Home > Sosial & Budaya >>
Berita Terhangat..
Ahad, 23 September 2018 10:54
Deklarasi Kampanye Damai, Plt Gubri Ajak Hindari Politik Uang dan Sara

Ahad, 23 September 2018 10:30
Danyon 132/BS Motivasi Ratusan Masyarakat dan Murid TPQ di Pulau Gadang

Ahad, 23 September 2018 10:19
Dilepas Bupati dan Kapolres, Peserta Bhayangkara Bengkalis Adventure 2 Semangat Trabas Hutan

Ahad, 23 September 2018 09:27
KPU Gelar Deklarasi Kampanye Damai Serentak Pemilu 2019

Sabtu, 22 September 2018 22:37
Ditolak Masyarakat, Kirab Satu Negeri GP Ansor Batal di Depan Istana Siak

Sabtu, 22 September 2018 21:20
Milad ke 109 H Muhammadiyah, PDM Pekanbaru Gelar Tabligh Akbar

Sabtu, 22 September 2018 20:45
Warga Sambut Gembira Peresmian Sumur Ke 17 dari LAZnas Chevron

Sabtu, 22 September 2018 20:42
Pemkab Inhil Apresiasi Kapolres Inhil Cup I Open Drag Bike 2018

Sabtu, 22 September 2018 16:52
Golkar Klaim Siap Jadi Pemenang Pileg 2019 di Kuansing

Sabtu, 22 September 2018 16:32
Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

loading...


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Sabtu, 24 Pebruari 2018 18:59
Keunikan Kampung Wisata Koto Ranah,
Mulai Puncak Suligi 900 MDPL Hingga Naskah Kuno


Kampung Wisata Koto Ranah yang terletak di dataran kaki Bukit Suligi memiliki daya tarik tersendiri. Adat yang masih dijunjung dan alam mempesona membuat wisatawan ingingin berkunjung.

Riauterkini-PASIRPANGARAIAN- Desa Koto Ranah Kecamatan Kabun merupakan sebuah desa yang berada di dataran kaki Bukit Suligi yang menghampar di sejumlah kecamatan Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau.

Daerah ini awalnya berhawa sejuk, sehingga di desa ini banyak tumbuh pohon petai atau biasa disebut masyarakat sekitar dengan sebutan potai. Seiring perkembangan zaman, kampung ini mulai didatangi penduduk dan hawa daerah berubah menjadi panas. Pohon petai juga semakin berkurang, dan hingga kini hanya tinggal beberapa pohon saja.

Semakin banyaknya penduduk, daerah ini menjadi suatu desa yang bernama Desa Koto Ranah yang berjarak sekira 6 kilometer (km) dari jalan lintas Bangkinang-Pasirpangaraian. Jalan menuju desa juga sudah diaspal.

Untuk sampai ke kaki Bukit Suligi, menikmati keindahan dari Puncak Ranah merupakan objek wisata 'Menggapai Matahari di Puncak Ranah' bisa ditempuh dengan jarak antara 5 km sampai 6 km dari base camp Komunitas Pecinta Alam (KPA) Koto Ranah.

Penduduk yang sebagian besar hidup dari sektor perkebunan ini masih terlihat menjunjung adat kebiasaan yang kental, sebagai warisan dari leluhur. Hal ini terbukti dengan masih adanya ogong kramat yang dipakai sekali dalam satu tahun pada waktu hari raya Idul Fitri, melalui prosesi adat.

Meriam kecil yang disebut lelo masih dapat diledakkan menggunakan mesiu. Hal ini memperkuat bukti kampung Koto Ranah berdiri dan ada sejak lama, ditambah dengan baru-baru ini ditemukan sebuah naskah kuno tulisan tangan seorang alim dengan arab melayu memakai kertas bahan eropa yang diperkirakan berusia sekira 3 abad.

Konon, naskah kuno tersebut ditulis oleh H. Janggut di Mekkah yang tersimpan secara turun temurun. Naskah dalam bentuk buku tersebut berisikan pendekatan kepada sang khalik dan peribadatan, pengobatan serta senjata pergaulan dalam kehidupan kemasyarakatan. Bukan itu saja, kekentalan adat dan agama masyarakat terlihat pula di desa yang berbatasan langsung dengan kabupaten tetangga Kabupaten Kampar.

Masyarakat Koto Ranah masih menjunjung tinggi adat, datuk adat masih pihak penentu dan disegani dan dipatuhi oleh masyarakat. Sampai sampai di setiap tradisi adat disandingkan dengan tradisi agama, salah satu di antaranya adalah melaksanakan 'budikiu' atau berzikir.

"Memang zikir bulanlah hal yang unik dan asing untuk agama Islam, dimana-mana selalu dilaksanakan. Akan tetapi di daerah ini keunikannya terletak pada sanksi bagi masyarakat yang tidak melaksanakan," jelas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Rohul Drs. Yusmar M.Si, Sabtu (24/2/2018).

Yusmar mengungkapkan tradisi zikir yang dilaksanakan seminggu setelah lebaran hari raya Idul Fitri merupakan sebuah tradisi unik di Desa Koto Ranah. Zikir wajib diiikuti seluruh masyarakat, sehingga mereka dilarang keluar desa dan melaksanakan aktivitas pertanian dan perkebunan.

