Home > Hukum >>
Berita Terhangat..
Sabtu, 16 Desember 2017 10:11
Konsleting Listrik, Rumah Seorang Wartawan di Pekanbaru Terbakar

Sabtu, 16 Desember 2017 05:40
Ratusan Triliun Disumbangkan ke Negara, Apkasindo Dorong Riau Rebut DBH CPO

Jum’at, 15 Desember 2017 20:14
Kades Sudah tidak Beraktivitas,
Plt Bupati Rohul Janji Selesaikan Sengketa Lima Desa


Jum’at, 15 Desember 2017 18:41
Gubri dan Kasad Hadiri Puncak Peringatan HJK TNI AD ke-72

Jum’at, 15 Desember 2017 16:58
Ahad, Ayo Makan Ikan di Lapangan Tugu Bengkalis

Jum’at, 15 Desember 2017 16:54
BC Bengkalis Naik Tingkat dari Pratama ke Madya

Jum’at, 15 Desember 2017 16:16
Idana, Penyandang Disabilitas Asal Rohul Terima Kaki Palsu di Hari Juang Kartika

Jum’at, 15 Desember 2017 16:09
Daftar XL Prioritas di Penghujung 2017, Nikmati Diskon 50 Persen SEpanjang 2018

Jum’at, 15 Desember 2017 15:55
Lakukan Perampokan dan Pencabulan, Pengangguran di Duri Ini Dicokok Polisi

Jum’at, 15 Desember 2017 15:49
Tanoto Foundation dan RAPP Gelar Kampanye Membaca di Dua Kabupaten

loading...



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.


Jum’at, 12 April 2013 06:54
Tidak Semua 'Ayam Kampus' Merasa Terpaksa

Menjadi pelacur, apapun kelasnya tetaplah sebuah pekerjaan nista, namun tidak semua 'ayam kampus' menjalaninya dengan terpaksa.

PEKANBARU- Meskipun merupakan larangan negara dan juga agama, namun faktanya prostitusi dalam berbagai bentuk di hampir semua kota di Indonesia tetap tumbuh subur. Para pelakunya semua menyadari kegiatannya salah, namun anehnya, ada juga di antara mereka yang mengaku sadar dan tidak merasa terpaksa menjalaninya.

"Munafik kalau saya bilang terpaksa seperti ini (menjadi ayam kampus.red). Hidup ini pilihan. Saya sangat sadar dengan pilihan saya," tutur Melati (23), mahasiswi tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi ternama di Pekanbaru kepada riauterkinicom belum lama ini.

Dipaparkan Melati, dirinya sudah terjerumus dalam prostitusi terselubung sejak tiga tahun silam. Setelah termakan candu kehidupan malam. Hobinya menikmati dunia gemerlapan atau Dugem perlu biaya besar. Sementara, kiriman orang tuanya yang tinggal di provinsi tetangga hanya cukup untuk biaya kuliah, bayar kos dan makan.

"Mulanya saya diajak teman untuk dugem. Dia yang bayar, tetapi lama-lama keenakan. Tidak mungkin dong, dia terus yang bayar. Saya ketagihan untuk dugem dan itu perlu biaya besar," paparnya.

Melati lantas membenarkan pameo yang sering diucap masyarakat terkait usaha haram. "Uang setan dimakan hantu." Seperti itulah dirinya. Penghasilannya dair 'menjual diri' cukup besar. Sebulan bisa mendapat Rp 20 juta, tetapi uang sebanyak itu tak tersisa. Habis untuk dugem dan membeli obat penenang, nama lain dari narkotika.

Pengakuan berbeda disampaikan Puspa. Mahasiswi blasteran tersebut mengaku tidak rutin jadi 'ayam kampus'. Ia hanya menerim pelanggan jika kondisi keuangan sedang sekarat.

"Kalau uang saya lagi cukup, untuk apa begituan," tukasnya beralasan.

Tapi, jika kondisi keuangan sedang seret. Kiriman dari orang tuanya dari provinsi tetangga belum datang, sementara banyak kebutuhan mendesak. Seperti ibu kos yang menagih pembayaran dan biaya kuliah menunggak, jalan pintas terpaksa diambil.

