Berita Terhangat.. |
Rabu, 22 Mei 2013 19:59 Perbaikan Barakhir, KPU Dumai Masih Temukan DCS Bermasalah
Rabu, 22 Mei 2013 19:57 Wabup Inhu Intruksikan BLH Pantau Aktifitas PETI
Rabu, 22 Mei 2013 19:32 Mogok Buruh TKBM Usai, KSOP Dumai Bentuk Tim Penyesuai Tarif
Rabu, 22 Mei 2013 19:29 Polres Rohul Diminta Maksimal Cegah Geng Motor
Rabu, 22 Mei 2013 19:17 Tahap II dari Polres, Kejari Siak Tahan Tersangka Korupsi Disparsenibudpora
Rabu, 22 Mei 2013 19:12 Rapat Evaluasi PAD Pekanbaru, Satu daru Tiga SKPD Belum Capai target
Rabu, 22 Mei 2013 19:04 Penutupan MTQ Ke-XII Pelalawan Bandar Seikijang Raih Juara Umum
|
|
|
|
Senin, 25 Pebruari 2013 11:50 Chevron Nilai Salah Alamat, 'Anak Buah' Hercules GRIB Dumai Protes Lelang Besi Tua
Puluhan anggota GRIB, organisasi yang dipimpin Hercules memblokir pintu masuk PT CPI di Dumai, memprotes lelang besi tua. CPI menilai aksi tersebut salah alamat.
Riauterkini-DUMAI- Ratusan masyarakat yang mengatasnamakan Gerakan Rakyat Indonesia
Baru (GRIB) memblokir pintu masuk kantor perusahaan PT Chevron Pacific Indonesia
(CPI) wilayah operasional Dumai, Senin (25/2/13) pagi.
Maksud dan tujuan pemblokiran pintu masuk kantor Chevron, bentuk aksi protes tidak
transparannya mengingat pengusaha Dumai tidak ada yang dilibatkan dalam lelang besi
tua yang berada di Bukit Batrem Kecamatan Dumai Timur.
Ketua GRIB Dumai, Kimlan Antoni dalam aksinya memberikan penegasan kepada managemen
PT Chevron Pacific Indonesia untuk memberikan pejelasan terkait lelang besi tua yang
tidak transparan itu dan juga pengusaha lokal tidak dilibatkan untuk lelang
tersebut.
"Kami merasa kecewa atas lelang proyek besi tua tidak transparan dan melibatkan
pengusaha lokal. Kami juga tidak mau jadi penonton dalam lelang besi tua ini. Kami
akan terus menunggu kejelasan dari pihak perusahaan soal lelang besi tua tidak
melibatkan pengusaha lokal," cetus Kimlan Antoni di ujung alat pengeras
suara.
Masa dari GRIB juga menyerukan yel-yel tidak mau menjadi penonton saja dalam lelang
besi tua milik PT Chevron Pacific Indonesia di Dumai. Maka dari itu pihak Managem
Chevron bisa menemui aksi dan memberikan penjelasan terhadap lelang besi tua tidak
melibatkan pengusaha lokal.
Ditegaskan Kimlan Antoni, bahwa GRIB merupakan organisasi di bawah komando Prabowo
Sugiantoro dan Herculles. Masa yang dibawa menduduki pintu masuk Chevron merupakan
anak tempatan dan pengamen tempatan untuk menyemarakkan aksi pemblokiran pintu masuk
operasional perusahaan minyak tersebut.
Aksi pemblokiran pintu masuk PT Chevron Pacific Indonesia juga mendapat pengawalan
ketat dari aparat kepolisian Dumai dengan membentuk pagar betis. Masa terus
menyerukan tidak mau menjadi penonton dalam lelang besi tua yang dilakukan pihak
perusahaan pantungan antara Indonesia dan Amerika Serikat itu.
