Untitled Document
Rabu, 27 Zulhijjah 1435 H |
Home > Usaha >>

Berita Terhangat..
Selasa, 21 Oktober 2014 23:18
Porprov VIII Riau,
Kontingen Bengkalis Masih Unggul Boyong Medali Emas


Selasa, 21 Oktober 2014 23:18
BPBD Dumai Gelar Pelatihan Penanggulangan Korban Bencana

Selasa, 21 Oktober 2014 23:08
Listrik di Duri Padam Akibat Gerimis dan Angin Ringan

Selasa, 21 Oktober 2014 23:04
40 Kaum Hawa di Bengkalis Dibekali Pelatihan Mengolah Kain-kain Bekas

Selasa, 21 Oktober 2014 23:01
Golkar Tak Kekurangan Kader Isi Posisi Wagubri

Selasa, 21 Oktober 2014 23:00
PTPN V Dituding Menangkan Rekanan Pemegang SBU Kadaluarsa

Selasa, 21 Oktober 2014 22:58
Bengkalis Expo 2014 Menampilkan Galeri Promosi Terlengkap di Sumatera



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Kamis, 17 Juni 2010 16:21
Gula Rafinasi Beredar Bebas di Bengkalis

Gula rafinasi semestinya tidak boleh diperdagangkan bebas kepada masyarakat, namun di Bengkalis, gula untuk industri tersebut justru beredar bebas.

Riauterkini-BENGKALIS- Bebas beredarnya gula kristal rafinasi merk SUJ di pasaran Bengkalis telah membuat resah sebagian masyarakat. Ironisnya, gula rafinasi ini beredar luas dan dikonsumsi masyarakat dengan izin dari Disperindag dan UKM Kabupaten Bengkalis. Padahal dalam aturan gula tersebut beredar hanya khusu s untuk kebutuhan industri makanan dan minuman.

Menurut pantauan di lapangan, Kamis (17/6) di Bengkalis ada tiga distributor yang mensuplai gula merk SUJ tersebut. Diantaranya Budi Bakti, Deli Makmur, dan Mulia Jaya. Hal itu diakui oleh Sugiman salah seorang warga yang bekerja di Toko Budi Bakti, Jalan Hasanudin, Bengkalis.

Sugiman yang berhasil ditemui wartawan mengatakan, meski gula ini dilarang beredar bebas dipasaran. Namun selama dua tahun ini, dirinya mengaku mendapatkan izin untuk pendistribusian gula ke sejumlah pusat perbelanjaan di Bengkalis. Bahkan pesanan stok untuk bulan Juni 2010 ini sekitar 50 ton gula rafinasi akan dipasarkan kepada masyarakat di Bengkalis.

“Kita punya izin dari Disperindag, kalau tidak ada izin mana mungkin kita bisa jual. Masyarakat juga banyak yang menyukai gula rafinasi merk SUJ diproduksi oleh PT Sentra Usaha Hatama Jaya ini,” ungkap Sugiman sembari memperlihatkan izin dari Disperindag berisi pesanan gula rafinasi yang akan diambil dari Jakarta.

Dikatakan Sugiman, gula rafinasi ini dipasaran perkarungnya dijual dengan harga Rp 45 ribu. Rata-rata dipasaran perkilogramnya gula tersebut dijual seharga Rp 9 ribu. Meski gula ini diakuinya dilarang beredar bebas dan hanya khusus untuk kebutuhan industri. Namun dipasaran laku keras, dengan harga yang relatif lebih murah ketimbang gula GMP yang warnanya jauh berbeda dengan gula rafinasi.

“Banyak orang takut terkena serangan kencing manis akibat mengkonsumsi gula SUJ, tapi banyak juga warga yang meminatinya. Bahkan gula ini laku keras dipasaran,” terangnya.

Sementara itu Kepala Disperindag dan UKM Kabupaten Bengkalis Drs Andre Sukarmen, saat dikonfirmasi mengatakan, gula rafinasi sesuai aturannya tidak diperbolehkan dijual bebas, dan khusus untuk industri makanan dan minuman saja.

“Keterbatasan stok gula pasir jenis yang legal diperdagangkan membuat gula SUJ laku keras dipasaran. Sebenarnya gula itu tidak boleh beredar dimasyarakat, namun karena kondisi masyarakat banyak yang meminatinya,” kata Andre Sukarmen.

Pertanyakan Izin

Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) diminta segera menjelaskan status maupun kondisi gula yang dikhususkan hanya untuk kebutuhan industri tersebut.

''Karena gula merupakan bagian dari sembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat, maka seharusnya Disperindag dan BBPOM bertindak, mensosialisasikan keberadaan gula rafinasi tersebut kepada masyarakat, berbahaya atau tidak, merugikan atau tidak, bukan seenaknya mengeluarkan izin,'' ujar Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) Bengkalis, Fadli Syarifudin, kepada wartawan.

Ditegaskannya kembali, Disperindag maupun BBPOM seharusnya transparan menjelaskan kepada masyarakat. Kedua institusi ini juga diminta mengawasi ketat peredaran barang, apalagi jika barang tersebut ternyata berbahaya untuk dikonsumsi.

''Harus dijelaskan kepada masyarakat kriteria barang kebutuhan pokok yang layak dikonsumsi,'' pungkasnya.

Dikatakan Fadli, saat ini sejumlah wartawan dan LPKSM juga sudah mengantongi izin rekomendasi yang diberikan kepada distributor. Artinya peredaran gula rafinasi ini dilegalkan, bukti nyata yakni adanya surat Nomor 514/PERINDA/DAGRI/VI/2010/267 dari Dispedindag dan UKM Kabupaten Bengkalis yang ditujukan kepada Kadis Perindag Provinsi Riau.

''Ada dasar hukumnya, yakni Kep Menperindag No 334/MPT/Kep/5/2004 yang dalam perubahan, Kep Menperindag No 61/MPT/Kep/2/2004 tentang Perdagangan Gula Antar Pulau. Gula ini tidak dijual bebas, tapi untuk industri makanan dan minuman saja. Namun kenapa Disperindag melegalkannya ini yang harusnya kita pertanyakan,'' pungkas Fadli.***(dik)




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita lainnya..........
- Harga TBS Kelapa Sawit Kembali Mengalami Penurunan
- Tambang Batubara di Rohul Terkendala Jalan dan Harga
- Badan Publik yang Tertutup Dapat Dipidana
- Kembangkan Usaha, PD Pembangunan Pekanbaru Akan Kelola SPBU
- Lebih 50 Persen UMKM Riau Belum Tersentuh Perbankan
- Bank Riau Kepri Kembali Gelar UMKM Award 2014
- Sejumlah Hotel dan Penginapan di Duri Menunggak Pajak


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 54.81.68.185
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com