Untitled Document
Sabtu, 27 Safar 1436 H |
Home > Lingkungan >>

Berita Terhangat..
Sabtu, 20 Desember 2014 20:16
Hasil Uji Beban Aman,
Jembatan Siak III Kembali Dibuka Minggu Depan


Sabtu, 20 Desember 2014 18:44
590 Peserta Meriahkan Tapak Tilas HKSN di Bengkalis

Sabtu, 20 Desember 2014 17:54
Tokoh Inovatif dalam Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat,
Walikota Pekanbaru Terima Anugrah Satya Lencana dari Presiden RI


Sabtu, 20 Desember 2014 17:47
Pertamina Dumai Dinilai Mulai Usik Ketenangan Warga Bunga Tanjung

Sabtu, 20 Desember 2014 17:44
Paling Banyak Pakai Produk Toyota, 4 Perusahaan Dapat Reward Platinum

Sabtu, 20 Desember 2014 16:33
‎Bupati Bengkalis Serahkan 1.400 Ha Lahan HTR ke Petani Siakkecil

Sabtu, 20 Desember 2014 15:31
Kerja Sama PWI dan PT CPI,
20 Wartawan Rohil Ikuti Semarak Pers di Dumai




Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Sabtu, 11 Mei 2013 17:58
Vera dan Sri, Dua Pawang Gajah Wanita Pertama di Indonesia

Wanita penjadi pawang gajah? Adalah Vera dan Sri yang menjadi dua wanita pertama di Indonesia yang resmi menjadi mahot alias penjinak gajah.

Riauterkini-PEKANBARU-Hingga kini, di beberapa pusat pelatihan gajah di Indonesia belum ada yang memiliki mahot (pelatih gajah) wanita. Tetapi, untuk pertama kalinya di Indonesia, sejak beberapa bulan terakhir ini Camp Flying Squad Tessonilo memiliki mahot wanita. Yaitu Cut Vera dan Sri Devi. Kedua mahot wanita pertama di Indonesia ini masih tergolong muda. Baru berusia 16-17 tahun.

Sehari-harinya, Cut Vera yang tamatan sekolah kejuruan menengah atas jurusan tata boga dan Sri Devi yang hanya jebolan sekolah menengah pertama ini diberi tugas menjadi mahot gajah muda Tesso dan Nella yang masih berusia 6 tahunan. Mereka melatih gajah-gajah tersebut untuk berinteraksi dengan pengunjung camp. Seperti mengalungkan rangkaian bunga kepada tamu, membawa tamu berkeliling kawasan camp sampai berfoto bersama para tamu.

Gadis mahot asli kelahiran desa Lubuk Kembang Bunga, desa di pinggir batas kawasan Taman Nasional Tessonilo ini, menjadi mahot gajah camp flying squad ini sejalan dengan kebiasaan mereka yang semasa kecil sering keluyuran dalam hutan. "Saya dulu waktu kecil sering main di dalam hutan sama kawan-kawan. Jadi ketika menjadi mahot, sudah terbiasa masuk ke hutan. Tinggal penyesuaian dengan gajahnya saja," terang Cut Vera.

Kendati demikian, penyesuaian dengan gajah yang diasuhnya, Tesso, memakan waktu yang relatif lama. Karena untuk melatih gajah muda terkadang ada kesulitan tersendiri. Menurutnya, gajah muda lebih bandel dan kadang sulit diatur. Untuk itu, tambahnya, perlu penyesuaian agar antara mahot dan gajah asuhannya memiliki cemistri. Sehingga proses melatih dan mengasuhnya lebih cepat.

"Kini setelah kami memiliki cemistri, terkadang kalau Tesso sakit, kita jadi bisa ikut merasakan sakitnya. Demikian sebaliknya, kalau saya yang sakit dan tidak datang melatih, Tesso menurut mahot lainnya juga merasakan sakitnya saya. Hal itu nampak karena Tesso sering nampak gelisah kalau saya sakit dan tidak datang melatih," kata Cut Vera sembari melatih Tesso untuk mengalungkan rangkaian bunga kepada seorang tamu dari ASITA yang datang berkunjung ke camp Flying Squad beberapa waktu lalu.

