Untitled Document
Jumat, 14 Syawwal 1436 H |
Home > Lingkungan >>

Berita Terhangat..
Jum’at, 31 Juli 2015 14:12
Panwas Rohul Gelar Bimtek Pencalonan dan Daftar Pemilih

Jum’at, 31 Juli 2015 14:07
GMD Rohul Ajak Kader dan Simpatisan Totalitas Menangkan Hafith-Nasrul

Jum’at, 31 Juli 2015 13:48
Maju Bersama, Bank Riau Kepri Gandeng Bank Mandiri

Jum’at, 31 Juli 2015 13:28
Dapat Restu Annas Maamun, Nur Charis Putra Optimis Kalahkan Incumbent

Jum’at, 31 Juli 2015 13:01
KPU Periksa Keaslian Berkas Lima Balon Peserta Pilkada Dumai

Jum’at, 31 Juli 2015 12:54
Irwan Nasir dan Said Hasyim Ditunda Besok,
Delapan Cabup dan Cawabup Tes Kesehatan di RSUD Arifin Ahcmad


Jum’at, 31 Juli 2015 12:48
Aktivitas Bongkar Muat Peti Kemas Pelindo Dumai Meningkat



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Senin, 4 Januari 2010 17:10
Perlindungan LH Diabaikan,
Riau Dibayangi Bencana Ekologi Sepanjang 2010


Sejauh ini perlindungan terhadap lingkungan hidup (LH) di Riau belum maksimal. Kondisi tersebut menurut aktivis LH menyebabkan Riau akan dibayangi bencana ekologi sepanjang 2010.

Riauterkini-PEKANBARU-Terus berulangnya bencana ekologis merupakan indikator buruknya sistem pengelolaan serta perlindungan lingkungan hidup yang terjadi di Propinsi Riau . Sejak awal tahun 2009, yaitu bulan Januari sampai dengan bulan Juli berdasarkan hasil analisa GIS EoF yang menggunakan data satelit MODIS terpantau 7.637 Hotspot tersebar di 8 kabupaten dan kota . Peristiwa kebakaran Hutan dan lahan yang menimbulkan bencana asap ini telah menimbulkan terjadinya penurunan kualitas udara bahkan dinas kesehatan Propinsi Riau mencatat telah terjadi 4.471 kasus Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) selama masa tersebut. Selain dampak kesehatan, bencana asap juga telah menimbulkan terganggunya jalur hubungan transportasi hingga ditutupnya jalur penerbangan jelas menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit.

Memasuki akhir tahun 2009 yaitu pada bulan Desember Propinsi Riau kembali diterpa bencana dengan terjadinya peristiwa banjir yang saat ini sudah terjadi di 6 wilayah kabupaten dan kota . kerugian harta benda sudah mulai dirasakan, kerusakan infrastruktur seperti jembatan,jalan dan sekolahan sudah mulai mengganggu aktivitas keseharian masyarakat. Berdasarkan catatan Walhi Riau, peristiwa banjir seperti ini setiap tahun pasti terjadi, sama halnya dengan kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan bencana asap bahkan sudah menjadi “Musim Baru” selain musim hujan dan kemarau karna selalu terulang setiap tahunnya. Direktur Eksekutif Walhi Riau, Hariansyah Usman mengatakan “Jika hal ini terus berlangsung tanpa ada penanganan yang komprehensif maka Triliyunan Rupiah anggaran pembangunan Riau hanya akan terkuras untuk biaya pemulihan kerusakan akibat bencana ekologis tersebut “.

Masih Buruknya Pengelolaan serta Perlindungan Lingkungan Hidup di Propinsi Riau

Hariansyah Usman menambahkan, kerawanan ekologis di daerah yang kaya sumber daya alam ini tidak lain adalah disebabkan masih diterapkannya paradigma pembangunan yang eksploitatif tanpa mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan serta pengakuan akan hak-hak masyarakat tempatan. Masih berlangsungnya pemberian izin-izin kepada perusahaan besar berbasis lahan dan hutan seperti perusahaan tambang, perkebunan sawit dan hutan tanaman industry (HTI) merupakan bukti bahwa pemerintah tidak pernah sensitive dan belajar dari penderitaan masyarakat yang terus merasakan dampak dari kebijakan pembangunan yang menguras habis sumberdaya alam tersebut. Buruknya kinerja penegakan hukum dalam penuntasan kasus-kasus yang diharapkan mampu memberikan memberikan efek jera kepada para “pelaku penjahat lingkungan” seperti perusahaan pembakar lahan, pejabat pemberi izin, Illegal Logger juga memberikan kontribusi terhadap meluasnya keruskan lingkungan hidup yang terus berlangsung di propinsi Riau.

Untuk itu dalam membuka tahun 2010 ini Wahana Lingkungan Hidup Indonesia(WALHI) Daerah Riau menyerukan bahwa dalam evaluasi 100 hari kinerja pemerintahan SBY-Boediono nanti kondisi lingkungan hidup di Riau harus menjadi catatan dan perhatian serius, semua produk kebijakan yang mengancam keberlangsungan hidup dan keselamatan warga di propinsi Riau harus ditinjau ulang dan dibatalkan, demikian Hariansyah Usman menutup Refleksi Lingkungan Hidup Riau 2009. ***(Rls)




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita lainnya..........
- Kekeringan, Warga Gaung, Inhil Mulai Konsumsi Air Rawa
- Titik Panas di Riau Terpantau Tinggal 40
- Jumlah Terus Bertambah, BLH Temukan 61 Titik Api di Inhil
- RAPP dan Masyarakat Bersinergi Padamkan Api di Pulau Padang
- Ribuan Hektar HP Bangunpurba Bakal Jadi Kawasan Tahura di Rohul
- Asap Karhutla Picu Udara di Riau Tidak Sehat
- Jumlah Titik Panas di Riau Melonjak jadi 186


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 107.20.5.156
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com