|
|
|
Kamis, 10 Mei 2012 21:57 Diskes Rohul Temukan 6 Kasus Penyakit "Kaki Gajah"
Pihak Diskes menemukan 6 kasus penyakit kaki gajah di empat desa di Rohul.
Riauterkini-PASIRPANGARAIAN- Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) Wildan Asfan Hasibuan, mengaku ditemukan 6 kasus kronis Filariasis (kaki gajah, Red) di empat desa di wilayah kerjanya.
Ke-6 kasus penyakit kaki gajah, katanya, ditemukan di Desa Boncah Kusuma, Rambah Hilir, Surau Tinggi dan Kelurahan Ujungbatu. Sebab itu, Wildan mengaku sangat mendukung program eliminasi filariasis dengan target sampai titik nol.
Selain itu, katanya Diskes Rohul juga mendukung kegiatan Advokasi dan sosiliasi program eliminasi filariasis, sebagai komitmen bersama menuju Eliminasi Filariasis di Indonesia 2020 mendatang tajaan Depkes Republik Indonesia.
Sebagai langkah awal eliminasi filariasis, setelah tahap sosialisasi, dalam waktu dekat Diskes akan gelar pemeriksaan darah jari di dua desa sebagai sample, seperti di Desa Rambah Hilir dan Kelurahan Ujungbatu, untuk mengetahui sejauh mana persentase penderita filariasis.
Jika persentasenya lebih 1 persen, maka akan dilakukan pengobatan secara massal di tingkat Kabupaten Rohul. Namun jika masih di bawah 1 persen, akan dilakukan selektif di desa dan di kecamatan.
"Untuk pengambilan sample darah jari, kita akan bekerjasama dengan Badan teknik Kesehatan lingkungan Batam dan Provinsi," katanya kepada sejumlah wartawan usai menghadiri acara advokasi dan sosialisasi program eliminasi filariasis, komitmen bersama menuju Eliminasi Filariasis di Indonesia tahun 2020, di Hotel Sapadia Pasirpangaraian, Kamis (10/5/12).
Penyakit kaki gajah, ungkap Wildan, dipicu virus jenis cacing dibawa nyamuk. Cacing masuk dalam darah manusia memerlukan waktu antara 10-15 tahun, cukup lambat perkembangannya, dan tidak terlihat gejalanya.
"Kita ambil sample dari 500 orang di setiap desa. Beberapa persen cacing dalam darah ditularkan melalui nyamuk," tambahnya.
Cacing hidup dan merusak saluran getah bening sehingga mengakibatkan cairan getah bening tidak dapat tersalurkan dengan baik dan menyebabkan pembengkakan pada tungkai kaki, lengan tangan, serta bagian tubuh manusia lain.
"Walau tidak menyebabkan kematian, tapi manusia yang terserang akan mengalami kecacatan. Jumlah penderita filariasis dapat diketahui setelah hasil survei di dua desa. Tingginya mobilitas penduduk, nyamuk tidak bisa dikendalikan," ujarnya.
Sementara, Thomas Sunarko, Anggota Komite Nasional Eliminasi Filariasis Pusat, menyebutkan, pada 2020 mendatang, Indonesia sudah eliminasi Filiarsis dan seluruh dunia telah komitmen untuk mulai melakukan pencegahan. Upaya menekan penyakit itu, katanya pemerintah gelar pengobatan di seluruh kabupaten dan kota di Indonesia.
Sunarko sarankan seluruh masyarakat Indonesia mengonsumsi obat cacing filariasis secara serentak tanpa terkecuali setahun sekali selama 5 tahun berturut-turut. Obat itu diberikan gratis oleh WHO, sebab kasus filariasis di Indonesia telah mencapai 40 persen.***(zal)
Beri
tanggapan | Baca
tanggapan |
| |
PUTRA ROHUL mari kita brantas penyakit kaki gajah (Filariasis) dikab.rokan hulu khususnya seluruh indonesia.
|
|