Untitled Document
Jumat, 25 Ramadhan 1431 H |
Home > Sosial>>

Berita Terhangat...
Jum’at, 3 September 2010 18:08
Kebutuhan Rp 2,5 Trilyun,
Kemenpora Sekedar Bantu Rp 80 M untuk PON Riau


Jum’at, 3 September 2010 17:57
Lagi, Polres Bengkalis Sita Kayu Ilegal tanpa Tersangka

Jum’at, 3 September 2010 17:56
Sepekan,
6 Rumah Warga Sebuah Desa di Rohul Kemalingan


Jum’at, 3 September 2010 17:44
Produksi Terus Turun,
BOB Pertamina-BSP Sering Dimarahi BP Migas


Jum’at, 3 September 2010 17:03
Bupati Bengkalis Keluarkan Peraturan Suaka Ikan Terubuk

Jum’at, 3 September 2010 16:56
Jelang Lebaran, Warga Bengkalis Serbu Uang Pecahan

Jum’at, 3 September 2010 16:54
Sidang Korupsi Genset Rohul Ditunda Selesai Lebaran



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Sabtu, 10 Mei 2008 12:24
WHO Bantah Ring In Red Berunsur Magis

Kendati sudah memakan korban jiwa, namun WHO menyatakan bahwa ring in red bukanlah memiliki unsur magis. Namun penggunaan infrared berkapasitas besar yang bisa menyebabkan kematian.

Riauterkini-PEKANBARU-Menanggapi adanya nomor merah (Ring in Red) yang misterius dan memakan korban jiwa, Kepala Devisi Kesehatan dan Technologi World Health Organization (WHO) Andi Mok dalam rilisnya mengatakan bahwa tidak ada unsur magis di dalamnya. Yang ada hanya penggunaan tehnologi infrared berkapasitas besar.

"Itu bukan ulah ilmu hitam. Namun radiasi infrared berkapasitas besar yang sengaja dipancarkan secara berlebihan kepada nomor tujuan," katanya menegaskan.

Ia membenarkan bahwa radiasi infrared berkapasitas besar itu memang dapat menyebabkan kematian seseorang secara mendadak dan dalam waktu yang relativ singkat usai mengangkat panggilan dari nomor merah.

Jangankan dijawab, tambah Mok, walaupun tidak dijawab, kedekatan pemilik ponsel dengan ponselnya yang dipanggil oleh nomor merah juga dapat membahayakan. Karena dapat memicu penyakit kanker.

Ditanyakan solusinya, Mok menyatakan bahwa sebelum ada pernyataan aman secara resmi dari WHO mengenai masalah tersebut, sebaiknya mengurangi penggunaan dan aktivasi ponsel.

Seperti yang dirilis Riauterkini sebelumnya, ada beberapa korban tewas akibat mengangkat panggilan dari nomor merah. Seperti Auzar di Parit II desa Pambang Kecamatan Bantan yang baru terjadi kemarin lusa.

Panggilan Nomor merah juga dialami oleh Agnes, guru SD Angkasa Lanud Simpang Tiga. Namun dia cepat melakukan antisipasi dengan mematikan HP-nya. akibatnya, ponsel kesayangannya itu rusak dan butuh dana Rp 500 ribu untuk memperbaikinya. ***(H-we)




Berita Sosial lainnya ..........
- Mayoritas Gunakan Motor,
Rohul Mulai Kedatangan Pemudik Lebaran

- PLN Ingkar Janji, Listrik di Bengkalis Tetap Sering Padam
- PLN Pastikan Lebaran Beban Puncak Turun 60 MW
- BI Salurkan Bantuan Paket Sembako ke Panti Asuhan
- Pemko Pekanbaru Tiadakan THR PNS dan Guru
- Optimalisasi Pemanfaatan, Sekda Hitung Aset Pemkab Siak
- Pengurus PB-MPP Pelalawan Gelar Buka Puasa Bersama


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 38.107.191.86
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com