Untitled Document
Rabu, 29 Zulqaidah 1435 H |
Home > Hukum >>

Berita Terhangat..
  Selasa, 23 September 2014 21:01
Dapat Menjaga tak Terjadi Karhutla,
Kelurahan Teluk Meranti Berpotensi Dapat Bonus dari PT RAPP


Selasa, 23 September 2014 20:57
Jadi Wakil Ketua DPRD Riau,
Nama Ma'mun Solikhin Ternyata Bukan dari DPP PDI Perjuangan


Selasa, 23 September 2014 20:49
Bupati Kampar Imbau Instansi Terkait Dukung Lulusan P4S Kubang Jaya

Selasa, 23 September 2014 20:04
ISMPI Wilayah Sumatera Gelar Mukerwil IX

Selasa, 23 September 2014 19:49
Seorang Tahanan Polsek Hulu Kuantan Kabur

Selasa, 23 September 2014 19:43
Jelang Pilkada Bengkalis,
Amril Mukminin Paling Populer Di Mandau Dan Pinggir


Selasa, 23 September 2014 19:38
PT DSI Diduga Serobot Lahan Warga Desa Sri Gemilang, Siak



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Jum’at, 12 April 2013 06:54
Tidak Semua 'Ayam Kampus' Merasa Terpaksa

Menjadi pelacur, apapun kelasnya tetaplah sebuah pekerjaan nista, namun tidak semua 'ayam kampus' menjalaninya dengan terpaksa.

PEKANBARU- Meskipun merupakan larangan negara dan juga agama, namun faktanya prostitusi dalam berbagai bentuk di hampir semua kota di Indonesia tetap tumbuh subur. Para pelakunya semua menyadari kegiatannya salah, namun anehnya, ada juga di antara mereka yang mengaku sadar dan tidak merasa terpaksa menjalaninya.

"Munafik kalau saya bilang terpaksa seperti ini (menjadi ayam kampus.red). Hidup ini pilihan. Saya sangat sadar dengan pilihan saya," tutur Melati (23), mahasiswi tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi ternama di Pekanbaru kepada riauterkinicom belum lama ini.

Dipaparkan Melati, dirinya sudah terjerumus dalam prostitusi terselubung sejak tiga tahun silam. Setelah termakan candu kehidupan malam. Hobinya menikmati dunia gemerlapan atau Dugem perlu biaya besar. Sementara, kiriman orang tuanya yang tinggal di provinsi tetangga hanya cukup untuk biaya kuliah, bayar kos dan makan.

"Mulanya saya diajak teman untuk dugem. Dia yang bayar, tetapi lama-lama keenakan. Tidak mungkin dong, dia terus yang bayar. Saya ketagihan untuk dugem dan itu perlu biaya besar," paparnya.

Melati lantas membenarkan pameo yang sering diucap masyarakat terkait usaha haram. "Uang setan dimakan hantu." Seperti itulah dirinya. Penghasilannya dair 'menjual diri' cukup besar. Sebulan bisa mendapat Rp 20 juta, tetapi uang sebanyak itu tak tersisa. Habis untuk dugem dan membeli obat penenang, nama lain dari narkotika.

Pengakuan berbeda disampaikan Puspa. Mahasiswi blasteran tersebut mengaku tidak rutin jadi 'ayam kampus'. Ia hanya menerim pelanggan jika kondisi keuangan sedang sekarat.

"Kalau uang saya lagi cukup, untuk apa begituan," tukasnya beralasan.

Tapi, jika kondisi keuangan sedang seret. Kiriman dari orang tuanya dari provinsi tetangga belum datang, sementara banyak kebutuhan mendesak. Seperti ibu kos yang menagih pembayaran dan biaya kuliah menunggak, jalan pintas terpaksa diambil.

Puspa mengaku punya temen yang bekerja di sebuah tempat hiburan malam yang selalu ia minta tolong kepadanya mencarikan pelanggan jika sedang butuh uang.

Dikatakan Puspa, ia memilih sikap seperti itu karena sebenarnya ia tak menikmati setiap kali melayani pelanggan. Karena itu, ia kadang mendengar pelanggan mengeluh karena mungkin tak mendapatkan pelayanan memuaskan darinya.

"Saya tidak mungkin pura-pura menikmati digauli pria seusia ayah saya. Mungkin karena itu, kadang ada pelanggan yang kecewa," tuturnya.

