Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Jum’at, 22 Maret 2019 21:50
‎Buka MTQ XIX Kecamatan Rambah, Sekda Rohul Mengajak Masyarakat Bumikan Alqur'an

Jum’at, 22 Maret 2019 19:05
Program 100 Hari Kerja, Bupati Inhil Hadiri Pembukaan Operasi Katarak Gratis di RSUD Puri Husada

Jum’at, 22 Maret 2019 18:27
Gubri Resmikan Masjid Al Anshor, Wakaf Mantan Bupati Siak Arwis AS

Jum’at, 22 Maret 2019 17:35
Bengkalis Komit Tingkatkan Kapabilitas dan Kapasitas APIP

Jum’at, 22 Maret 2019 17:33
Air Pasang, PKL Batu Enam Rohil Kocar-kacir Selamatkan Dagangan

Jum’at, 22 Maret 2019 17:21
Baru Pemprov dan Lima Kabupaten yang Serahkan LKPD ke BPK Riau

Jum’at, 22 Maret 2019 17:18
Sedang Ukur Tanah, Warga Panam Dikejar Pakai Parang

Jum’at, 22 Maret 2019 16:35
Chevron Sigap Bantu Kebakaran Lahan di Tanah Putih Tanjung Melawan Rohil

Jum’at, 22 Maret 2019 16:29
Amankan Pemilu 2019 di Riau, TNI-Polri Terjunkan 10.650 Personel

Jum’at, 22 Maret 2019 16:17
Tampil Agresif dan Sporty, Suzuki All New Ertiga Sport Dipamerkan di Mal SKA Pekanbaru


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Jum’at, 3 September 2010 17:03
Bupati Bengkalis Keluarkan Peraturan Suaka Ikan Terubuk

Bagi Kabupaten Bengkalis, ikan terubuk adalah simbol daerah. Sayangnya ikan ini terancam punah. Untuk melindunginya, Bupati Herliyan Saleh mengeluarkan peraturan suakan untuk ikan terubuk.

Riauterkini-BENGKALIS– Pemerintah kabupaten (Pemkab) mengeluarkan Peraturan Bupati tentang Kawasan Suaka Ikan Terubuk. Perbup Nomor 15 Tahun 2010 tertanggal 20 Juli 2010. Merupakan regulasi awal sebagai upaya untuk melindungi ikan terubuk sebagai ikon kebanggaan bagi daerah ini dari kepunahan.

"Diantaranya membuat suatu kawasan suaka terubuk dan ini yang telah kita lakukan. Kedepannya mungkin diperkuat dengan Perda Perlindungan Terubuk," ujar Kadis Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bengkalis, Herman Mahmud kepada wartawan, Jumat (3/9/10) di Bengkalis.

Salah satu poin penting dari Perbup Kawasan Suaka tersebut adalah pengaturan tentang jadwal pelarangan ikan terubuk. Secara empiris, menurut Herman, ikan terubuk bertelur di daerah estuary (air payau) pada bulan Agustus, September dan Oktober. Selanjutnya, pada bulan-bulan tersebut hanya tiga hari ikan terubuk bertelur yaitu, jadi selama tiga hari pada bulan-bulan tersebut diharapkan nelayan tidak menangkap ikan terubuk.

"Ini merupakan hasil penelitian dari CSIRO bekerja sama dengan UNRI. Masyarakat nelayan pun pada umumnya sudah tahu. Tinggal lagi ada tidak niat tulus dari para nelayan untuk melestarikan ikan terubuk," ungkapnya.

Tidak tertutup kemungkinan, penerapan Perbup ini sambung Heman akan mendapat tantangan dari masyarakat nelayan karena terkesan mengurangi hasil tangkapan mereka dan berdampak kepada berkurangnya pendapatan. Namun, masyarakat nelayan juga harus menyadari bahwa keluarnya Perbup ini semata-mata untuk menjamin keberlangsungan populasi ikan terubuk.

"Bayangkan dengan mengurangi penangkapan ikan terubuk hanya tiga hari, tapi kedepannya memberikan manfaat yang sangat besar yaitu keberlangsungan populasi ikan terubuk akan tetap terpelihara," ujarnya.

Dikatakan, penerapan Perbup kawasan suaka ini memang harus disinergikan dengan kabupaten-kabupaten lain yang menjadi habitat ekosistem ikan Terubuk. Mengingat daerah spawning ikan-ikan terubuk ini berada di sekitar pulau Padang, Sei Pakning dan muara DAS Siak. Sedangkan daerah nursery ground larva ikan terubuk berada di Sungai Siak. "Untuk itu kita akan upayakan hal ini bisa difasilitasi oleh Pemerintah Propinsi Riau," katanya lagi.

Sementara itu, upaya penyelamatan ikan terubuk melalui usaha pebenihan ini tidak perlu melakukan kegiatan-kegiatan panjang lagi. Namun tinggal mengadopsi teknologi yang sudah dilakukan negeri jiran Malaysia, tepatnya di Serawak dalam menyelamatkan ikan terubuk ini. Salah satu metode yang dilakukan negeri jiran itu, kata Herman, dengan melakukan pemijahan tengah lautan. Kemudian larvanya dibawa kembali di tempat budi daya ikan.

"Masyarakat kabupaten Bengkalis harus menyelamatkan ikan terubuk. Karena selain mempunyai nilai ekonomis, keberadaan ikan terubuk mempunyai nilai historis. Kalau kita berhasil menyelamatkan terubuk, berarti kita menyelamatkan ikon Bengkalis. Jangan sampai anak cucu kita hanya bisa melihat terubuk di lambang kabupaten Bengkalis saja," katanya sembari menambahkan bahwa keberadaan ikan terubuk di dunia ini hanya ditemuai di lima negara, diantaranya teluk Bangladesh, laut Arab, Serawak Malaysia, China dan Bengkalis (Indonesia).

Menyusutnya populasi ikan terubuk di perairan Bengkalis, antara lain karena kebiasaan nelayan yang menangkap ikan terubuk saat bertelur, kemudian faktor pencemaran lingkungan dan menyusutnya kawasan hutan bakau di daerah ini, serta meningkatnya jumlah nelayan.***(dik)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 
Atan Sempot
Ikan terubuk memang sudah sangat langka. Para nelayan di pulau Bengkalis sendiri pasti sangat menyadari hal itu. Saya pernah mengajukan pertanyaan kepada beberapa nelayan seperti yang menggunakan jaring, pukat, gumbang, ambai, pengereh dll. Semakin h

zulsusyanto,
terima kasih atas info yang sangat bermanfaat ini. tapi maaf sebelumnya, saya sebagai masyarakat bengkalis sengat prihatin dengan keberadaan ikan terubuk di periran kita. kita tidak boleh menyalah masyarakat yang sangat minim dengan pengetahuan tent


Berita lainnya..........
- Air Pasang, PKL Batu Enam Rohil Kocar-kacir Selamatkan Dagangan
- Chevron Sigap Bantu Kebakaran Lahan di Tanah Putih Tanjung Melawan Rohil
- Musim Kemarau, PDAM TD Duri Kekurangan Pasokan Air Baku
- Diguyur Hujan, Karhutla di Bengkalis Nyaris Padam Total
- Titik Api Kembali Muncul, Dewan Nilai Pemprov Riau Sedang 'Terlena'
- Peringati HPSN DLH,
Bupati Kuansing Serta Seluruh OPD Komitmen Gunakan Pemakaian Tombler

- Korban Sampan Terbalik Belum Ditemukan, Tim Sar Gabungan Lakukan Pencarian


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com