Home > Hukum >>

Berita Terhangat..
  Sabtu, 30 Juli 2016 09:29
Pemko tak Punya Dana, Megaproyek Kantor Walikota di Tenayan Terancam Mangkrak

Sabtu, 30 Juli 2016 07:10
Beredar Surat Usulan DPW PKS Usung Ayat-Irvan di Pilkada Pekanbaru

Jum’at, 29 Juli 2016 22:45
Bupati Syamsuar Pertanyakan Anggaran Rp30 M di Dinsosnakertrans Siak

Jum’at, 29 Juli 2016 22:35
Malam ini, Polisi Gerbek Jaringan Pengedar Narkoba di Meranti

Jum’at, 29 Juli 2016 19:51
Catatan KontraS,
Inilah Jejak Kasus Dua Warga Meranti Hingga Divonis Mati


Jum’at, 29 Juli 2016 19:35
Sudah Tujuh Bulan,
3.000 Guru MDA dan Madrasah tidak Terima Bantuan Hibah dari Pemkab Rohul


Jum’at, 29 Juli 2016 19:23
Beri Bantuan Insentif Rp30 Juta,
Pengelola Ponpes Mamba'ul Ma'arif Sebut RAPP Penyemangat Mereka




Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Kamis, 10 Mei 2012 17:49
Hulu Sungai Batang Lubu Rohul Banyak Penambang Emas Ilegal

Sungai Batang Lubu di Rohul terancam pencemaran logam padat, menyusul ramainya kegitan penambangan emas tanpa izi atau PETI.

Riauterkini-BANGUNPURBA- Aliran sungai sepanjang kaki Bukit Barisan Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau-Padang Lawas Provinsi Sumatera Utara (Sumut) ternyata memiliki potensi sebagai tambang emas. Seperti halnya di hulu Sungai Batang Lubuh, diketahui banyak penambang emas diduga liar alias ilegal.

Selain tambang pasir dan batu menggunakan mesin dompeng, di aliran hulu Sungai Batang Lubuh juga berpotensi emas. Saat tim pecinta lingkungan dan sungai dari Kecamatan Bangunpurba, Damri Siregar dan Bisman Nasution, bersama sejumlah wartawan menyusuri sungai selama sehari “One Day River”, termasuk riauterkini.com, Selasa (8/5/12) kemarin, mulai dari Desa Tangun Bangunpurba, tim menemukan puluhan kelompok penambang emas diduga ilegal sedang beraktifitas.

Penelusuran sampai ke hulu Sungai Batang Lubuh, menggunakan perahu kayu mesin sekitar 8 meter, tim menyaksikan di satu lokasi ditemukan antara tiga sampai empat kelompok pendulang emas menggunakan mesin robin sedang bekerja.

Satu kelompok pendulang emas berjumlah antara empat sampai delapan orang. Rata-rata mereka adalah warga Padang Lawas Sumut dan membangun camp disana. Sekali seminggu, mereka pulang ke kampung dan mesti menempuh jarak sekitar 23 kilometer untuk sampai ke Ujungbatu Sosa, Sumut.

Idam, seorang penambang mengaku tambang emas itu milik toke yang merupakan warga keturunan asal Medan, Sumut. Mereka hanya menerima upah dengan sistem pembagian keuntungan sebesar 50 persen dari kerja kerasnya berendam seharian di aliran sungai yang dingin.

Per kelompok, katanya bisa mendapatkan hasil antara 10-20 gram per hari. Hasilnya 50 persen untuk toke sebagai empunya peralatan dan penyedia makan minum, sedangkan 50 persen untuk pekerja, dibagi rata untuk seluruh anggota kelompok. Per orang bisa mendapatkan Rp1 juta per minggu.

Penambang lain, Anto juga mengaku hal sama. Segala kerusakan mesin dan operasional termasuk kebutuhan mereka ditanggung toke. Mereka hanya berharap upah dari kerja antara pukul 08.00 WIB-18.00 WIB, sudah sekitar tiga tahun lalu dan beberapa kali telah berpindah-pindah lokasi.

Jika nasib beruntung, sekali beroperasi di satu lokasi, satu kelompok menggunakan dua mesin robin bisa mendapatkan 20 gram emas per minggu. Pas lagi apes, pernah mereka bekerja tanpa hasil alias dua hari tanpa emas, sehingga terpaksa pindah ke lokasi baru.

Secara bergantian para penambang menyelam di kedalaman sungai yang mencapai 4 meter lebih menggunakan oksigen untuk memperbaiki slang penghisap jika tersangkut di bebatuan besar di tengah sungai dimana mesin menggunakan pengapung berupa puluhan jirigen kosong.

“Seperti ini lah pekerjaan kami setiap hari, hanya untuk memperbaiki ekonomi keluarga,” ujar Idam singkat, saat menganyak emas, memisahkan antara pasir batu menggunakan tempayan (tampah) kayu.

Sahar, warga Desa Tangun, mengaku potensi emas di Sungai Batang Lubuh di Kecamatan Bangunpurba cukup besar, sebab di hulu sungai telah beroperasi puluhan penambang emas. Namun karena tidak ada izin dari pemerintah desa setempat, tidak satu pun warga berani membuka pertambangan ilegal, takut jika ditangkap aparat.

Dia mengaku pernah menjadi penambang di Kabupaten Kuantan Sengingi, Riau. Memang ada niat melakukan hal sama, tapi karena ketatnya aturan, dia mengurungkan niatnya, sebab penambangan emas liar akan merusak habitat Sungai Batang Lubuh.

“Emas biasanya berada di bawah bebatuan, dan Sungai Batang Lubuh di sini banyak bebatuannya besarnya. Diperkirakan potensi emas cukup besar di sungai kita,” katanya kepada riauterkini.com.***(zal)




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita Hukum lainnya..........
- Malam ini, Polisi Gerbek Jaringan Pengedar Narkoba di Meranti
- Catatan KontraS,
Inilah Jejak Kasus Dua Warga Meranti Hingga Divonis Mati

- Komisi I DPR RI Lihat Langsung Alutsista di Lanud Roesmin Nurjadin
- Eksekusi Mati Jilid III,
Dua Warga Meranti Selamat Dari Regu Tembak Nusakambangan

-
- Satu Ditangkap Paksa,
Dua Tahanan Kabur Polsek Kubu, Rohil Menyerahkan Diri

- Istri Siri Korban KDRT di Ujungbatu Laporkan Suami ke Polisi


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 54.196.77.14
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com