Untitled Document
Kamis, 11 Sya'ban 1434 H |
Home > Lingkungan >>

Berita Terhangat..
Rabu, 19 Juni 2013 20:51
Proton Preve Hadir di Pekanbaru

Rabu, 19 Juni 2013 20:41
Eksekusi Lahan di Dumai Berlangsung Ricuh

Rabu, 19 Juni 2013 20:36
Chaidir Mundur, Pengurus PD Riau Merasa Kehilangan

Rabu, 19 Juni 2013 20:32
Polisi Tangkap 5 Perampok Dumtruk di Tapung Hilir

Rabu, 19 Juni 2013 20:19
Bupati Kampar Lantik Kades Sei Simpang Dua

Rabu, 19 Juni 2013 20:05
Hari Ini, BMKG Pekanbaru Catat Ada 142 Titik Api

Rabu, 19 Juni 2013 20:04
Polisi Temukan Titik Penimbunan BBM di Pekanbaru



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Ahad, 13 Mei 2012 16:10
Sudah Gundul,
Bukit Barisan di Palas Rohul Terus Dijarah


Aktivis perambahan dan illegal logging di Bukit Barisan kawasan Palas Rohul terus berlangsung. Padahal hutan lindung tersebut sudah gundul.

Riauterkini-BANGUNPURBA- Raungan mesin pemotong kayu masih terdengar di kawasan Bukit Barisan antara Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau dengan Kabupaten Padang Lawas (Palas) Sumatera Utara (Sumut). Tingginya aksi perambahan hutan disertai tebang pilih kayu, masih terus terjadi dan mengancam penggundulan hutan, namun tanpa tindakan tegas aparat.

Penelusuran sehari riauterkini.com melalui hulu Sungai Batang Lubuh, Selasa (8/5/12) lalu, bersama sejumlah rekan wartawan dan masyarakat, kawasan Bukit Barisan sudah sangat mengkhawatirkan. Dari kejauhan bisa dilihat, kondisi hutan yang gundul dan menghitam, akibat perambahan hutan, dan penumbangan pohon hutan, disertai aksi pembakaran hutan.

Tidak sedikit kawasan telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit masyarakat. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah kawasan di kaki Bukit Barisan yang hijau, kini terlihat seperti hamparan padang padang kayu dari kejauhan, dari atas perahu motor yang kami tumpangi.

Menuju ke hulu Sungai Batang Lubuh yang berkelok. Beberapa kawasan di Palas Sumut juga terlihat sama. Pohon masih berdiri terlihat menghitam di atas bukit. Di sekitarnya, pohon mati suri kecoklatan tak berdaun.

Raungan mesin pemotong kayu (shinsaw) bersahut-sahutan mengalahkan suara dua mesin perahu motor biru yang kami tumpangi menyusuri hulu Sungai Batang Lubuh. Walau raungan terdengar jelas, namun tidak satu pun terlihat ada aktifitas manusia di tengah belantara yang dilindungi Negara.

Tak jauh dari sekelompok penambang emas, kami juga saksikan lebih dekat kawasan hutan di Kaki Bukit Barisan yang memprihatinkan. Tidak ada jalan setapak yang bisa dilalui. Sepanjang hamparan, kayu lapuk akibat perubahan musim, sisa-sisa sisa aksi ilegal logging sengaja ditinggalkan para pelaku berserakan di antara semak belukar.

Bosan memandang kawasan yang kini telah menjadi padang kayu lapuk, kami memutuskan pulang. Sepanjang jalan, pemandangan serupa masih terlihat. Selasa sore kemarin, ketika mentari mulai kembali ke peraduan di upuk barat, beberapa kalinya terlihat sejumlah pria berotot, duduk manis diatas kayu yang telah diolah di tengah sungai.

Sekilas mereka seperti duduk diatas batu di tengah sungai. tapi dari kedekatan, ternyata mereka duduk diatas kayu olahan yang sengaja diikat rapi, sebagai rakit dan membawa ke hilir Sungai Batang Lubuh. Seperti orang ketakutan, mereka menoleh sinis ketika perahu motor yang kami tumpangi melaju tak jauh dari rakit kayu hutan olahan di tengah sungai.