Sementara, Sri Devi yang hanya jebolan SMP karena ketidak adanya biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi mengaku sangat senang saat dirinya ditawari menjadi mahot di Camp Flying Squad WWF di Tessonilo. Hampis senada dengan Vera, dara kelahiran desa Lubuk Kembang BUnga ini juga sering bermain ke dalam hutan saat masih kecil dulu. "Jadi ketika ditawari menjadi mahot untuk gajah bernama Nella, saya senang sekali dan langsung menyetujui," terangnya.

Kini, kedua mahot wanita pertama di Indonesia ini sudah piawai mengarahkan gajah muda, Tesso dan Nella untuk melakukan berbagai instruksi yang di berikan. Bahkan anak asuhannya yang merupakan hewan terbesar itu kini juga sudah luwes dalam berinteraksi dengan pengunjung TNTN yang berasal dari berbagai belahan dunia.

Humas WWF, Samsidar menyebutkan bahwa untuk membentuk seseorang menjadi mahot tidak mudah. Perlu berbagai pelatihan mengenai kemahotan dan pengenalan sifat gajah dan pola pendekatan terhadap gajah. "Learning by doing lah. Mahot-mahot wanita ini dilatih sembari mempraktekkan langsung pelatihan dari mahot senior kepada gajah-gajah asuhannya," terangnya.

Sebenarnya, tambah Sammy, panggilan akrabnya, sebelum Vera dan Sri, pernah ada 2 mahot wanita di camp flying squad TNTN. Sayangnya, kedua mahot manita itu hanya mampu bertahan sebulan-2 bulan kemudian berhenti. "Nah, 2 mahot terakhir ini, Cut Vera dan Sri Devi adalah mahot yang sudah berbulan-bulan melatih 2 gajah muda milik camp flying squad. Kita ingin kedua mahot wanita ini akan menjadi mahot tetap di camp ini," harapnya.

Menurutnya, gajah-gajah yang diasuh dan dilatih 2 mahot wanita ini bukan saja diajari dalam berinteraksi dengan pengunjung dan turis yang melancong ke TNTN, tetapi juga dilatih untuk menjadi gajah pengusir gajah liar yang masuk ke kawasan pemukiman penduduk.***(H-we)




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 
Sarman Amnan
mudah mudah2 an mahot gajah ini, juga bisa menjinakan nafsu liarnya Rusli zainal. Si gubernur riau yg selalu menggunakan agama untk diperalat mencapai kkeinginanya. Jarang orang tahu bahwa keras keinginannya pelaksanaan ISG DO RIAU!, tujuanna praktis

Sarman Amnan
mudah mudah2 an mahot gajah ini, juga bisa menjinakan nafsu liarnya Rusli zainal. Si gubernur riau yg selalu menggunakan agama untk diperalat mencapai kkeinginanya. Jarang orang tahu bahwa keras keinginannya pelaksanaan ISG DO RIAU!, tujuanna praktis


Berita lainnya..........
- PNS Dilarang ke Kantor Berkendaraan Bermotor,
Wako Pekanbaru Luncurkan Kamis Bersih Tanpa Polusi Alias Kasihpapa

- Jalankan Rekomendasi SAC, RAPP Studi Bentang Alam di Dua Wilayah
- Deteksi Dini Karhutla, Pemkab Meranti Gandeng REDD+
- Warga Tuding Kanal Perusahaan Perkebunan,
Banjir Rendam Puluhan Rumah Dua Desa di Siakkecil, Bengkalis

- Masuk ke Pemukiman,
Belum Ada Warga Rohul Diganggu Beruang Madu

- Kanal Meluap, Rumah dan Sekolah di Bukitbatu, Bengkalis Kebanjiran
- Diguyur Hujan Semalaman,
Desa Muara Tobek, Kuansing Kebanjiran



Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 54.204.94.228
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com