Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Rabu, 26 Juni 2019 15:06
5 Bulan Lalu Lintas Warga Asing ke Bengkalis 1.537 Orang

Rabu, 26 Juni 2019 14:49
Polres Kuansing Bagikan Bantuan ke Panti Asuhan dalam Rangka HUT Bhyangkara

Rabu, 26 Juni 2019 14:28
‎Kembali Gulirkan Program Desa Bebas Api, PT RAPP Bertekad 'Zonk-kan' Karhutla

Rabu, 26 Juni 2019 13:58
Puluhan ASN dan Honorer PN Bengkalis Mendadak Ikuti Tes Urine

Rabu, 26 Juni 2019 13:47
LAMR Sokong Langkah Hukum Pemprov Riau Laporkan Penghina Gubri

Rabu, 26 Juni 2019 13:33
Diikuti 564 JCH , Bupati Inhil Buka Kegiatan Manasik Haji 2019

Rabu, 26 Juni 2019 13:26
Bupati Inhil Pimpin Rapat Pematangan Konsep dan Pemodelan Program 1 Desa 1 Rumah Tahfidz

Rabu, 26 Juni 2019 13:23
Dalam Upaya Pembangunan SDM, Pemkab Inhil Titik Beratkan Peningkatan Mutu dan Kualitas Pendidikan

Rabu, 26 Juni 2019 13:21
‎Kapolda Riau Resmikan Mako Polres Rohul Senilai Rp13 Miliar

Rabu, 26 Juni 2019 13:03
Kebakaran Paksa 30 KK di Panipahan, Rohil Mengungsi


Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Jum’at, 3 September 2010 17:03
Bupati Bengkalis Keluarkan Peraturan Suaka Ikan Terubuk

Bagi Kabupaten Bengkalis, ikan terubuk adalah simbol daerah. Sayangnya ikan ini terancam punah. Untuk melindunginya, Bupati Herliyan Saleh mengeluarkan peraturan suakan untuk ikan terubuk.

Riauterkini-BENGKALIS– Pemerintah kabupaten (Pemkab) mengeluarkan Peraturan Bupati tentang Kawasan Suaka Ikan Terubuk. Perbup Nomor 15 Tahun 2010 tertanggal 20 Juli 2010. Merupakan regulasi awal sebagai upaya untuk melindungi ikan terubuk sebagai ikon kebanggaan bagi daerah ini dari kepunahan.

"Diantaranya membuat suatu kawasan suaka terubuk dan ini yang telah kita lakukan. Kedepannya mungkin diperkuat dengan Perda Perlindungan Terubuk," ujar Kadis Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bengkalis, Herman Mahmud kepada wartawan, Jumat (3/9/10) di Bengkalis.

Salah satu poin penting dari Perbup Kawasan Suaka tersebut adalah pengaturan tentang jadwal pelarangan ikan terubuk. Secara empiris, menurut Herman, ikan terubuk bertelur di daerah estuary (air payau) pada bulan Agustus, September dan Oktober. Selanjutnya, pada bulan-bulan tersebut hanya tiga hari ikan terubuk bertelur yaitu, jadi selama tiga hari pada bulan-bulan tersebut diharapkan nelayan tidak menangkap ikan terubuk.

"Ini merupakan hasil penelitian dari CSIRO bekerja sama dengan UNRI. Masyarakat nelayan pun pada umumnya sudah tahu. Tinggal lagi ada tidak niat tulus dari para nelayan untuk melestarikan ikan terubuk," ungkapnya.

Tidak tertutup kemungkinan, penerapan Perbup ini sambung Heman akan mendapat tantangan dari masyarakat nelayan karena terkesan mengurangi hasil tangkapan mereka dan berdampak kepada berkurangnya pendapatan. Namun, masyarakat nelayan juga harus menyadari bahwa keluarnya Perbup ini semata-mata untuk menjamin keberlangsungan populasi ikan terubuk.

"Bayangkan dengan mengurangi penangkapan ikan terubuk hanya tiga hari, tapi kedepannya memberikan manfaat yang sangat besar yaitu keberlangsungan populasi ikan terubuk akan tetap terpelihara," ujarnya.

Dikatakan, penerapan Perbup kawasan suaka ini memang harus disinergikan dengan kabupaten-kabupaten lain yang menjadi habitat ekosistem ikan Terubuk. Mengingat daerah spawning ikan-ikan terubuk ini berada di sekitar pulau Padang, Sei Pakning dan muara DAS Siak. Sedangkan daerah nursery ground larva ikan terubuk berada di Sungai Siak. "Untuk itu kita akan upayakan hal ini bisa difasilitasi oleh Pemerintah Propinsi Riau," katanya lagi.

Sementara itu, upaya penyelamatan ikan terubuk melalui usaha pebenihan ini tidak perlu melakukan kegiatan-kegiatan panjang lagi. Namun tinggal mengadopsi teknologi yang sudah dilakukan negeri jiran Malaysia, tepatnya di Serawak dalam menyelamatkan ikan terubuk ini. Salah satu metode yang dilakukan negeri jiran itu, kata Herman, dengan melakukan pemijahan tengah lautan. Kemudian larvanya dibawa kembali di tempat budi daya ikan.

"Masyarakat kabupaten Bengkalis harus menyelamatkan ikan terubuk. Karena selain mempunyai nilai ekonomis, keberadaan ikan terubuk mempunyai nilai historis. Kalau kita berhasil menyelamatkan terubuk, berarti kita menyelamatkan ikon Bengkalis. Jangan sampai anak cucu kita hanya bisa melihat terubuk di lambang kabupaten Bengkalis saja," katanya sembari menambahkan bahwa keberadaan ikan terubuk di dunia ini hanya ditemuai di lima negara, diantaranya teluk Bangladesh, laut Arab, Serawak Malaysia, China dan Bengkalis (Indonesia).

Menyusutnya populasi ikan terubuk di perairan Bengkalis, antara lain karena kebiasaan nelayan yang menangkap ikan terubuk saat bertelur, kemudian faktor pencemaran lingkungan dan menyusutnya kawasan hutan bakau di daerah ini, serta meningkatnya jumlah nelayan.***(dik)

Loading...



Beri tanggapan | Baca tanggapan
 
Atan Sempot
Ikan terubuk memang sudah sangat langka. Para nelayan di pulau Bengkalis sendiri pasti sangat menyadari hal itu. Saya pernah mengajukan pertanyaan kepada beberapa nelayan seperti yang menggunakan jaring, pukat, gumbang, ambai, pengereh dll. Semakin h

zulsusyanto,
terima kasih atas info yang sangat bermanfaat ini. tapi maaf sebelumnya, saya sebagai masyarakat bengkalis sengat prihatin dengan keberadaan ikan terubuk di periran kita. kita tidak boleh menyalah masyarakat yang sangat minim dengan pengetahuan tent


Berita lainnya..........
- ‎Kembali Gulirkan Program Desa Bebas Api, PT RAPP Bertekad 'Zonk-kan' Karhutla
- Warga Cerenti, Kuansing Resah, Kawanan Gajah Berkeliaran di Ladang
- Kawanan Gajah Rusak Tanaman Warga Cerenti, Kuansing
- Warga Cerenti, Kuansing Diserang Buaya Saat Wudhu di Sungai
- Pengembalian Lahan 2.800 Hektar dari PTPN V ke Masyarakat Senamanenek Hampir Final
- Cegah Debu, Dinas PUPR Kuansing Kerahkan Mobil Tangki Siram Jalan
- HUT ke-235 Pekanbaru, Walikota Pimpin Aksi Bersih-bersih Sungai Siak


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com