Untitled Document
Rabu, 1 Zulqaidah 1435 H |
Home > Hukum >>

Berita Terhangat..
  Rabu, 27 Agustus 2014 15:46
Komisi A DPRD Riau Pamitan dengan Seluruh Satker Mitra

Rabu, 27 Agustus 2014 15:43
Temuan Lapangan,
Disperindag Pekanbaru Tegur Ritel Jual Minuman Beralkohol


Rabu, 27 Agustus 2014 15:37
Terancam Langka,
Walikota Pekanbaru Minta Masyarakat Awasi Pendistribusian BBM Bersubsidi


Rabu, 27 Agustus 2014 15:34
Masyarakat Meranti di Jakarta Gelar Halal Bihalal

Rabu, 27 Agustus 2014 15:21
HMI Pekanbaru Minta Kejati Riau Usut Dugaan Korupsi di PTPN V

Rabu, 27 Agustus 2014 15:21
Satu Korban Meninggal,
Sebuah Rumah di Kampar Ludes Terbakar


Rabu, 27 Agustus 2014 15:11
Wako Intruksikan Camat Dan Lurah Jadi 'Corong' BPJS



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Kamis, 10 Mei 2012 17:49
Hulu Sungai Batang Lubu Rohul Banyak Penambang Emas Ilegal

Sungai Batang Lubu di Rohul terancam pencemaran logam padat, menyusul ramainya kegitan penambangan emas tanpa izi atau PETI.

Riauterkini-BANGUNPURBA- Aliran sungai sepanjang kaki Bukit Barisan Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau-Padang Lawas Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ternyata memiliki potensi sebagai tambang emas. Seperti halnya di hulu Sungai Batang Lubuh, diketahui banyak penambang emas diduga liar alias ilegal.

Selain tambang pasir dan batu menggunakan mesin dompeng, di aliran hulu Sungai Batang Lubuh juga berpotensi emas. Saat tim pecinta lingkungan dan sungai dari Kecamatan Bangunpurba, Damri Siregar dan Bisman Nasution, bersama sejumlah wartawan menyusuri sungai selama sehari “One Day River”, termasuk riauterkini.com, Selasa (8/5/12) kemarin, mulai dari Desa Tangun Bangunpurba, tim menemukan puluhan kelompok penambang emas diduga ilegal sedang beraktifitas.

Penelusuran sampai ke hulu Sungai Batang Lubuh, menggunakan perahu kayu mesin sekitar 8 meter, tim menyaksikan di satu lokasi ditemukan antara tiga sampai empat kelompok pendulang emas menggunakan mesin robin sedang bekerja.

Satu kelompok pendulang emas berjumlah antara empat sampai delapan orang. Rata-rata mereka adalah warga Padang Lawas Sumut dan membangun camp disana. Sekali seminggu, mereka pulang ke kampung dan mesti menempuh jarak sekitar 23 kilometer untuk sampai ke Ujungbatu Sosa, Sumut.

Idam, seorang penambang mengaku tambang emas itu milik toke yang merupakan warga keturunan asal Medan, Sumut. Mereka hanya menerima upah dengan sistem pembagian keuntungan sebesar 50 persen dari kerja kerasnya berendam seharian di aliran sungai yang dingin.

Per kelompok, katanya bisa mendapatkan hasil antara 10-20 gram per hari. Hasilnya 50 persen untuk toke sebagai empunya peralatan dan penyedia makan minum, sedangkan 50 persen untuk pekerja, dibagi rata untuk seluruh anggota kelompok. Per orang bisa mendapatkan Rp1 juta per minggu.

Penambang lain, Anto juga mengaku hal sama. Segala kerusakan mesin dan operasional termasuk kebutuhan mereka ditanggung toke. Mereka hanya berharap upah dari kerja antara pukul 08.00 WIB-18.00 WIB, sudah sekitar tiga tahun lalu dan beberapa kali telah berpindah-pindah lokasi.

Jika nasib beruntung, sekali beroperasi di satu lokasi, satu kelompok menggunakan dua mesin robin bisa mendapatkan 20 gram emas per minggu. Pas lagi apes, pernah mereka bekerja tanpa hasil alias dua hari tanpa emas, sehingga terpaksa pindah ke lokasi baru.

Secara bergantian para penambang menyelam di kedalaman sungai yang mencapai 4 meter lebih menggunakan oksigen untuk memperbaiki slang penghisap jika tersangkut di bebatuan besar di tengah sungai dimana mesin menggunakan pengapung berupa puluhan jirigen kosong.

“Seperti ini lah pekerjaan kami setiap hari, hanya untuk memperbaiki ekonomi keluarga,” ujar Idam singkat, saat menganyak emas, memisahkan antara pasir batu menggunakan tempayan (tampah) kayu.

Sahar, warga Desa Tangun, mengaku potensi emas di Sungai Batang Lubuh di Kecamatan Bangunpurba cukup besar, sebab di hulu sungai telah beroperasi puluhan penambang emas. Namun karena tidak ada izin dari pemerintah desa setempat, tidak satu pun warga berani membuka pertambangan ilegal, takut jika ditangkap aparat.

Dia mengaku pernah menjadi penambang di Kabupaten Kuantan Sengingi, Riau. Memang ada niat melakukan hal sama, tapi karena ketatnya aturan, dia mengurungkan niatnya, sebab penambangan emas liar akan merusak habitat Sungai Batang Lubuh.

“Emas biasanya berada di bawah bebatuan, dan Sungai Batang Lubuh di sini banyak bebatuannya besarnya. Diperkirakan potensi emas cukup besar di sungai kita,” katanya kepada riauterkini.com.***(zal)




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita Hukum lainnya..........
- HMI Pekanbaru Minta Kejati Riau Usut Dugaan Korupsi di PTPN V
- Polres Inhu Tangkap Pengedar dan Pemakai Sabu
- Sengketa HGU Bukitbatu, Bengkalis,
PT. SDA Hadang Upaya Eksekusi PT. PAN United

- Banyak Ritel Tak Berizin,
Satpol PP Ancam Alfamart dan Indomaret Segera Tutup

- Korupsi Pembangunan Jalan Sungai Tohor, Rugikan Negara Rp3,4 Miliar
- Dipukul dan Dihalangi Ketemu Anak, Polda Periksa Mantan Menantu Gubri
- Banding, Vonis Terdakwa UED KSP Kuansing Malah Ditambah


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 54.81.84.14
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com