Untitled Document
Rabu, 25 Ramadhan 1435 H |
Home > Sosial>>

Berita Terhangat...
Rabu, 23 Juli 2014 19:55
Safari Ramadhan 1435 H,
RAPP Berikan Bantuan dan Santunan di 165 Desa


Rabu, 23 Juli 2014 18:53
Shalat Idul Fitri di Rohul Tersebar di 416 Titik

Rabu, 23 Juli 2014 18:50
Alfamart Buka Bareng Anak Yatim dan Pengusaha Lokal di Duri

Rabu, 23 Juli 2014 17:49
Pekan Ini, Harga TBS Sawit di Riau Turun Rp70,9 per Kg

Rabu, 23 Juli 2014 17:44
Buka Puasa Bersama,
Masjid Agung Madani Bantu Kaum Dhuafa dan Anak Yatim Berprestasi


Rabu, 23 Juli 2014 17:38
Disdukcapil Pelalawan Kantongi Perusahaan Pekerjakan Warga Asing Ilegal

Rabu, 23 Juli 2014 17:35
Avanza-Suzuki Laga Kambing di Tambang, 1 Tewas dan 1 Kritis



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Senin, 20 September 2010 15:45
Pedagang Jagung, Objek Wisata Terpinggirkan

Kendati diakui oleh Dinas Periwisata Pekanbaru menjadi salah satu titik objek wisata, pedagang jagung di Purna MTQ maupun di jembatan Leighton dianggap illegal dan terpinggirkan.

Riauterkini-PEKANBARU-Di dalam pamflet pariwisata Pekanbaru, Pedagang Jagung di Purna MTQ dan Jembatan Leighton menjadi salah satu objek wisata yang disejajarkan dengan kebun binatang Kasang Kulim, kawasan wisata Danau Buatan hingga Alamayang dan Taman Rekreasi Putri Kacamayang.

Dalam gambaran pamflet tersebut, banyak keluarga yang ingin bersantai dan bercengkerama dengan keluarga atau kawan, sahabat atau rekan kerja sambil menikmati suasana Pekanbaru di malam hari sambil makan jagung bakar atau menu makanan lainnya seperti pisang coklat. Yaitu pisang yang dibakar kemudian selagi panas, pisang bakar tersebut ditaburi coklat dalam penyajiannya.

"Kita bukan hanya jualan jagung bakarnya atau pisang coklatnya. tetapi kita juga menyediakan suasana yang sangat santai yang tidak dimiliki oleh kawasan wisata kuliner durian di Jl Sudirman Tangkerang," terang salah satu pedagang jagung bakar Purna MTQ, Rinda kepada Riauterkini dalam suatu kesempatan.

Ironisnya, kendati menjadi salah satu objek wisata kuliner yang sudah menjadi ciri khas seperti kawasan wisata kuliner Durian (Tangkerang Pekanbaru), namun keberadaan wisata kuliner Jagung Bakar dianggap illegal. Buktinya mereka selalu diburu, digusur bahkan 'dirampas' (baca : disita) barang-barang yang menjadi aset usaha mereka seperti meja atau kursi.

Padahal, menurut para pedagang, selama mereka berjualan, mereka diminta uang keamanan, uang tempat dan uang kebersihan setiap harinya. "Kita bayar lho jualan di sini (depan Purna MTQ Pekanbaru). Tapi kok kita masih juga dikejar-kejar Satpol dan disuruh jualan di tempat lain. Kadang-kadang barang-barang kita diangkutin mereka," terang Zuraida, salah satu pedagang jagung di Purna MTQ.

Ketika hal itu ditanyakan kepada kakansatpol PP Pekanbaru, Indra Kusuma Senin (20/9/10), ia mengakui bahwa kawasan Purna MTQ dan bawah Jembatal Leighton merupakan titik wisata kuliner. Namun sesuai dengan peraturan daerah tentang kawasan protoko, kawasan wisata kuliner Jagung Bakar di depan Purna MTQ sudah tidak layak lagi menjadi titik usaha jagung bakar.

Tugas satpol PP adalah menjalankan peraturan daerah. Salah satu perda yang dilaksanakan Satpol PP adalah penertiban kawasan protokol. Depan Purna MTQ merupakan kawasan yang menurut Indra merupakan kawasan yang harus ditertibkan.

"Kita tahu secara sosial dan ekonomi, ada benturan kepentingan antara warga dengan pemko Pekanbaru mengenai permasalahan kawasan jagung bakar depan purna MTQ. Mereka melakukan aktivitas ekonomi untuk mendapatkan kebutuhan sosialnya. Namun kami harus menjalankan tugas kami untuk menegakkan peraturan daerah. Itulah sebabnya, pemko memberikan solusi bagi pedagang jagung untuk berjualan di bagian belakang kawasan Purna MTQ," terangnya.

Arifien Achmad dan Tuanku Tambusai Siap Ditertibkan

Kawasan Arifien Achmad dan Tuanku Tambusai saat ini juga mulai diminati oleh warga sebagai lokasi wisata kuliner. 2 kawasan tersebut mulai menanjak beberapa waktu terakhir ini. Tuanku Tambusai malam hari dipadati oleh kuliner Cikapundung. sementara kawasan Arifein Achmad mulai diminati dengan kulinernya berupa jagung bakar.

Di Jl Tuanku Tambusai, berbagai jenis masakan ala Cikapundung tersedia. dari nasi uduk, pecel lele, sate padeh, martabak hingga makanan cepat saji cikapundung. Banyak sekali warga yang 'jajan' makanan di kawasan Tuanku Tambusai sembari mengisi waktu malam mereka.

Sementara Jl Arifien Achmad kondisinya sama dengan pedagang jagung bakar di depan Purna MTQ. Yaitu berjualan jagung bakar di trotoar. Kendati demikian, beberapa warga mulai mengisi kursi-kursi kosong milik pedagang jagung J Arifien Achmad.

Namun, nasib dua kawasan tersebut tidak akan berbeda jauh dengan pedagang jagung bakar di Purna MTQ. Pasalnya, satpol PP Pekanbaru juga sudah siap untuk menertibkannya.

"Kita juga akan menertibkan kawasan Tambusai dan Arifien Achmad. Namun kita akan lakukan bertahap. Sebab saat ini jumlah anggota Satpol PP Pekanbaru relatif sedikit. Jadi masih memprioritaskan di kawasan utama dulu. Tetapi yang pasti kita akan menertibkan kawasan tersebut ke depannya," terang kakansatpol PP Pekanbaru, Indra Kusuma kepada Riauterkini.***(H-we)




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita Sosial lainnya ..........
- Shalat Idul Fitri di Rohul Tersebar di 416 Titik
- Disdukcapil Pelalawan Kantongi Perusahaan Pekerjakan Warga Asing Ilegal
- Tinggalkan Safari Ramadhan,
Mahasiswa Sarankan Gubri Belajar dari Ahok

- Wabup Suayatno Hadiri Buka Besama HBA Ke-54 Kejari Bengkalis
- Pemkab Inhil Siapkan Pawai Takbiran Idul Fitri 1435 H
- Disdukcapil Pelalawan Kantongi Perusahaan PekerjakanWNA Ilegal
- Kunjungan Tim Safari Ramadhan Kampar Penuh Makna


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 54.197.218.127
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com