Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Sabtu, 26 Mei 2018 01:24
Genangi Lahan dan Perkebunan Warga,
Kembali, Pipa Minyak Chevron di Duri Meledak


Jum’at, 25 Mei 2018 22:58
Dinkes Pastikan Seluruh Apotek di Bengkalis Dibina Berkala

Jum’at, 25 Mei 2018 22:54
Lanal Dumai Amankan Kapal Angkut 700 Ballpres Ilegal Asal Malaysia

Jum’at, 25 Mei 2018 22:49
Dua Nama Toke Besar di Sei Pakning Disebut-sebut pada Sidang Kasus Trenggiling

Jum’at, 25 Mei 2018 22:44
Hasil UN SMP Pelalawan Duduki Peringkat 8 Riau

Jum’at, 25 Mei 2018 21:42
Pertama di Sumatera, DIRE Ciptadana Wadahi Masyarakat Berinvestasi Aset Mal SKA

Jum’at, 25 Mei 2018 21:35
Kampanye Dialogis di Kecamatan Kempas,
Wardan: Program DMIJ Plus Bagi Akselerasi Pembangunan di Kelurahan


Jum’at, 25 Mei 2018 21:04
Cagubri Syamsuar Kunjungi Kuansing,
Warga Sungai Soriak Berharap Keberhasilan Siak Bisa Ditularkan ke Kampung Mereka


Jum’at, 25 Mei 2018 20:45
Ikut Berpartisipasi Semarakkan Ramadhan, PSMTI Bagikan 500 Takjil Gratis kepada Masyarakat

Jum’at, 25 Mei 2018 20:26
Berkeliaran di Bulan Ramadan, Komisi I DPRD Riau Minta Satpol PPTertibkan Gepeng


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Sabtu, 16 Maret 2013 07:48
Bukan LSM Asing, WWF Bantah Gagal Lindungi TNTN

WWF membantah tudingan merupakan LSM asing. NGO tersebut juga mengklaim cukup berhasil menghambat perambahan hutan di Tanam Nasional Tesso Nilo.

Riauterkini-JAKARTA- World Wildlife Fund (WWF) Indonesia membantah tuduhan sebagai penyebab kerusakan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Pelalawan, Riau. WWF Indonesia bukan sebagai pengelola TNTNT sebab TNTN berada dalam kewenangan Kementrian Kehutanan, khususnya Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi alam dan pengelolaannya di lapangan berada di Balai Taman Nasional.

WWF Indonesia bekerja di kawasan tersebut dalam konteks mendukung Kemenhut dalam upaya melindungi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan di kawasan itu," sebut Direktur Konservasi WWF Indonesia Nazir Foead di Jakarta, Jumat (15/3).

Berdasarkan analisis Bank Dunia, kecepatan perambahan di Taman Nasional Tesso Nilo, hutan akan terbabat habis pada tahun 2007. Tapi, berkat upaya dari Kemenhut, mitra LSM, dan forum masyarakat setempat. Sampai saat ini masih ada sekitar 37 ribu hektar hutan yang bisa dipertahankan di dalam TNTN.

Nazir menegaskan TNTN terancam oleh perambahan hutan untuk dijadikan kebun sawit. Hasil analisis citra satelit tahun 2012, telah menunjukkan dari total kawasan Taman Nasional seluas 83.068 ha, sekitar 46.000 ha (atau 56 persen telah dirambah atau telah berubah fungsi menjadi kebun kelapa sawit, karet dan lainnya.

Upaya penegakan hukum merupakan salah satu langkah penting dalam penanganan perambahan, khususnya yang melibatkan pelaku bermodal besar, ujanya.

Nazir juga menyebutkan, perambahan hutan itu mempersempit daya jelajah gajah dan menyebabkan konflik. Salah satu kontribusi WWF Indonesia dalam upaya mitigasi penanganan konflik manusia-gajah, WWF bersama dengan BKSDA Riau dan Balai Taman Nasional Tasso Nilo adalah mengoperasikan Flying Squad di Taman Nasional tersebut Sejak April 2004.

Flying Squad terdiri dari empat ekor gajah terlatih dan delapan orang pawang perawatnya. Tim ini melakukan pengusiran dan penggiringan gajah liar kembali ke habitatnya hingga kerugian masyarakat akibat serangan gajah liar dapat diminimalkan. Sejak dioperasikannya tim ini hingga 2010, tingkat kerugian masyarakat dapat ditekan hingga 75 persen.

