Untitled Document
Jumat, 7 Muharram 1436 H |
Home > Sosial>>

Berita Terhangat...
Kamis, 30 Oktober 2014 21:32
PNS di Pekanbaru Dihipnotis, Rp17,5 Juta Lesap

Kamis, 30 Oktober 2014 21:24
Pemadaman Listrik PLN di Duri Melebihi Jadwal Minum Obat

Kamis, 30 Oktober 2014 21:11
Aanmaning Eksekusi Lahan Main Stadion Tak Dihiraukan,
PT HTJ Kecewa Atas Sikap Kemendiknas, Pemprov Riau dan Unri


Kamis, 30 Oktober 2014 21:03
Dugaan Korupsi Bimtek DPRD Pekanbaru Dilaporkan ke Kejati

Kamis, 30 Oktober 2014 20:58
Akan Gelar Operasi Besar-besaran,
Kapolresta: Preman Silakan Menyingkir dari Pekanbaru


Kamis, 30 Oktober 2014 20:50
Bongkar Rumah, Anak Kandung Klewang Ditangkap

Kamis, 30 Oktober 2014 20:43
Terkait Perampokan Akibatkan Korban Tewas,
Tiga Tersangka Sebut Barang Bukti Uang Tunai Dibawa Yusuf Palembang




Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Senin, 20 September 2010 15:45
Pedagang Jagung, Objek Wisata Terpinggirkan

Kendati diakui oleh Dinas Periwisata Pekanbaru menjadi salah satu titik objek wisata, pedagang jagung di Purna MTQ maupun di jembatan Leighton dianggap illegal dan terpinggirkan.

Riauterkini-PEKANBARU-Di dalam pamflet pariwisata Pekanbaru, Pedagang Jagung di Purna MTQ dan Jembatan Leighton menjadi salah satu objek wisata yang disejajarkan dengan kebun binatang Kasang Kulim, kawasan wisata Danau Buatan hingga Alamayang dan Taman Rekreasi Putri Kacamayang.

Dalam gambaran pamflet tersebut, banyak keluarga yang ingin bersantai dan bercengkerama dengan keluarga atau kawan, sahabat atau rekan kerja sambil menikmati suasana Pekanbaru di malam hari sambil makan jagung bakar atau menu makanan lainnya seperti pisang coklat. Yaitu pisang yang dibakar kemudian selagi panas, pisang bakar tersebut ditaburi coklat dalam penyajiannya.

"Kita bukan hanya jualan jagung bakarnya atau pisang coklatnya. tetapi kita juga menyediakan suasana yang sangat santai yang tidak dimiliki oleh kawasan wisata kuliner durian di Jl Sudirman Tangkerang," terang salah satu pedagang jagung bakar Purna MTQ, Rinda kepada Riauterkini dalam suatu kesempatan.

Ironisnya, kendati menjadi salah satu objek wisata kuliner yang sudah menjadi ciri khas seperti kawasan wisata kuliner Durian (Tangkerang Pekanbaru), namun keberadaan wisata kuliner Jagung Bakar dianggap illegal. Buktinya mereka selalu diburu, digusur bahkan 'dirampas' (baca : disita) barang-barang yang menjadi aset usaha mereka seperti meja atau kursi.

Padahal, menurut para pedagang, selama mereka berjualan, mereka diminta uang keamanan, uang tempat dan uang kebersihan setiap harinya. "Kita bayar lho jualan di sini (depan Purna MTQ Pekanbaru). Tapi kok kita masih juga dikejar-kejar Satpol dan disuruh jualan di tempat lain. Kadang-kadang barang-barang kita diangkutin mereka," terang Zuraida, salah satu pedagang jagung di Purna MTQ.

Ketika hal itu ditanyakan kepada kakansatpol PP Pekanbaru, Indra Kusuma Senin (20/9/10), ia mengakui bahwa kawasan Purna MTQ dan bawah Jembatal Leighton merupakan titik wisata kuliner. Namun sesuai dengan peraturan daerah tentang kawasan protoko, kawasan wisata kuliner Jagung Bakar di depan Purna MTQ sudah tidak layak lagi menjadi titik usaha jagung bakar.

Tugas satpol PP adalah menjalankan peraturan daerah. Salah satu perda yang dilaksanakan Satpol PP adalah penertiban kawasan protokol. Depan Purna MTQ merupakan kawasan yang menurut Indra merupakan kawasan yang harus ditertibkan.

"Kita tahu secara sosial dan ekonomi, ada benturan kepentingan antara warga dengan pemko Pekanbaru mengenai permasalahan kawasan jagung bakar depan purna MTQ. Mereka melakukan aktivitas ekonomi untuk mendapatkan kebutuhan sosialnya. Namun kami harus menjalankan tugas kami untuk menegakkan peraturan daerah. Itulah sebabnya, pemko memberikan solusi bagi pedagang jagung untuk berjualan di bagian belakang kawasan Purna MTQ," terangnya.

Arifien Achmad dan Tuanku Tambusai Siap Ditertibkan

Kawasan Arifien Achmad dan Tuanku Tambusai saat ini juga mulai diminati oleh warga sebagai lokasi wisata kuliner. 2 kawasan tersebut mulai menanjak beberapa waktu terakhir ini. Tuanku Tambusai malam hari dipadati oleh kuliner Cikapundung. sementara kawasan Arifein Achmad mulai diminati dengan kulinernya berupa jagung bakar.

Di Jl Tuanku Tambusai, berbagai jenis masakan ala Cikapundung tersedia. dari nasi uduk, pecel lele, sate padeh, martabak hingga makanan cepat saji cikapundung. Banyak sekali warga yang 'jajan' makanan di kawasan Tuanku Tambusai sembari mengisi waktu malam mereka.

Sementara Jl Arifien Achmad kondisinya sama dengan pedagang jagung bakar di depan Purna MTQ. Yaitu berjualan jagung bakar di trotoar. Kendati demikian, beberapa warga mulai mengisi kursi-kursi kosong milik pedagang jagung J Arifien Achmad.

Namun, nasib dua kawasan tersebut tidak akan berbeda jauh dengan pedagang jagung bakar di Purna MTQ. Pasalnya, satpol PP Pekanbaru juga sudah siap untuk menertibkannya.

"Kita juga akan menertibkan kawasan Tambusai dan Arifien Achmad. Namun kita akan lakukan bertahap. Sebab saat ini jumlah anggota Satpol PP Pekanbaru relatif sedikit. Jadi masih memprioritaskan di kawasan utama dulu. Tetapi yang pasti kita akan menertibkan kawasan tersebut ke depannya," terang kakansatpol PP Pekanbaru, Indra Kusuma kepada Riauterkini.***(H-we)




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita Sosial lainnya ..........
- Pemadaman Listrik PLN di Duri Melebihi Jadwal Minum Obat
- Diskes Hanya Berikan Teguran Lisan,
Pembangunan Pagar Puskesmas Siak tak Pakai Plang Nama Proyek

- Puluhan JH Rohul Ikuti Pembinaan Pasca Haji
- Dandiklat Buka Latihan Tutuka ke-38 di Dumai
- Sopir Menghilang,
Satu Truk Diduga Angkut Sawit Curian Dirusak Warga Rohul

- Bentuk Solidaritas Rekanya di Papua,
Seluruh Kantor Notaris dan PPAT Dumai Tutup

- Wawako Dumai Buka Diskusi Panel Wawasan Nusantara


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 54.196.119.93
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com