasa selalu menjadi sasaran tembak kompetitor dari berbagai negara, terutama dari Eropa. Dengan menggunakan kampanye hitam beberapa Non Goverment Organitation (NGO) industri kertas yang berbasis di Kabupaten Pelalawan tersebut sering disudutkan dengan beragam isu lingkungan.

"LSM-LSM itu mendatangi sejumlah bayer (pembeli.red) kami di Eropa. Misalnya, kami disebut merupakan perusahaan yang paling luas melakukan de forestry atau pembabat hutan," tuturnya.

Setiap kali RAPP mampu menepis tudingan-tudingan yang dihembuskan kompetitor melalui GNO, selalu saja muncul isu baru yang menyudutkan. Termasuk terkait aturan dan sertifikasi yang terus bermunculan. RAPP selalu diwajibkan memenuhi beragam sertifikat jika produknya mau dibeli.

Selain harus menghadapi persaingan tidak sehat, RAPP juga dihadapkan pada fakta inkonsistensi pemerintah dalam melaksanakna keputusan. Sebagai contoh, pada izin awal berinvestasi APRIL mendapatkan konsesi HTI seluas 350 ribu hektar. Dengan luas kawasan konsesi tersebut, maka RAPP membangun industri dengan kapasitas produksi hingga 2,7 juta ton pertahun, baik pulp maupun kertas.

Namun sampai saat ini masih banyak kawasan konsesi RAPP yang belum bisa dikelolo karena berbagai masalah. Seperti karena sudah dikuasi pihak lain atau faktor lain yang belum tuntas solusinya. Saat ini baru sekitar 210 ribu hektar HTI yang sudah bisa direalisasikan RAPP.

"Seperti kawasan konsesi Pulau Padang. Sudah sempat kami kelola, namun sekarang dihentikan dan belum jelas kapan boleh kami kembali mengelolanya," keluh Kusnan.

Bagi RAPP, situasi tersebut di atas, baik persaingan tak sehat maupun ketidak-pastian regulasi pemerintah adalah situasi yang tidak boleh sekedar diratapi, tetapi harus dicarikan solusi agar rencana bisnis terus berjalan.

"Kami menyadari seperti itulah kondisi yang harus kami hadapi. Kami harus terus berjalan dengan rencana bisnis kami, karena itu kami harus terus berinovasi untuk menghadapi setiap tantangan yang muncul," papar Kusnan lagi.

Inovasi bagi RAPP adalah sesuatu keharusan. Baik untuk teknologi maupun kebijakan di lapangan. Seperti untuk menyiasati kekurangan bahan baku produksi, RAPP menerapkan kebijakan pembelian bahan baku dari perusahaan resmi.

"Tapi belakangan kebijakan kami membeli kayu dari perusahaan legal juga dipermasalahkan," keluhnya lagi.

Dalam kesempatan tersebut juga disampaikan pemaparan mengenai kebijakan idustri berkelanjutan yang disampaikan Dian Novarina selalu Sustanablity Head RAPP.

Dian menyebutkan dari awal proses pembukaan hutan untuk HTI. Prosesnya dilakukan tanpa sistem pembakaran. Kemudian juga dilakukan pelepasan kawasan konsesi untuk sejumlah kepentingan, seperti untuk masyarakat dan kawasan konservasi, seperti untuk penambahan luas Taman Nasional Tesso Nilo seluas 48 ribu hektar.

Demikian juga untuk perlindungan kawasan gambut. Dian menegaskan kalau perusahaannya sangat berkomitmen melakukannya. RAPP menerapkan sistem tata air atau eko hydro di setiap kawasan gambut yang terdapat di lahan konsesi, seperti di Pulau Padang, Kepulauan Meranti.

Sistem tata air yang diterapkan RAPP merupakan rekomendasi dari para pakar di bidangnya dan telah teruji mampu menjaga kelembaban kawasan gambut.

"Dengan eko hydro hutan akasia bisa tumbuh tanpa harus merusak kawasan gambut," tegas Dian.***(mad)



loading...

Berita lainnya..........
- Oktober 2017, Realisasi PADi Bapenda Pekanbaru Tembus Rp 375 Miliyar
- Tolak PHK Buruh HTI, K-SPSI Riau Rencanakan Demo Pekan Depan
- Nursyafry Tanjung Pimpin REI Riau Periode 2017-2020
- OJK  Dujung Program Global Anti Serangan Siber
- Kadisperindag Pekanbaru Kelangkaan Gas Elpiji Juga Tanggung Jawab Camat dan Lurah
- Permintaan CPO Naik,  Harga TBS di Riau Pekan Ini Ikut Naik
- OJK Gandeng MUI Riau Kembangkan Bwnk Syariah


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda : 54.224.13.210
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com