Home > Hukum >>
Berita Terhangat..
Selasa, 17 Oktober 2017 23:15
Perkenalkan Mata Uang Digital,
Bitconnect Berikan Seminar Edukasi Gratis di Pekanbaru


Selasa, 17 Oktober 2017 22:10
Hentikan Operasi Pabrik Batu Bata,
Dewan Minta Camat Bantan Kaji Ulang Kebijakannya


Selasa, 17 Oktober 2017 21:22
Satpol PP Pekanbaru Tertibkan Reklame Ilegal di Jalan Soekarno Hatta

Selasa, 17 Oktober 2017 20:38
Permintaan CPO Naik,  Harga TBS di Riau Pekan Ini Ikut Naik

Selasa, 17 Oktober 2017 20:37
Penyebab Proyek PL di PUPR Kuansing Batal Dilaksanakan

Selasa, 17 Oktober 2017 19:58
Buka MTQ XVI Tingkat Kabupaten,
Bupati Kuansing Ajak Warga Hidupkan Magrib Mengaji


Selasa, 17 Oktober 2017 19:52
Menuju Porprov Riau 2017, Kontingen Meranti Berangkat Naik KM Jelatik

Selasa, 17 Oktober 2017 19:17
Bahas Perdagangan Lintas Batas, Bupati Meranti Rapat Bersama DPD RI

Selasa, 17 Oktober 2017 19:07
Kapolresta Pekanbaru Periksa Puluhan Senpi Laras Panjang Sabhara

Selasa, 17 Oktober 2017 19:03
Sidang KKEP Polri, Tiga Personil Polres Meranti di Pecat Tidak Dengan Hormat

loading...



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.


Selasa, 16 Oktober 2012 14:30
Tempuh Jalur Hukum,
Wartawan Korban Pemukulan TNI AU Diintimidasi


Tiga wartawan korban pemukulan resmi melaporkan personil TNI AU ke POM. Bukannya merasa bersalah, justru sejumlah personil TNI AU justru mengintimidasi korban.

Riauerkini-PEKANBARU- Didik Hermanto (26) harus berjalan pincang saat membuat laporan di Polisi Militer (POM) TNI AU di Pangkalan Angkatan Udara (Lanud) Rusmin Nurjadin Pekanbaru, Selasa (16/10/12). Photografer Harian Riau Pos tersebut menderita sejumlah luka mamar di hampir seluruh kujur tubuh akibat dipukuli personil TNI AU, saat mengambil gambar pesawat jatuh di Jalan Amal Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar.

Selain dipukul, ditendak dan dipijak-pijak sejumlah personil Paskhas TNI AU, Didik juga kehilangan kamera. "Saya tidak tahu siapa yang merampas karema saya," ujarnya saat berbincang dengan riauterkini di POM TNI AU.

Karena merasa menjadi korban tindak kekerasan, Didik lantas melaporkan Kadis Personil Lanud Roesmin Nurjadin Letkol Adm Robert S Simanjuktak. Periwara tersebutlah yang paling pertama memukul dirinya, kemudian diikuti sejumlah personil Pakhas.

Laporan resmi Didik termaktup dalam surat pengaduan No.POM-434/A/dik-01/X/2012/rsn yang diterima Pelda Budiono.

Diceritakan Didik, sesaat setelah ada pesawat tempur TNI AU jatuh, ia sudah berada di lokasi. "Kebetulan rumah saya di dekat lokasi. Ketika itu saya sedang bersiap mau mandi, karena itu masih mengenakan celana pendek," ujar Didik yang saat di POM juga masih mengenakan celana pendek biru tua dan kaso berkerah hijau daun.

Sebagai photografer, sudah menjadi tugas Didik untuk mengabadikan momen penting. Itulah yang dilakukannya begitu tiba di lokasi. Ia langsung memotret obyek pesawat tempur yang jatuh di samping rumah warga. "Saat saya ambil foto, pesawatnya sedang terbakar," tuturnya.

Ketika fokus pada tugas, mendadak dirinya diteriki seorang perwira TNI AU dengan suara lantang. "Hei, kamu kurang ajar sekali. Sudah tahu ada orang mati, malah difoto!" ujar Didik menirukan hardikan Letkol Robert S Simanjuntak.

Tak sekedar menghardik, Robert lantas menerjang Didik. Photografer kelahiran Samarinda itupun langsung terkapar ke tanah. Melihat Didik terkapar, Robert tak menghentikan tindak kekerasannya. Perwira tersebut justru menidihnya dan melepaskan dua kali pukulan ke wajah Didik.

"Saat di meninju, reflek saya memalingkan wajah, karena itu tinjunya kena ke sini. Kalau tidak, mungkin gigiku rontok," tutur Didik seraya memperlihatkan bagian di atas rahang, di depan telinga yang memar, biru kemerahan.

Setelah itu, sejumlah personil Paskhas ikut menerjang. Didik menjadi sansak hidup. Diinjak-injak ramai-ramai.

Sebelum membuat laporan ke POM, Didik sempat bertemu Robert. Perwira tersebut menyesalkan mengapa Didik tak berpakaian lengkap, sehingga ia tidak tahu kalau Didik seorang wartawan. Namun menurut Didik, ia sudah menunjukkan kartu pers. Setelah Didik memberi tahu kalau ia akan lapor ke POM, Robert justru menantang. "Baguslah kalau kamu mau lapor. Saya senang," ujar Didik menirukan perkataan Robert.

Setelah itu sejumla personil Paskhas mengintimidasi Didik dengan menuding-nuding Didik seraya berkata. "Awas, kamu saya tandai. Awas ya!"

Selain Didik, dua jurnalis korban kebrutalan personil TNI AU juga melapor ke POM. Keduanya adalah Fahri Rubianto (RTV) dan Rian F Anggoro (LKBN Antara). Selain bertindak brutal, personil TNI AU juga merampas empat kamera. Dua kamera foto dan dua lagi kamera televi.

Tidak hanya wartawan yang jadi korban, sejumlah warga juga menjadi sasaran tindak brutal personil TNI AU. Bahkan dua mahasiswa UIR pecah bibirnya akibat ditinju personil TNI saat mengambil foto pesawat jatuh. Selain memukuli warga, TNI AU juga menyita sejumlah telephon genggam warga.***(mad)



loading...

Berita Hukum lainnya..........
- Kapolresta Pekanbaru Periksa Puluhan Senpi Laras Panjang Sabhara
- Ops Bina Kusuma Siak 2017,
Satnarkoba Polres Bengkalis Sita Belasan Botol Miras

- Kejari Pekanbaru Terima Berkas dan Tersangka Kasus Saracen
- KLHK Bingung Ditanyak Izin Operasional RAPP Dicabut
- Gugat Kejati Riau, Dua Terdakwa Lampu PJR Pekanbaru Serahkan Nota Praperadilan
- Napi dan Pengujung Wanita Tertangkap Basah Pesta Sabu di Sel Lapas Bengkalis
- Diduga Akan Menjual Sabu-sabu,
Polres Siak Tangkap Seorang Pemuda Warga Dayun



Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda : 107.22.126.144
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com