Home > Lingkungan >>
Berita Terhangat..
Kamis, 23 Maret 2017 22:09
Diduga Nistakan Islam di Medsos,
Keluarga Sonny Memohon Maaf Kepada Umat Islam


Kamis, 23 Maret 2017 21:17
Kemenpan-RB Tegaskan Batas Usia Honorer untuk CPNS 35 Tahun

Kamis, 23 Maret 2017 21:10
5 Kawasan Lindung Riau Bakal Jadi Pengembangan Konservasi Bentangan Alam

Kamis, 23 Maret 2017 20:29
Seorang Warga Pekanbaru Meninggal di Warung Lontong Bengkalis

Kamis, 23 Maret 2017 20:14
Gubri Sampaikan LKPJ 2016 di Hadapan Dewan

Kamis, 23 Maret 2017 19:37
Kejari Bengkalis Terima Pelimpahan Korupsi ADD Tanjung Punak

Kamis, 23 Maret 2017 19:28
Diduga Acuhkan Perizinan,
Perusahaan Penumpukan Cangkang Sawit di Siak Leluasa Beroperasi Hingga Ekspor


Kamis, 23 Maret 2017 19:18
Maksimalkan Potensi Perikanan Laut, Gubri Sambangi Kementerian Kelautan dan Perikanan

Kamis, 23 Maret 2017 19:04
Cerenti, Diwilayah Perdaran Ganja Tertinggi di Kuansing

Kamis, 23 Maret 2017 19:00
Tim Propam Polri Kunjungi Polres Kampar



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Senin, 4 Januari 2010 17:10
Perlindungan LH Diabaikan,
Riau Dibayangi Bencana Ekologi Sepanjang 2010


Sejauh ini perlindungan terhadap lingkungan hidup (LH) di Riau belum maksimal. Kondisi tersebut menurut aktivis LH menyebabkan Riau akan dibayangi bencana ekologi sepanjang 2010.

Riauterkini-PEKANBARU-Terus berulangnya bencana ekologis merupakan indikator buruknya sistem pengelolaan serta perlindungan lingkungan hidup yang terjadi di Propinsi Riau . Sejak awal tahun 2009, yaitu bulan Januari sampai dengan bulan Juli berdasarkan hasil analisa GIS EoF yang menggunakan data satelit MODIS terpantau 7.637 Hotspot tersebar di 8 kabupaten dan kota . Peristiwa kebakaran Hutan dan lahan yang menimbulkan bencana asap ini telah menimbulkan terjadinya penurunan kualitas udara bahkan dinas kesehatan Propinsi Riau mencatat telah terjadi 4.471 kasus Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) selama masa tersebut. Selain dampak kesehatan, bencana asap juga telah menimbulkan terganggunya jalur hubungan transportasi hingga ditutupnya jalur penerbangan jelas menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit.

Memasuki akhir tahun 2009 yaitu pada bulan Desember Propinsi Riau kembali diterpa bencana dengan terjadinya peristiwa banjir yang saat ini sudah terjadi di 6 wilayah kabupaten dan kota . kerugian harta benda sudah mulai dirasakan, kerusakan infrastruktur seperti jembatan,jalan dan sekolahan sudah mulai mengganggu aktivitas keseharian masyarakat. Berdasarkan catatan Walhi Riau, peristiwa banjir seperti ini setiap tahun pasti terjadi, sama halnya dengan kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan bencana asap bahkan sudah menjadi “Musim Baru” selain musim hujan dan kemarau karna selalu terulang setiap tahunnya. Direktur Eksekutif Walhi Riau, Hariansyah Usman mengatakan “Jika hal ini terus berlangsung tanpa ada penanganan yang komprehensif maka Triliyunan Rupiah anggaran pembangunan Riau hanya akan terkuras untuk biaya pemulihan kerusakan akibat bencana ekologis tersebut “.

Masih Buruknya Pengelolaan serta Perlindungan Lingkungan Hidup di Propinsi Riau

Hariansyah Usman menambahkan, kerawanan ekologis di daerah yang kaya sumber daya alam ini tidak lain adalah disebabkan masih diterapkannya paradigma pembangunan yang eksploitatif tanpa mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan serta pengakuan akan hak-hak masyarakat tempatan. Masih berlangsungnya pemberian izin-izin kepada perusahaan besar berbasis lahan dan hutan seperti perusahaan tambang, perkebunan sawit dan hutan tanaman industry (HTI) merupakan bukti bahwa pemerintah tidak pernah sensitive dan belajar dari penderitaan masyarakat yang terus merasakan dampak dari kebijakan pembangunan yang menguras habis sumberdaya alam tersebut. Buruknya kinerja penegakan hukum dalam penuntasan kasus-kasus yang diharapkan mampu memberikan memberikan efek jera kepada para “pelaku penjahat lingkungan” seperti perusahaan pembakar lahan, pejabat pemberi izin, Illegal Logger juga memberikan kontribusi terhadap meluasnya keruskan lingkungan hidup yang terus berlangsung di propinsi Riau.

Untuk itu dalam membuka tahun 2010 ini Wahana Lingkungan Hidup Indonesia(WALHI) Daerah Riau menyerukan bahwa dalam evaluasi 100 hari kinerja pemerintahan SBY-Boediono nanti kondisi lingkungan hidup di Riau harus menjadi catatan dan perhatian serius, semua produk kebijakan yang mengancam keberlangsungan hidup dan keselamatan warga di propinsi Riau harus ditinjau ulang dan dibatalkan, demikian Hariansyah Usman menutup Refleksi Lingkungan Hidup Riau 2009. ***(Rls)





Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita lainnya..........
- Pemko Pekanbaru tak Punya Anggaran Penanggulangan Banjir
- Sungai Kampar Surut, Justru 12 Sekolah di Pelalawan Kebanjiran
- Longsor di Tebing Sungai Kuantan Disebabkan PETI
- 2016, Kasus HIV/Aids di Pekanbaru Meningkat
- Tiga Unit Rumah Ludes Terbakar di Tembilahan
- Meski Terendam Banjir, Tanaman Petani Rohul Aman dari Puso
- RGE Kedepankan FFVP RAPP di Diskusi Panel FFA


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda : 54.161.201.200
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com