Home > Hukum >>
Berita Terhangat..
Selasa, 17 Oktober 2017 07:28
Pendataran Ditutup, KPU Beri Waktu 1x24 Parpol Lengkapi Berkas

Selasa, 17 Oktober 2017 07:20
Daftarkan Partai ke KPU, Pengurus PAN Rohul Kompak Pakai Tanjak Biru

Selasa, 17 Oktober 2017 07:15
Bupati Inhil Adakan Pertemuan Bisnis Dengan Investor Asal Malaysia

Selasa, 17 Oktober 2017 07:12
‎DPC Partai Demokrat Mendaftar ke KPU 1 Jam Sebelum Injury Time

Senin, 16 Oktober 2017 22:13
4 Hektar Kebun Sawit di Desa Pauh Rohul Hangus Terbakar

Senin, 16 Oktober 2017 22:08
DPRD dan Pemkab Bengkalis Teken MoU KUPA PPAS APBD Perubahan 2017

Senin, 16 Oktober 2017 21:37
Bupati Rohil Minta Pemprov dan Pusat Bantu Kembangkan Pulau Jemur

Senin, 16 Oktober 2017 21:32
KPU Inhu Terima Pendaftaran Partai Demokrat

Senin, 16 Oktober 2017 21:09
Diduga Akan Menjual Sabu-sabu,
Polres Siak Tangkap Seorang Pemuda Warga Dayun


Senin, 16 Oktober 2017 20:17
43 Orang Terjaring Operasi Bina Kesuma Siak 2017

loading...



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.


Jum’at, 12 April 2013 06:54
Tidak Semua 'Ayam Kampus' Merasa Terpaksa

Menjadi pelacur, apapun kelasnya tetaplah sebuah pekerjaan nista, namun tidak semua 'ayam kampus' menjalaninya dengan terpaksa.

PEKANBARU- Meskipun merupakan larangan negara dan juga agama, namun faktanya prostitusi dalam berbagai bentuk di hampir semua kota di Indonesia tetap tumbuh subur. Para pelakunya semua menyadari kegiatannya salah, namun anehnya, ada juga di antara mereka yang mengaku sadar dan tidak merasa terpaksa menjalaninya.

"Munafik kalau saya bilang terpaksa seperti ini (menjadi ayam kampus.red). Hidup ini pilihan. Saya sangat sadar dengan pilihan saya," tutur Melati (23), mahasiswi tingkat akhir di sebuah perguruan tinggi ternama di Pekanbaru kepada riauterkinicom belum lama ini.

Dipaparkan Melati, dirinya sudah terjerumus dalam prostitusi terselubung sejak tiga tahun silam. Setelah termakan candu kehidupan malam. Hobinya menikmati dunia gemerlapan atau Dugem perlu biaya besar. Sementara, kiriman orang tuanya yang tinggal di provinsi tetangga hanya cukup untuk biaya kuliah, bayar kos dan makan.

"Mulanya saya diajak teman untuk dugem. Dia yang bayar, tetapi lama-lama keenakan. Tidak mungkin dong, dia terus yang bayar. Saya ketagihan untuk dugem dan itu perlu biaya besar," paparnya.

Melati lantas membenarkan pameo yang sering diucap masyarakat terkait usaha haram. "Uang setan dimakan hantu." Seperti itulah dirinya. Penghasilannya dair 'menjual diri' cukup besar. Sebulan bisa mendapat Rp 20 juta, tetapi uang sebanyak itu tak tersisa. Habis untuk dugem dan membeli obat penenang, nama lain dari narkotika.

Pengakuan berbeda disampaikan Puspa. Mahasiswi blasteran tersebut mengaku tidak rutin jadi 'ayam kampus'. Ia hanya menerim pelanggan jika kondisi keuangan sedang sekarat.

"Kalau uang saya lagi cukup, untuk apa begituan," tukasnya beralasan.

Tapi, jika kondisi keuangan sedang seret. Kiriman dari orang tuanya dari provinsi tetangga belum datang, sementara banyak kebutuhan mendesak. Seperti ibu kos yang menagih pembayaran dan biaya kuliah menunggak, jalan pintas terpaksa diambil.

Puspa mengaku punya temen yang bekerja di sebuah tempat hiburan malam yang selalu ia minta tolong kepadanya mencarikan pelanggan jika sedang butuh uang.

Dikatakan Puspa, ia memilih sikap seperti itu karena sebenarnya ia tak menikmati setiap kali melayani pelanggan. Karena itu, ia kadang mendengar pelanggan mengeluh karena mungkin tak mendapatkan pelayanan memuaskan darinya.

"Saya tidak mungkin pura-pura menikmati digauli pria seusia ayah saya. Mungkin karena itu, kadang ada pelanggan yang kecewa," tuturnya.

Catatan redaksi

Sebagai penutup, redaksi perlu mengungkap latar belakang munculnya liputan khusus 'ayam kampus' di Pekanbaru. Adalah keberadaan Maharani Suciwati, mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Jakarta yang turut diamankan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat menangkap tangan tersangka korupsi impor daging sapi Ahmad Fatonah yang menjadi 'pemicu'.

Redaksi lantas ingin menelusuri kemungkinan adanya praktek gratifikasi seks di Riau, mengingat daerah ini memiliki banyak kasus korupsi, baik yang sudah terungkap maupun yang masih tersembunyi.

Dari penelusuran yang kami lakukan, indikasi adanya praktek gratifikasi seks ditemukan.

Liputan ini sama sekali tidak bertujuan untuk memberi informasi bagaimana caranya mendapatkan 'ayam kampus', karena itu kami tidak mendiskrisikan di mana para 'ayam kampus' Pekanbaru biasa menikmati kehidupan malamnya.

Juga kewajiban kami melindungi nara sumber. Memunculkan nama samaran serta tidak menyebutkan nama perguruan tinggi tempat 'ayam kampus' menimba ilmu.

Terakhir, kami hanya ingin menghadirkan fakta adanya fenomena 'ayam kampus' di Pekanbaru. Semua terpulang kepada kita, terutama pemerintah dan pihak perguruan tinggi menyikapinya.***(red/tamat)



loading...

Berita Hukum lainnya..........
- Diduga Akan Menjual Sabu-sabu,
Polres Siak Tangkap Seorang Pemuda Warga Dayun

- 43 Orang Terjaring Operasi Bina Kesuma Siak 2017
- Terjerat Korupsi ADD, Seorang Kades Asal Rohil.Segera Diadili
- Kapolres Inhil Cek Kelaikan Senjata Api Personil
- Ayah Bejad di Bangun Purba, Rohul 3 Tahun Jadikan Putrinya Budak Seks
- Selundupkan Sabu Dibungkus Wafer, Seorang Pengunjung Lapas Bengkalis Ditangkap
- Pemilik Usaha Judi Jackpot di Tandun Barat Diringkus Polisi Rohul, Dua Mesin Disita


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda : 54.196.33.246
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com