Home > Politik >>
Berita Terhangat..
Jum’at, 24 Nopember 2017 07:07
Dua Pembawa 40 Kg Sabu dan 15 Ribu Butir Ekstasi di Siak Dituntut Hukuman Mati

Kamis, 23 Nopember 2017 22:26
Besok, Pemkab Kuansing Serahkan KUA-PPAS RAPBD 2018 ke Dewan

Kamis, 23 Nopember 2017 22:14
Ketua DPH LAMR Pekanbaru Ditabalkan Sebagai Datuk Amanah Adat

Kamis, 23 Nopember 2017 22:07
Bawa 40 Kg Sabu dan 15.000 Ekstasi,
Dua Pemuda di Siak Dituntut Hukuman Mati


Kamis, 23 Nopember 2017 21:44
Pilkades Usai, Wabup Halim Himbau Warga Desa Bersatu Kembali

Kamis, 23 Nopember 2017 20:33
Kadisdik Dinilai Langgar Aturan ASN,
PKC PMII Riau-Kepri Kirimkan Surat ke Menteri Pendidikan RI


Kamis, 23 Nopember 2017 19:05
Fokus Antisipasi Bencana, Pemko Segera Bentuk BPBD

Kamis, 23 Nopember 2017 18:33
Gubri Buka BBGRM di Bangkinang, Kampar

Kamis, 23 Nopember 2017 18:08
Memburu Satriandi, Polresta Pekanbaru Justru Menciduk Pecatan Polisi Membawa Sabu

Kamis, 23 Nopember 2017 17:16
Jalan Rusak Parah,
Warga Rupat Sindir DPRD dan Pemkab Bengkalis dengan Pohon Pisang


 
loading...



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.


Ahad, 3 Maret 2013 18:05
Himarohu Himbau Balon Gubri tak Jadikan Kemiskinan Jualan Politik

Jelang Pilgubri selalu saja terjadi tebar pesono oleh para kandidat. Hiperohu menghimbau para calon pemimpin Riau tak sekedar jadikan kemiskinan masyarakat jualan politik.

Riauterkini-PASIRPANGARAIAN- Menjelang Pilgubri 4 September 2013, realitas kemiskinan dan kebodohan masyarakat menjadi ajang “jualan” atau dagangan dalam kampanye dan sosialisasi para kalangan politisi di Provinsi Riau.

Kemirisan itu lah yang disayangkan Ketua Himpunan Mahasiswa Rokan Hulu-Riau (Himarohu) Adhytia Syayendra. Realisasi *leader of manager* semakin "carut marut"* ulah dari pemimpin di Indonesia mulai tingkat daerah sampai pusat.

“Kepemimpinan dengan konsep parlementer hingga desentralisasi belum maksimal dalam mengisi kemerdekaan. Masih banyak masyarakat menangis karena kemiskinan ekonomi dan kebodohan,” papar Adhytia di Pasirpangaraian, Ahad (3/3/13).

Semakin banyaknya lahir *leader-leader* bermental korup dan tamak jabatan, ujar Adhytia, tidak justru mengangkat harkat martabat rakyat, sebaliknya oknum-oknum itu malah merampas hak-hak rakyat yang nilainya sampai triliunan rupiah.

Kepedulian dan keberpihakan kepada rakyat, menurut Adhytia, hanya sekedar * lipstick* bibir para politisi. Realitas kebijakan-kebijakan belum tepat sasaran, termasuk berbagai project program kerja di Pemprov Riau.

“Termasuk di tingkat Kabupaten dan kota. Program-program hanya untuk kepentingan para golongan dan kelompok tertentu mengatasnamakan masyarakat,” tegasnya.

Sesuai amanat konstitusi pasal 31 UUD 1945, sudah dijelaskan setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan murah baik itu melalui APBN atau APBD dengan anggaran minimal 20 persen dari total anggaran per tahun.

“Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 5 ayat 1 juga sudah jelas. Setiap warga Negara memiliki hak sama dalam memperoleh pendidikan layak yang bermutu,” ujarnya.