Puspa mengaku punya temen yang bekerja di sebuah tempat hiburan malam yang selalu ia minta tolong kepadanya mencarikan pelanggan jika sedang butuh uang.

Dikatakan Puspa, ia memilih sikap seperti itu karena sebenarnya ia tak menikmati setiap kali melayani pelanggan. Karena itu, ia kadang mendengar pelanggan mengeluh karena mungkin tak mendapatkan pelayanan memuaskan darinya.

"Saya tidak mungkin pura-pura menikmati digauli pria seusia ayah saya. Mungkin karena itu, kadang ada pelanggan yang kecewa," tuturnya.

Catatan redaksi

Sebagai penutup, redaksi perlu mengungkap latar belakang munculnya liputan khusus 'ayam kampus' di Pekanbaru. Adalah keberadaan Maharani Suciwati, mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Jakarta yang turut diamankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat menangkap tangan tersangka korupsi impor daging sapi Ahmad Fatonah yang menjadi 'pemicu'.

Redaksi lantas ingin menelusuri kemungkinan adanya praktek gratifikasi seks di Riau, mengingat daerah ini memiliki banyak kasus korupsi, baik yang sudah terungkap maupun yang masih tersembunyi.

Dari penelusuran yang kami lakukan, indikasi adanya praktek gratifikasi seks ditemukan.

Liputan ini sama sekali tidak bertujuan untuk memberi informasi bagaimana caranya mendapatkan 'ayam kampus', karena itu kami tidak mendiskrisikan di mana para 'ayam kampus' Pekanbaru biasa menikmati kehidupan malamnya.

Juga kewajiban kami melindungi nara sumber. Memunculkan nama samaran serta tidak menyebutkan nama perguruan tinggi tempat 'ayam kampus' menimba ilmu.

Terakhir, kami hanya ingin menghadirkan fakta adanya fenomena 'ayam kampus' di Pekanbaru. Semua terpulang kepada kita, terutama pemerintah dan pihak perguruan tinggi menyikapinya.***(red/tamat)



Berita Hukum lainnya..........
- Konsleting Listrik, Rumah Seorang Wartawan di Pekanbaru Terbakar
- Lakukan Perampokan dan Pencabulan, Pengangguran di Duri Ini Dicokok Polisi
- Terdakwa Korupsi Dana Anggaran Bappeda Rohil Minta Keringanan Hukuman, JPU Tetap Pada Dakwaan
- Polsek Kateman Tangkap Terduga Pelaku Perampokan
- Mayat Dalam.Sumur Ditemukan Warga Hendak Wudhu di Duri
-
- Kalap Temannya Kehilangan Anjing, Simatupang Menusuk 8 Orang di Kandis
- Hakim PN Bengkalis Vonis Mati Bandar Sabu 40 Kg
- Korupsi Dermaga Sungai Tohor Barat,
Kejari Kepulauan Meranti Tetapkan 4 Tersangka

- Belum Siap, Jaksa Batal Tuntut Pegawai Rutan Terjerat Pungli
- Korupsi ADD, Seorang Mantan Kades di Rohil Divonis 4 Tahun Penjara
- Buntut Pemanggilan Kejari,
Rekanan Sebut Oknum PPK Disdik Pelalawan Minta 'Setoran'

- Polda Riau Musnahkan 17 Kg Sabu dari 7 Tersangka
- Nistakan Islam di Facebook, P Hutahean Dilaporkan ke Polsek Minas
- Anggota DPRD Pelalawan Dukung Kejari Tangkap Petinggi PT Adei
- Keluarga Histeris,  Hakim PN Siak Vonis Mati Dua terdakwa Narkotika Lintas Negara
- Tersangka Terima Upah Rp4 Juta,
Polisi Tangkap Dua Kurir Sabu 10 Kg di Siakkecil, Bengkalis

- Korupsi RTH, Pendemo Desak Kejati Periksa Gubernur Riau
- Dua Terdakwa Narkotika Divonis Mati Hakim PN Siak
- Dugaan Pungli Proyek, Seorang Kasi di Disdik Pelalawan Diperiksa Kejari


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda : 54.90.159.192
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com