Untitled Document
Sabtu, 28 Ramadhan 1435 H |
Home > Lingkungan >>

Berita Terhangat..
Sabtu, 26 Juli 2014 12:10
Hari Ini, Pemudik Diprediksi Capai 11.434 Penumpang

Sabtu, 26 Juli 2014 12:09
Puncak Arus Mudik,
Penumpang Speedboat Padati Pelabuhan ke Pesisir


Sabtu, 26 Juli 2014 12:06
Pemrov Riau Serahkan KUA-PPAS RAPBD Perubahan

Sabtu, 26 Juli 2014 11:45
Satelit Terra-Aqua Temukan 205 Titik Panas di Riau

Jum’at, 25 Juli 2014 21:34
Kebakaran Ludeskan 98 Hektar Kebun Kelapa Sawit di Buluh Nipis, Kampar

Jum’at, 25 Juli 2014 21:32
Jelang Lebaran, Stok Daging di Rohul Aman

Jum’at, 25 Juli 2014 21:30
Disediakan Sanksi Berat bagi PNS Rohul Perpanjang Cuti Lebaran



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Sabtu, 11 Mei 2013 17:58
Vera dan Sri, Dua Pawang Gajah Wanita Pertama di Indonesia

Wanita penjadi pawang gajah? Adalah Vera dan Sri yang menjadi dua wanita pertama di Indonesia yang resmi menjadi mahot alias penjinak gajah.

Riauterkini-PEKANBARU-Hingga kini, di beberapa pusat pelatihan gajah di Indonesia belum ada yang memiliki mahot (pelatih gajah) wanita. Tetapi, untuk pertama kalinya di Indonesia, sejak beberapa bulan terakhir ini Camp Flying Squad Tessonilo memiliki mahot wanita. Yaitu Cut Vera dan Sri Devi. Kedua mahot wanita pertama di Indonesia ini masih tergolong muda. Baru berusia 16-17 tahun.

Sehari-harinya, Cut Vera yang tamatan sekolah kejuruan menengah atas jurusan tata boga dan Sri Devi yang hanya jebolan sekolah menengah pertama ini diberi tugas menjadi mahot gajah muda Tesso dan Nella yang masih berusia 6 tahunan. Mereka melatih gajah-gajah tersebut untuk berinteraksi dengan pengunjung camp. Seperti mengalungkan rangkaian bunga kepada tamu, membawa tamu berkeliling kawasan camp sampai berfoto bersama para tamu.

Gadis mahot asli kelahiran desa Lubuk Kembang Bunga, desa di pinggir batas kawasan Taman Nasional Tessonilo ini, menjadi mahot gajah camp flying squad ini sejalan dengan kebiasaan mereka yang semasa kecil sering keluyuran dalam hutan. "Saya dulu waktu kecil sering main di dalam hutan sama kawan-kawan. Jadi ketika menjadi mahot, sudah terbiasa masuk ke hutan. Tinggal penyesuaian dengan gajahnya saja," terang Cut Vera.

Kendati demikian, penyesuaian dengan gajah yang diasuhnya, Tesso, memakan waktu yang relatif lama. Karena untuk melatih gajah muda terkadang ada kesulitan tersendiri. Menurutnya, gajah muda lebih bandel dan kadang sulit diatur. Untuk itu, tambahnya, perlu penyesuaian agar antara mahot dan gajah asuhannya memiliki cemistri. Sehingga proses melatih dan mengasuhnya lebih cepat.

"Kini setelah kami memiliki cemistri, terkadang kalau Tesso sakit, kita jadi bisa ikut merasakan sakitnya. Demikian sebaliknya, kalau saya yang sakit dan tidak datang melatih, Tesso menurut mahot lainnya juga merasakan sakitnya saya. Hal itu nampak karena Tesso sering nampak gelisah kalau saya sakit dan tidak datang melatih," kata Cut Vera sembari melatih Tesso untuk mengalungkan rangkaian bunga kepada seorang tamu dari ASITA yang datang berkunjung ke camp Flying Squad beberapa waktu lalu.

Sementara, Sri Devi yang hanya jebolan SMP karena ketidak adanya biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi mengaku sangat senang saat dirinya ditawari menjadi mahot di Camp Flying Squad WWF di Tessonilo. Hampis senada dengan Vera, dara kelahiran desa Lubuk Kembang BUnga ini juga sering bermain ke dalam hutan saat masih kecil dulu. "Jadi ketika ditawari menjadi mahot untuk gajah bernama Nella, saya senang sekali dan langsung menyetujui," terangnya.

Kini, kedua mahot wanita pertama di Indonesia ini sudah piawai mengarahkan gajah muda, Tesso dan Nella untuk melakukan berbagai instruksi yang di berikan. Bahkan anak asuhannya yang merupakan hewan terbesar itu kini juga sudah luwes dalam berinteraksi dengan pengunjung TNTN yang berasal dari berbagai belahan dunia.

Humas WWF, Samsidar menyebutkan bahwa untuk membentuk seseorang menjadi mahot tidak mudah. Perlu berbagai pelatihan mengenai kemahotan dan pengenalan sifat gajah dan pola pendekatan terhadap gajah. "Learning by doing lah. Mahot-mahot wanita ini dilatih sembari mempraktekkan langsung pelatihan dari mahot senior kepada gajah-gajah asuhannya," terangnya.

Sebenarnya, tambah Sammy, panggilan akrabnya, sebelum Vera dan Sri, pernah ada 2 mahot wanita di camp flying squad TNTN. Sayangnya, kedua mahot manita itu hanya mampu bertahan sebulan-2 bulan kemudian berhenti. "Nah, 2 mahot terakhir ini, Cut Vera dan Sri Devi adalah mahot yang sudah berbulan-bulan melatih 2 gajah muda milik camp flying squad. Kita ingin kedua mahot wanita ini akan menjadi mahot tetap di camp ini," harapnya.

Menurutnya, gajah-gajah yang diasuh dan dilatih 2 mahot wanita ini bukan saja diajari dalam berinteraksi dengan pengunjung dan turis yang melancong ke TNTN, tetapi juga dilatih untuk menjadi gajah pengusir gajah liar yang masuk ke kawasan pemukiman penduduk.***(H-we)




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 
Sarman Amnan
mudah mudah2 an mahot gajah ini, juga bisa menjinakan nafsu liarnya Rusli zainal. Si gubernur riau yg selalu menggunakan agama untk diperalat mencapai kkeinginanya. Jarang orang tahu bahwa keras keinginannya pelaksanaan ISG DO RIAU!, tujuanna praktis

Sarman Amnan
mudah mudah2 an mahot gajah ini, juga bisa menjinakan nafsu liarnya Rusli zainal. Si gubernur riau yg selalu menggunakan agama untk diperalat mencapai kkeinginanya. Jarang orang tahu bahwa keras keinginannya pelaksanaan ISG DO RIAU!, tujuanna praktis


Berita lainnya..........
- Satelit Terra-Aqua Temukan 205 Titik Panas di Riau
- Kebakaran Ludeskan 98 Hektar Kebun Kelapa Sawit di Buluh Nipis, Kampar
- Dumai Diselumuti Asap, Jumlah Titik Panas di Riau Capai 148
- Asap Mulai Menyengat di Nafas Warga Pekanbaru
- Atasi Karhutla, Harus dengan Penegakan Hukum Tegas
- Hadapi Kemarau, RAPP Bentuk Tim FERT
- Terra-Aqua Pantau 160 Titik Panas di Riau


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 54.226.180.223
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com