Lelang Besi Tua Bukan Wewenang PT CPI
Berikut ini tanggapan lengkap PT CPI terkait aksi GRIB di Dumai:
PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI) menegaskan kembali
bahwa pihaknya tidak memiliki wewenang maupun peran dalam proses pelelangan
aset-aset berupa besi tua eks barang operasional perusahaan. Seluruh aset tersebut
merupakan barang milik negara (BMN) di mana seluruh rangkaian proses lelangnya
dilaksanakan oleh instansi pemerintah yang berwenang. PT CPI, sebagai Kontraktor
Kontrak Kerja Sama (KKKS) dari Pemerintah Indonesia, hanya berkewajiban menjaga
seluruh aset itu hingga pemenang lelang diumumkan.
’’Pelelangan barang milik negara bukan wewenang kami dan tidak tepat jika ditanyakan
kepada kami sebagai pihak yang tidak memilik wewenang atas hal tersebut,’’ papar
Tiva Permata selaku Manajer Komunikasi PT CPI. . Proses pelepasan aset itu, lanjut
dia, bukan hanya berlaku di lingkungan PT CPI tapi sudah merupakan aturan baku di
industri migas nasional. Penjelesan tersebut disampaikan menyusul pengerahan massa
yang dilakukan DPC Gerakan Rakyat Indonesia Baru di depan Kompleks PT CPI Dumai pada
hari Senin, 25 Februari.
Industri migas nasional menggunakan Kontrak Bagi Hasil (production sharing contract)
dan seluruh fasilitas yang dikelola KKKS merupakan barang milik negara, di antaranya
termasuk tanah, bangunan, jaringan pipa dan listrik. Karena itu, pelepasan aset-aset
tersebut juga harus mengacu pada peraturan-peraturan pemerintah mengenai barang
milik negara. ’’Proses serah terima barang milik negara di lingkungan KKKS, termasuk
di PT CPI, juga disaksikan oleh aparat pemerintah yang berwenang. KKKS hanya akan
menyerahkan aset tersebut sesuai yang diperintahkan negara,’’ jelas Tiva.
***(had)
Beri
tanggapan | Baca
tanggapan |
| |
besi loak orangnyo pun loak preman2 ndak jelas asal usul nya. sejak kapan pulak di dumai ado sumur minyak? udah jelas2 itu aset negara ya kalian protes lah ke negara. dasar ndak punya otak. loak semua kalian.
pengusaha lokal Bagus2..Lanjutkan
Hercules Good job
Budak %@!* Mano ni sikit betul. Tambah lagi masa nya ,Biar seru.. Biar masuk TV. Haha...
x-factor Indonesia Mantap. Demo ajo trs pak bio kapok Chevron tu minyak awak dah diambik semuo, hbs dah. rakyat dumai cuma melongo ajo. Respon sikit napo..bengal
Pengusaha Biasalah hal begini udh can nya pengusaha, yg penting jgn anarkis. Udh bosan yg beginian, yg lain byk bacot. Salam pengusaha.
Grib Kita Cuma Grib yg pro rakyat yg lain bs nya korup doang, semoga Pak Prabowo trs maju. Cayyooo..
Agus warto Betul juga kelompok masa tu. Dumai harus perhatikan hal2 kecil seperti ini. Kalau Pemerintah turun tangan bisa2 korupsi lagi.haha maju lah org Dumai
Indra Sudah perusahaan milik luar hasil pun mau di kasi org luar pula?duh kasian bgt. Pemerintah harus pro rakyat lah.
budak %@!* hercules nak jd pereman pulak didumai.cukup lah dijakarta tu. Mentang2 dibawah komando prabowo
Pak Cik ngaku nya anak dumai, tapi peserta demo nya kok gak ada orang %@!*nya, macam mano nih?
budak %@!* apelah demo kau neh..
bikin malu aje..
baca UU Migas dulu baru demo..
barang2 tu milik negara bukan milik chevron...
bebal betul kau jadi manusia..
bikin malu orang %@!* aje kau...
preman siapo tu kimlan antoni ? orang mano ?
jamal dikit 2 demo , kepentingan pribadi janganlah melibatkan orang 2 yg kecil , yg dijadikan tumbal .
anti-anarkis yg gini2 tak boleh kita tolerir. dalam negara kita tak boleh ada kekuasaan (lain) yg boleh mendikte keinginannya secara anarkis. Hayo pak polisi, jangan peduli..
|
|