"Semua masyarakat (Koto Ranah) mematuhinya, bagi yang tidak patuh akan diberi sanksi adat," ungkap Yusmar.

Keunikan lain masyarakat Desa Koto Ranah, sambung Yusmar, mereka masih menjaga adat istiadat secara kental ini, ditambah adanya peninggalan bersejarah yang masih dapat dipakai dan terpelihara dengan baik.

Desa atau kampung Koto Ranah berjarak kurang dari 100 km dari Kota Pekanbaru, ibukota provinsi Riau. Atau 80 km dari Kota Pasirpangaraian, ibukota Kabupaten Rohul, atau sekira 50 km dari Bangkinang yang merupakan ibukota Kabupaten Kampar punya keunikan lain.

Desa Koto Ranah punya destinasi wisata alam di daerah perbukitan Suligi dengan melihat matahari terbit atau sunrise dan matahari terbenam atau sunset di ketinggian Puncak Ranah sekira 900 mdpl.

Dari destinasi Menggapai Matahari di Puncak Ranah di ketinggian 900 mdpl, pengunjung seperti berada di atas awan, dan bisa melihat danau PLTA Koto Panjang Kabupaten Kampar yang menghampar luas.

Bukan itu saja, pengunjung juga akan menikmati hamparan hutan di kawasan Bukit Suligi dan seolah-olah berada di negeri diatas awan. Untuk sampai ke Puncak Ranah, pengunjung harus berjalan kaki sekira 1 jam sampai 1,5 jam.

Destinasi wisata Menggapai Matahari di Puncak Ranah, jelas Yusmar, sangat tepat bagi yang suka petualangan, pencinta alam dan kawula muda yang suka dengan alam.

Sebelum sampai ke Puncak Ranah, selama pendakian, pengunjung akan melintasi sungai kecil berair jernih, bersih, dan dingin. Hal tersebut menambah suasana alam yang masih asri, sekaligus menikmati ciptaan sang illahi.

Menurut Yusmar sangat wajar bila Desa Koto Ranah dicanangkan sebagai Kampung Wisata pertama oleh Bupati Rohul H. Sukiman, sekaligus pembukaan Kemah Bakti Mahasiswa (KBM) Universitas Pasir Pengaraian (UPP) ke-8 di lapangan bola kaki Desa Koto Ranah pada Kamis malam (22/2/2018).

"Dengan keunikan wilayah dan kemurnian serta kekentalan kehidupan masyarakat dengan tradisi dan adat istiadatnya, ditambah dengan keaslian alam yang masih asri, desa ini dijadikan Kampung Wisata pertama di Kabupaten Rokan Hulu," kata Yusmar.

Kampung wisata Koto Ranah diharapkan dapat menarik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara dengan spesifik dan keunikan yang dimiliki daerah ini. Dengan kemajuan dan perkembangan wisata, tentunya dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan kemajuan Kabupaten Rohul ke depannya.

"Semoga harapan ini menjadi kenyataan kita semua," harapan besar Yusmar.***(zal)

Loading...


Berita Sosial lainnya..........
- Danyon 132/BS Motivasi Ratusan Masyarakat dan Murid TPQ di Pulau Gadang
- Ditolak Masyarakat, Kirab Satu Negeri GP Ansor Batal di Depan Istana Siak
- Milad ke 109 H Muhammadiyah, PDM Pekanbaru Gelar Tabligh Akbar
- Warga Sambut Gembira Peresmian Sumur Ke 17 dari LAZnas Chevron
- Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks
- Keluhan PNS Kuansing,
Libur Tetap Kerja, tapi Tunjangan Tak Memadai

- Sengketa Informasi Publik,
Majelis KI Perintahkan Sekdako Dumai Berikan Informasi

- Bupati Kuansing Akui Anak Buahnya Banyak yang Tak Memahami Tupoksi
- Kunjungan PWNU ke LAM Riau Singgung GP Ansor
- Diikuti 3.000 Perserta, Festival Kue Bulan Digelar Warga Tionghoa Pekanbaru Besok
- Zikir Kebangsaan di Siak,
GMMK Bersama Elemen Masyarakat Riau Terus Pantau Ketua DPP GP Anshor

- Lantai Parkir Hotel Ambruk, Truk Ekspedisi Nyaris 'Terjun' ke Laut di Bengkalis
- Bupati Inhil Jenguk Indra Muchlis Adnan Di RSUD Puri Husada Tembilahan
- Basarnas Pekanbaru Utus Tim Bertuah dalam Ajang Jambore Potensi SAR 2018
- Undang Ustadz Derry Sulaiman, Ribuan Masyarakat Inhil Hadiri Gema Muharram 1440 H
- RUPS Batalkan Hasil Pansel Calon Anggota Komisaris dan Direksi BRK
- BUMDes di Kampar Diminta Berinovasi Kembangkan Usaha
- Pria Setengah Abad di Duri, Bengkalis Ditemukan Tewas Tergantung
- Soal GP Anshor, LAM Riau Tetap Inginkan Harmonisasi
- Kadiskoperasi : APBD Pekanbaru Minim untuk Pemberdayaan Masyarakat Usia Produktif


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com