Lebih jauh Nazir mengatakan, WWF Indonesia juga membantu masyarakat dalam peningkatan ekonomi melalui koperasi Petani Madu Hutan Sialang dan pendampingan kepada petani swadaya kebun sawit yang mencakup 349 kepala keluarga di Kecamatan Ukui yang berada kawasan penyangga TNTN.

WWF Indonesia juga membantah tudingan bahwa LSM tersebut adalah LSM asing yang sarat dengan kepentingan. WWF bukanlah LSM Asing. WWF Indonesia adalah organisasi konservasi nasional yang independen dan diakui oleh Hukum Indonesia, dengan bentuk badan hukum yayasan, kata Nazir.***(jor)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 
nasionalis
mudah2 kita jangan jadi pecundang asing...!!!! baik, jelek Lndonesia adalah bangsa kita sendiri...mari kita slogan kan NKRI harga mati

UNTUK KAWAN WWF
WWF INDONESIA, GREENPEACE INDONESIA, GREENOMIC INDONESIA DLL SUDAH JELAS NAMA INDONESIA SAJA YANG KALIAN PAKAI, DEPANNYA NAMA ASING YANG KALIAN PAKAI, KALAU KALIAN PAKAI NAMA INDONESIA DAPAT DANA SEPALET ENET AJA, KALAU BUKAN LSM ASING PAKAI AJA NAMA

Kawan wwf
Yg komentar kalau bagak kau jadi Gubernur ye, atau jd presiden, kl tak jadi Caleg lah. Buto mato kau, sudah 3 Bupati, 2 kepala Dinas Kehutanan di Riau korupsi masuk penjaro, sebentar lagi Gubernur Suli masuk penjaro krno korupsi kehutanan. Bukak mato

Pakar LSM
WWF sejatinya LSM ASing, bekerja di Indonesia mengumpulkan data yang kemudian DIJUAL ke Luarnegeri. Pada Sidang2 PBB di bidang Lingkungan, WWF Indonesia selalu menjelek jelekan Indonesia yang merupakan tanah kelahirannya. semisalnya mereka menggauli

Pakar LSM
WWF sejatinya LSM ASing, bekerja di Indonesia mengumpulkan data yang kemudian DIJUAL ke Luarnegeri. Pada Sidang2 PBB di bidang Lingkungan, WWF Indonesia selalu menjelek jelekan Indonesia yang merupakan tanah kelahirannya. semisalnya mereka menggauli

Pakar LSM
WWF sejatinya LSM ASing, bekerja di Indonesia mengumpulkan data yang kemudian DIJUAL ke Luarnegeri. Pada Sidang2 PBB di bidang Lingkungan, WWF Indonesia selalu menjelek jelekan Indonesia yang merupakan tanah kelahirannya. semisalnya mereka menggauli

Pakar LSM
WWF sejatinya LSM ASing, bekerja di Indonesia mengumpulkan data yang kemudian DIJUAL ke Luarnegeri. Pada Sidang2 PBB di bidang Lingkungan, WWF Indonesia selalu menjelek jelekan Indonesia yang merupakan tanah kelahirannya. semisalnya mereka menggauli

Pakar LSM
WWF sejatinya LSM ASing, bekerja di Indonesia mengumpulkan data yang kemudian DIJUAL ke Luarnegeri. Pada Sidang2 PBB di bidang Lingkungan, WWF Indonesia selalu menjelek jelekan Indonesia yang merupakan tanah kelahirannya. semisalnya mereka menggauli

Pakar LSM
WWF sejatinya LSM ASing, bekerja di Indonesia mengumpulkan data yang kemudian DIJUAL ke Luarnegeri. Pada Sidang2 PBB di bidang Lingkungan, WWF Indonesia selalu menjelek jelekan Indonesia yang merupakan tanah kelahirannya. semisalnya mereka menggauli


loading...

Berita lainnya..........
- Genangi Lahan dan Perkebunan Warga,
Kembali, Pipa Minyak Chevron di Duri Meledak

- BBPOM Pekanbaru Uji Puluhan Produk Makanan di Bengkalis
- Pagi Ini Hotspot Nihil, Sudah 1.868,96 Hektar Luasan Lahan Terbakar di Riau
- Kerjasama Pihak Ketiga, Dishub Pekanbaru Miliki 100 Separator
- Produksi Sampah di Kota Pekanbaru Lampau 500 Ton Sehari
- BRG Beri Dai 3 Provinsi Pelatihan Restorasi Gambut
- APP dan UNAS Jakarta Teliti Cagar Biosfer GSKBB Bengkalis


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com