Berita Terhangat... |
Jum’at, 24 Mei 2013 19:36 Dibuka Ketua KONI Rohul, 630 Karatedo Ikut Kejurda FORKI Riau ke-7 di Pasirpangaraian
Jum’at, 24 Mei 2013 19:34 Prihatin, KPU tak Diundang Paripurna Pelantikan 5 PAW DPRD Riau
Jum’at, 24 Mei 2013 19:32 Didukung 4 Parpol, Zainal Abidin Optimis Maju di Pilkada Inhil
Jum’at, 24 Mei 2013 17:29 RAPP Bakti Sosial Bersama Warga Desa Kuala Terusan
Jum’at, 24 Mei 2013 17:12 Dua Pengedar Sabu Melawan Saat Ditangkap Aparat
Jum’at, 24 Mei 2013 17:09 Jago Demokrat di Pilgubri Diharap Tuntas Awal Pekan
Jum’at, 24 Mei 2013 16:47 Pemko Programkan Pasar Higinis
|
|
|
|
Jum’at, 1 Juni 2012 13:29 DPRD Desak Pemko Pekanbaru Serius Menyikapi Pelecehan Agama
Anggota Komisi III DPRD Kota, Ade Hartati mendesak Pemko serius menyikapi dan menyelesaikan persoalan menyangkut pelecehan agama.
Riauterkini-PEKANBARU-Anggota Komisi III DPRD Kota Pekanbaru Ade Hartati mendesak Pemerintah Kota (Pemko) serius menyikapi sekaligus menyelesaikan isu-isu atau persoalan yang menyangkut pelecehan agama. Pernyataan itu terkait ada dugaan pelarangan Sholat Jumat bagi karyawan sejumlah toko elektronik di Pekanbaru.
“Kita berharap Pemko Pekanbaru serius menyikapi hal ini. Jangan sampai teman-teman dari organisasi masyarakat bertindak. Kita juga tidak mau hal ini dijadikan bargaining atau dijadikan “barang dagangan” bagi oknum-oknum tertentu buat mengambil kepentingan pribadi,” kata Ade dalam obrolan dengan riauterkini.com di Hotel Premiere Pekanbaru, kemarin malam.
Menurutnya, secara personal dirinya telah mengirimkan SMS kepada Walikota dan Wakil Walikota Pekanbaru terkait adanya dugaan pelecehaan agama oleh pemilik sejumlah toko elektronik. “Alhamdulillah, SMS saya ini sudah ditanggapi oleh Pak Wali maupun Pak Wawako,” ujarnya.
Terlepas soal itu, Ade Hartati menyatakan sebenarnya kasus ini adalah “bom waktu”. Sebab kasus ini bukan yang pertama. “Kita sudah banyak menerima laporan dari masyarakat mengenai pelecehan-pelecehan terhadap agama. Seperti tidak dibolehkan pakai jilbab, tidak dibolehkan Sholat Jumat dan jam sholatnya tidak diatur,” bebernya.
Dewan Kota sendiri, kata Ade, siap mendukung kasus ini hingga tuntas. Kita berharap MUI Kota Pekanbaru menyikapi hal ini dan memfasilitasi teman-teman FPI, HTI untuk menyelesaikan hal ini secara damai. ***(son)
Beri
tanggapan | Baca
tanggapan |
| |
raja pungli kalau bicara pelecehan agama itu harus seimbang. di negara RI ini ada lebih dari 1 agama yang diakui. kalau sudah diakui berarti memiliki hak yang sama antara satu sama lain, yakni kebebasan menjalankan ibadahnya. yang kita ributkan hanya masalah karyawan yang "katanya" tidak diijinkan sholat waktu istirahat, sementara teman kita agama lain, untuk merayakan hari besar agamanya saja dipersulit, tapi tidak menjadi polemik yang dibasah ber-hari-hari, bahkan samapi meminta pendapat banyak orang. sudahlah, agama itu bukan sesuatu yang dipaksakan, tapi hati nurani sendiri yang memilih. sekarang pertanyaannya adalah: apakah anda memiliki nurani?
pencair suasana masalah SARA no coment.
Ary Sangat setuju buk, proses sampai tuntas...........
pendukungmu Setuju bu, masalah. Ini harus dituntaskan. Pertama, cek kembali apa kejadian itu benar: kapann, dimana, siapa, bgmnya. Kedua cek pula ketentuan yg ada. Kalau itu melanggar, ybs hrs tangggung%@!*b sesuai ketentuan. Tapi kalau bisa dimaafkan baik juga asal ybs minta maaf secara terbuka kpd publik dan janji tdk mengulang lagi.
|
|