|
|
|
Ahad, 13 Mei 2012 16:10 Sudah Gundul, Bukit Barisan di Palas Rohul Terus Dijarah
Aktivis perambahan dan illegal logging di Bukit Barisan kawasan Palas Rohul terus berlangsung. Padahal hutan lindung tersebut sudah gundul.
Riauterkini-BANGUNPURBA- Raungan mesin pemotong kayu masih terdengar di
kawasan Bukit Barisan antara Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau dengan
Kabupaten Padang Lawas (Palas) Sumatera Utara (Sumut). Tingginya aksi
perambahan hutan disertai tebang pilih kayu, masih terus terjadi dan
mengancam penggundulan hutan, namun tanpa tindakan tegas aparat.
Penelusuran sehari riauterkini.com melalui hulu Sungai Batang Lubuh, Selasa
(8/5/12) lalu, bersama sejumlah rekan wartawan dan masyarakat, kawasan
Bukit Barisan sudah sangat mengkhawatirkan. Dari kejauhan bisa dilihat,
kondisi hutan yang gundul dan menghitam, akibat perambahan hutan, dan
penumbangan pohon hutan, disertai aksi pembakaran hutan.
Tidak sedikit kawasan telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit
masyarakat. Kondisi tersebut menyebabkan sejumlah kawasan di kaki Bukit
Barisan yang hijau, kini terlihat seperti hamparan padang padang kayu dari
kejauhan, dari atas perahu motor yang kami tumpangi.
Menuju ke hulu Sungai Batang Lubuh yang berkelok. Beberapa kawasan di Palas
Sumut juga terlihat sama. Pohon masih berdiri terlihat menghitam di atas
bukit. Di sekitarnya, pohon mati suri kecoklatan tak berdaun.
Raungan mesin pemotong kayu (shinsaw) bersahut-sahutan mengalahkan suara
dua mesin perahu motor biru yang kami tumpangi menyusuri hulu Sungai Batang
Lubuh. Walau raungan terdengar jelas, namun tidak satu pun terlihat ada
aktifitas manusia di tengah belantara yang dilindungi Negara.
Tak jauh dari sekelompok penambang emas, kami juga saksikan lebih dekat
kawasan hutan di Kaki Bukit Barisan yang memprihatinkan. Tidak ada jalan
setapak yang bisa dilalui. Sepanjang hamparan, kayu lapuk akibat perubahan
musim, sisa-sisa sisa aksi ilegal logging sengaja ditinggalkan para pelaku
berserakan di antara semak belukar.
Bosan memandang kawasan yang kini telah menjadi padang kayu lapuk, kami
memutuskan pulang. Sepanjang jalan, pemandangan serupa masih terlihat.
Selasa sore kemarin, ketika mentari mulai kembali ke peraduan di upuk
barat, beberapa kalinya terlihat sejumlah pria berotot, duduk manis diatas
kayu yang telah diolah di tengah sungai.
Sekilas mereka seperti duduk diatas batu di tengah sungai. tapi dari
kedekatan, ternyata mereka duduk diatas kayu olahan yang sengaja diikat
rapi, sebagai rakit dan membawa ke hilir Sungai Batang Lubuh. Seperti orang
ketakutan, mereka menoleh sinis ketika perahu motor yang kami tumpangi
melaju tak jauh dari rakit kayu hutan olahan di tengah sungai.
Kondisi gundulnya kawasan hutan kaki Bukit Barisan juga telah terjadi di
kawasan obyek wisata air terjun Aek Martua Bangunpurba. Kondisi itu masih
terus berjalan tidak terkendali, terkesan dibiarkan.
Sebelumnya, sejumlah warga Kecamatan Bangunpurba sendiri mengaku rusaknya
jembatan gantung yang memisahkan antara Dusun III Huta Padang dengan Dusun
II Huta Lolot Sei Perak, Desa Bangunpurba, disebabkan adanya pelangsiran
kayu hutan hasil aksi ilegal logging di Hutan Terbatas Produksi (HPT)
kawasan Aek Martua menggunakan becak motor.
Aksi tebang pilih sudah berlangsung puluhan tahun tanpa tindakan tegas dari
aparat terkait. Para pelaku menggunakan becak motor ketika melangsir kayu
dari hutan Negara katanya hanya modus. Tapi hal itu mampu mengecoh para
penegak hukum kita, pasalnya di belakang layar, aksi masih diperankan
pemain lama yang belum sekali pun merasakan dinginnya lantai tahanan.
Sikap diam aparat hukum berdampak buruk bagi kehidupan masyarakat di hilir
Sungai Batang Lubuh. Sejumlah perkampungan di Rohul selalu digenangi banjir
saat intensitas curah hujan tinggi. Sama halnya kediaman Bupati Rohul
Achmad di Dusun Nogori, Desa Babussalam, Kecamatan Rambah. Saat curah hujan
tinggi, warga terpaksa menjinjing celana dan rok menyelamatkan harta benda.
Hal sama turut dirasakan warga Kampung Cibadak Desa Rambah Tengah Barat dan
Dusun Pawan Desa Rambah Tengah Hulu, Kecamatan Rambah, 17 November 2010
lalu. Minimnya hutan serapan di kawasan Kaki Bukit Barisan, sejumlah
perkampungan di dua desa itu dihantam banjir bandang disertai hanyutnya
material kayu sisa aksi ilegal logging.
Selain kayu potongan dan kayu olahan menumpuk di jembatan pawan kala itu,
di Dusun Cibadak, kayu ilog juga menghantam dan merobohkan sejumlah rumah
warga setempat.
Peristiwa naas tiga tahun lalu menurut warga merupakan peristiwa terburuk
sepanjang sejarah, sebab para pedagang Pasar Tugu saat itu juga mengaku
mengalami kerugian sampai ratusan juta rupiah, sebab ratusan kios terendam
dan barang dagangan tidak sempat diselamatkan.***(zal)
Beri
tanggapan | Baca
tanggapan |
| |
Polsek rambah dapat Setoran Saya warga pawan yang setiap hari mengangkut kayu ke panglong yang berada di sekitaran pasir Putih pasirpangaraiyan, mengunakan becor alias becak Motor. kata toke aman, dak usah takut di tangkap. Alasanya udah setor sama Kapolsek rambah, kasatreskrim, dalmas dan Polres Rohul. makanya kami mau. Mereka hanya menangkap kayu yang dimuat di Truk, karna ketika tertangkap dan dfi BAP reskrim, pasal bisa dimainkan jadi lebih banyak duitnya. Seyerti yang selama ini dilakukan, di Polres banyak tangkapan kayu, tapi itu hanya dari Kecamatan Bonai aja.hahahaahahaahah...mampuslah kalian.....
Aparat mandul Ini buktinya aparat hukum terkait mandul. Diduga para oknum menerima suap.
|
|