Untitled Document
Kamis, 31 Ramadhan 1431 H |
Home > Luar >>

Berita Terhangat..
  Kamis, 9 September 2010 04:04
Empat Penakik Karet di Rohul Korban Serangan Beruang

Rabu, 8 September 2010 18:05
Diduga Akibat Konselting, 14 Pintu Los Pasar di Tambusai Terbakar

Rabu, 8 September 2010 18:03
Polres Rohul Musnahkan 10.445 Botol Miras dan Ribuan Petasan

Rabu, 8 September 2010 17:42
Pos PAM Operasi Ketupat Siak 2010 Masih Sepi Pengaduan

Rabu, 8 September 2010 16:01
PLN Pastikan Lebaran Tampa Pemadaman Bergilir

Rabu, 8 September 2010 15:57
11 Langsung Bebas,
280 Napi dan Terpidana Anak di Inhil Peroleh Remisi Lebaran


Rabu, 8 September 2010 14:19
Pembunuhan Sadis di Tenayan Raya,
Penjual Lontong Disabet Pedang dan Anaknya Tewas Dimartil




Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Selasa, 23 Mei 2006 16:08
67 % Apotik Tak Gunakan Apoteker

Hasil survey yang digelar YLKI menyatakan 67 % apotik tidak penggunakan tenaga apoteker. Jadi hanya 33 Persen saja apotek yang menggunakan Apoteker.

Riauterkini-JAKARTA- Berdasarkan pengaduan pelanggan apotek tentang seringnya terjadi penggantian komposisi obat oleh petugas apotek atau pemberian obat yang melebihi dosis, YLKI pun bergerak. Survei digelar. Riset ini dilakukan terhadap pelayanan kefarmasian di 33 apotek di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan dengan melibatkan 110 responden. Agar hasilnya oke, survei dilakukan selama dua kali yakni periode Juni-September 2005 dan periode Maret-Mei 2006.

Dari hasil survei YLKI menemukan fakta bahwa beberapa apotek menolak memberikan obat keras karena konsumen harus membeli dengan resep. Padahal obat tersebut termasuk dalam daftar obat wajib apotek (DOA), yang memperingan kocek konsumen.

Yang menarik, hasil survei juga menunjukan hanya 33 persen apotek yang memiliki apoteker. 64 Persen apotek hanya mengandalkan petugas apotek, sedangkan 3 persen apotek hanya dilayani tenaga PKL alias magang. Hal ini jelas mempengaruhi kualitas pelayanan apotek.

"Kualitas pelayanan dengan apoteker akan lebih baik dibandingkan tanpa apoteker," kata staf riset YLKI, Ida Marlinda, dalam jumpa pers di Hotel Maharani, Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Selasa (23/5).

YLKI juga menemukan satu apotek yang tidak menyediakan obat generik. "Masih ada petugas apotek yang mengatakan obat generik kerjanya lambat dan tidak semua apotek paham bahwa obat TBC untuk bulan kedua dapat dibeli tanpa resep dokter," beber Ida.

Hasil survei juga menunjukkan, ada 12 apotek yang petugasnya tidak mampu menjelaskan efek samping suatu obat. Petugas itu malah menyarankan pelanggan untuk bertanya kepada dokter.

"Tingkat kejelasan dalam memberi informasi hanya 64 persen, berarti sekitar 36 persen konsumen masih merasa kabur dalam menerima informasi di apotek. Maka tidak heran jika masih ada konsumen yang lari ke toko obat," ungkap Ida.***(Int.Net)



Beri tanggapan | Baca tanggapan

Berita Luar lainnya..........
- Dalam Dua Tahun Indonesia Akan Bayar Hutang Pada IMF
- Bocah Tujuh Tahun Berenang Dari Alcatraz ke San Francisco
- Jaksa Agung Beberkan Kasus Korupsi di DPD
- Bush dan Blair Bicarakan Percepatan Penarikan Pasukan dari Irak
- Capai Pertumbuhan Ekonomi, Pemerintah Perlu Rp 918 Triliun
- 67 % Apotik Tak Gunakan Apoteker
- SBY Tegaskan Tidak Akan Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Australia


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 38.107.191.88
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com