Kondisi gundulnya kawasan hutan kaki Bukit Barisan juga telah terjadi di kawasan obyek wisata air terjun Aek Martua Bangunpurba. Kondisi itu masih terus berjalan tidak terkendali, terkesan dibiarkan.

Sebelumnya, sejumlah warga Kecamatan Bangunpurba sendiri mengaku rusaknya jembatan gantung yang memisahkan antara Dusun III Huta Padang dengan Dusun II Huta Lolot Sei Perak, Desa Bangunpurba, disebabkan adanya pelangsiran kayu hutan hasil aksi ilegal logging di Hutan Terbatas Produksi (HPT) kawasan Aek Martua menggunakan becak motor.

Aksi tebang pilih sudah berlangsung puluhan tahun tanpa tindakan tegas dari aparat terkait. Para pelaku menggunakan becak motor ketika melangsir kayu dari hutan Negara katanya hanya modus. Tapi hal itu mampu mengecoh para penegak hukum kita, pasalnya di belakang layar, aksi masih diperankan pemain lama yang belum sekali pun merasakan dinginnya lantai tahanan.

Sikap diam aparat hukum berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat di hilir Sungai Batang Lubuh. Sejumlah perkampungan di Rohul selalu digenangi banjir saat intensitas curah hujan tinggi. Sama halnya kediaman Bupati Rohul Achmad di Dusun Nogori, Desa Babussalam, Kecamatan Rambah. Saat curah hujan tinggi, warga terpaksa menjinjing celana dan rok menyelamatkan harta benda.

Hal sama turut dirasakan warga Kampung Cibadak Desa Rambah Tengah Barat dan Dusun Pawan Desa Rambah Tengah Hulu, Kecamatan Rambah, 17 November 2010 lalu. Minimnya hutan serapan di kawasan Kaki Bukit Barisan, sejumlah perkampungan di dua desa itu dihantam banjir bandang disertai hanyutnya material kayu sisa aksi ilegal logging.

Selain kayu potongan dan kayu olahan menumpuk di jembatan pawan kala itu, di Dusun Cibadak, kayu ilog juga menghantam dan merobohkan sejumlah rumah warga setempat.

Peristiwa naas tiga tahun lalu menurut warga merupakan peristiwa terburuk sepanjang sejarah, sebab para pedagang Pasar Tugu saat itu juga mengaku mengalami kerugian sampai ratusan juta rupiah, sebab ratusan kios terendam dan barang dagangan tidak sempat diselamatkan.***(zal)




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 
Polsek rambah dapat Setoran
Saya warga pawan yang setiap hari mengangkut kayu ke panglong yang berada di sekitaran pasir Putih pasirpangaraiyan, mengunakan becor alias becak Motor. kata toke aman, dak usah takut di tangkap. Alasanya udah setor sama Kapolsek rambah, kasatreskrim, dalmas dan Polres Rohul. makanya kami mau. Mereka hanya menangkap kayu yang dimuat di Truk, karna ketika tertangkap dan dfi BAP reskrim, pasal bisa dimainkan jadi lebih banyak duitnya. Seyerti yang selama ini dilakukan, di Polres banyak tangkapan kayu, tapi itu hanya dari Kecamatan Bonai aja.hahahaahahaahah...mampuslah kalian.....

Aparat mandul
Ini buktinya aparat hukum terkait mandul. Diduga para oknum menerima suap.


Berita lainnya..........
- Hari Ini, BMKG Pekanbaru Catat Ada 142 Titik Api
- Dua Kecamatan di Pekanbaru Rawan Kebakaran
- Pemko Diminta Proaktif Antisipasi Bahaya Kabut Asap
- Asap Kian Pekat, Sekolah di Bengkalis Diliburkan
- Kebun Kelapa Sawit Warga Siak Terbakar
- Asap, Jarak Pandang di Siak Sangat Terbatas
- Kabut Asap, Pertamina Bagikan 6 Ribu Masker Gratis di Dumai


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 107.20.7.65
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com