Untitled Document
Selasa, 25 Safar 1431 H |
Home > Sosial>>

Berita Terhangat...
Selasa, 9 Pebruari 2010 12:05
Bayi Bertuliskan Lafaz ‘Allah’ di Telingan Lahir di PMC Pekanbaru

Selasa, 9 Pebruari 2010 11:32
Ternyata Hanya 6 Daerah Dukung Program Kebun K2i

Selasa, 9 Pebruari 2010 11:31
Kaltim Belajar dari Riau Tetapkan Harga TBS

Selasa, 9 Pebruari 2010 07:39
Angkutan Barang di Bengkalis Dirugikan Timbangan Kapal Ro-Ro

Senin, 8 Pebruari 2010 20:47
Nihil Tersangka, 600 Tual Kayu Disita Polisi di Meranti

Senin, 8 Pebruari 2010 18:12
Tak Dibantu APBD Riau,
Pengelola 74 Panti Asuhan Mengadu ke DPRD


Senin, 8 Pebruari 2010 18:05
Dipanggil Komisi A DPRD Riau,
PT. SRL Bantah Serobot Lahan dan Abaikan Masyarakat




Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Sabtu, 10 Mei 2008 12:24
WHO Bantah Ring In Red Berunsur Magis

Kendati sudah memakan korban jiwa, namun WHO menyatakan bahwa ring in red bukanlah memiliki unsur magis. Namun penggunaan infrared berkapasitas besar yang bisa menyebabkan kematian.

Riauterkini-PEKANBARU-Menanggapi adanya nomor merah (Ring in Red) yang misterius dan memakan korban jiwa, Kepala Devisi Kesehatan dan Technologi World Health Organization (WHO) Andi Mok dalam rilisnya mengatakan bahwa tidak ada unsur magis di dalamnya. Yang ada hanya penggunaan tehnologi infrared berkapasitas besar.

"Itu bukan ulah ilmu hitam. Namun radiasi infrared berkapasitas besar yang sengaja dipancarkan secara berlebihan kepada nomor tujuan," katanya menegaskan.

Ia membenarkan bahwa radiasi infrared berkapasitas besar itu memang dapat menyebabkan kematian seseorang secara mendadak dan dalam waktu yang relativ singkat usai mengangkat panggilan dari nomor merah.

Jangankan dijawab, tambah Mok, walaupun tidak dijawab, kedekatan pemilik ponsel dengan ponselnya yang dipanggil oleh nomor merah juga dapat membahayakan. Karena dapat memicu penyakit kanker.

Ditanyakan solusinya, Mok menyatakan bahwa sebelum ada pernyataan aman secara resmi dari WHO mengenai masalah tersebut, sebaiknya mengurangi penggunaan dan aktivasi ponsel.

Seperti yang dirilis Riauterkini sebelumnya, ada beberapa korban tewas akibat mengangkat panggilan dari nomor merah. Seperti Auzar di Parit II desa Pambang Kecamatan Bantan yang baru terjadi kemarin lusa.

Panggilan Nomor merah juga dialami oleh Agnes, guru SD Angkasa Lanud Simpang Tiga. Namun dia cepat melakukan antisipasi dengan mematikan HP-nya. akibatnya, ponsel kesayangannya itu rusak dan butuh dana Rp 500 ribu untuk memperbaikinya. ***(H-we)




Berita Sosial lainnya ..........
- Bayi Bertuliskan Lafaz ‘Allah’ di Telingan Lahir di PMC Pekanbaru
- Ternyata Hanya 6 Daerah Dukung Program Kebun K2i
- Tak Dibantu APBD Riau,
Pengelola 74 Panti Asuhan Mengadu ke DPRD

- Disbudpar Riau Buat Database Elektronik Benda Cagar Budaya
- Walikota Hadiri Progam PHBS di Kelurahan Sekip
- Sejak Januari Pengunjung Museum SNU Capai 2.195
- Warga Pasirpanggaraian Keluhkan Parkir Liar Kian Menjamur


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 38.107.191.82
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com