Catatan redaksi

Sebagai penutup, redaksi perlu mengungkap latar belakang munculnya liputan khusus 'ayam kampus' di Pekanbaru. Adalah keberadaan Maharani Suciwati, mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Jakarta yang turut diamankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat menangkap tangan tersangka korupsi impor daging sapi Ahmad Fatonah yang menjadi 'pemicu'.

Redaksi lantas ingin menelusuri kemungkinan adanya praktek gratifikasi seks di Riau, mengingat daerah ini memiliki banyak kasus korupsi, baik yang sudah terungkap maupun yang masih tersembunyi.

Dari penelusuran yang kami lakukan, indikasi adanya praktek gratifikasi seks ditemukan.

Liputan ini sama sekali tidak bertujuan untuk memberi informasi bagaimana caranya mendapatkan 'ayam kampus', karena itu kami tidak mendiskrisikan di mana para 'ayam kampus' Pekanbaru biasa menikmati kehidupan malamnya.

Juga kewajiban kami melindungi nara sumber. Memunculkan nama samaran serta tidak menyebutkan nama perguruan tinggi tempat 'ayam kampus' menimba ilmu.

Terakhir, kami hanya ingin menghadirkan fakta adanya fenomena 'ayam kampus' di Pekanbaru. Semua terpulang kepada kita, terutama pemerintah dan pihak perguruan tinggi menyikapinya.***(red/tamat)




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 
Rektor jalaludin
Tolonglah pak Rektor kemana saya dpt menemukan "Ayam Kampus"yg masih Fresh.universita s/ Akademi merazia mahasiswi membuka praktek ganda yaitu sebagai mahasiswi juga sebagai "Ayam kampus" atau simpanan oknum Om-om centil.

Rektor jalaludin
Tolonglah pak Rektor kemana saya dpt menemukan "Ayam Kampus"yg masih Fresh.universita s/ Akademi merazia mahasiswi membuka praktek ganda yaitu sebagai mahasiswi juga sebagai "Ayam kampus" atau simpanan oknum Om-om centil.

Rektor jalaludin
Tolonglah pak Rektor kemana saya dpt menemukan "Ayam Kampus"yg masih Fresh.universita s/ Akademi merazia mahasiswi membuka praktek ganda yaitu sebagai mahasiswi juga sebagai "Ayam kampus" atau simpanan oknum Om-om centil.

mau makan ayam impor
ustad Khotimulatil SH,zaman kini sudah canggih.Dagangan yg tak pernah habis pakai yaitu Dagang "kue Apam" alias Bika.peminatnya dari usia muda dan tua.juga plus mengisap susu putih.he...hee..ayam kampus leker,Ayam impor lebih Fresh.

mau makan ayam impor
ustad Khotimulatil SH,zaman kini sudah canggih.Dagangan yg tak pernah habis pakai yaitu Dagang "kue Apam" alias Bika.peminatnya dari usia muda dan tua.juga plus mengisap susu putih.he...hee..ayam kampus leker,Ayam impor lebih Fresh.

pendi
setutu dengan adi godok, tolong riau terkini lebih berbenah diri bagaimana cara penyajian berita investigasi, klu seperti ini berita na bisa dikategorikan hanya sebagai asumsi penulis, coba riau terkini belajar lagi bagaiman dalam melakukan berita in

Adi Godok
Croot, buat brita baik-baik sikit.....pakai lah data valid. Clo tulisan cuman dibumbuhi dengan perasaan penulis, itu bukan reportase tetapi tulisan-tulisan perangsang birahi,macam koran kuning....Buat liputan itu jelas,data mantap, foto sesuai...itu

tina
jika akhlak mahasiswa sudah rusak,, maka institusi perguruan tinggi harus tegas-berhentikan mahasiswa tsb,, sesuai UU pendidikan yakni menciptakan lulusan yang bermoral & berakhlak mulia...kan aneh juga--pekerjaan pelacur atau germo status mahasiswa/


Berita Hukum lainnya..........
- Seorang Tahanan Polsek Hulu Kuantan Kabur
- Dugaan Korupsi Bansos Bengkalis,
Polda Periksa 10 Anggota DPRD Bengkalis

- Korupsi Dana BLM-PUAP,
Mantan Ketua Gapoktan di Inhil Sumringah Divonis Ringan

- Polres Kuansing Kembali Razia PETI
- Cegah Paham ISIS, Kesbangpol Pekanbaru Gelar Seminar
- Dugaan Korupsi Manipulasi Penerbitan SHM KHTN,
Jaksa Panggil Dua Pejabat sebagai Saksi, Satu Mangkir

- Pria Tua Sakit-sakitan di Siak Tewas Gantung Diri


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 54.166.95.146
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com