Selaku Ketua Himarohu-Riau dan putra daerah Riau, Adhytia berharap ada kepemimpinan Riau alternatif yang harus berpihak dan dekat dengan rakyat, serta bersikap solutif dalam merealisasikan segala kebutuhan rakyat.

Atas kecamuk situasi politik yang semakin panas saat ini menjelang Pilgubri 2013, Adhytia mengaku pesimis hal tersebut tercapai, pasalnya kedaulatan telah dirampas oleh lembaga eksekutif dan legislatif dari tangan rakyat.

“Ini bukti adanya kebijakan *top-down*, sehingga terjadi tarik ulur, sebab ada kepentingan antara eksekutif dan legislatif demi kepentingan partai dengan mengabaikan kepentingan rakyat,” tandasnya.

Dicontohkan Adhytia, seperti halnya di Rohul, masih banyak rakyat mengeluh dengan kebijakan program yang belum tepat sasaran, seperti pembangunan yang belum merata, keterbukaan informasi publik masih minim, pola birokrasi kurang responsif, jaminan kesehatan belum membumi, pendidikan tidak terarah, dan kondisi jalan yang belum seluruhnya tersentuh aspal.

“Bagaimana kita tidak pesimis. Masyarakat belum makmur dan sejahtera, sebab para pemangku kepentingan masih mengalami krisis degradasi moral.”

“Konsep Alquran pun telah mengajarkan, tuhan tidak akan pernah merubah nasib suatu kaum jika para elit politiknya belum berubah. Tapi apakah mereka akan sadar hal tersebut?,” tambah Adhytia lagi.***(zal)



Berita Politik lainnya..........
- Besok, Pemkab Kuansing Serahkan KUA-PPAS RAPBD 2018 ke Dewan
- Golkar dan PDI-P Siap Berkoalisi di Pilgubri 2018
- Senin Depan, DPP Demokrat Akan Putuskan Nama Cagubri
- Peduli Pendidikan, Anggota DPRD Riau Ini Perjuangkan Anggaran Pembangunan Dua SMA Negeri di Pelalawan
- 34 Panwascam di Bengkalis Digembleng Bimtek Pengawasan Pilgubri 2018
- Syamsuar Optimis Dapatkan Dukungan Partai di Pilgubri 2018
- Fokus Bahar RAPBD 2018, Wakil Rakyat Dilarang 'Pelesir' ke Luar Negeri
- Keuangan 60 Persen,
Realisasi Fisik APBD Riau Baru Capai 79 Persen

- Kadernya Dilirik Golkar, PDI Perjuangan Belum Berani Beri Tanggapan
- Termasuk 4 Pelamar Sekda, 30 Calon PTP Ikuti Tes Kompetensi Manajerial
- Peta Politik Pilkada Bisa Berubah,
Wasekjen Golkar Sebut 8 DPD I Golkar Usulkan Munaslub

- Terkait Sengketa Lahan PT RPI,
Komisi II DPRD Pelalawan Hearing dengan Warga Desa Air Hitam

- Legislator Riau Ini Sebut Hanya 14 Parpol Lolos Peserta Pemilu 2019
- Munawar Nakhodai Garda Pemuda NasDem Riau
- Seluruh Kader Golkar Wajib Taati SK Penetapan Gubri dan Wagubri
- 30 Calon Lulus Administrasi Assesment 10 Pejabat Eselon II Pemkab Bengkalis
- Meski Setnov Dicopot, Masnur Yakin Golkar Tetap Usung Andi-Suyatno di Pilgubri 2018
- Pembangunan Gedung Dianggarkan di APBD,
Dewan Minta Dua Instansi Penegak Hukum di Riau Tidak Tebang Pilih

- Rakernas PP TIDAR di Pekanbaru Bakal Dibuka Prabowo Subianto
- Jelang Rakornas Tiga Pilar, PDI-P Riau Matangkan Persiapan


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda : 54.225.16.10
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com