Untitled Document
Selasa, 10 Jumadil Akhir 1436 H |
Home > Hukum >>

Berita Terhangat..
  Selasa, 31 Maret 2015 15:25
Kelapa Dalam Inhil, Antara Menjaga Sejarah Masa Lalu dengan Menata Masa Depan

Selasa, 31 Maret 2015 14:31
Bertabur Hadiah, KUA Mandau Ajak Masyarakat Ramaikan Pelantikan IPHI Duri

Selasa, 31 Maret 2015 14:24
Raih Penghargaan Plakat WTN 2014 Bidang Lalulintas,
Dishubkominfo Inhu Terus Benahi Sarana dan Prasarana Lalulintas


Selasa, 31 Maret 2015 13:17
MA Tolak Kasasi Terpidana Korupsi Bantuan Pendidikan Inhu

Selasa, 31 Maret 2015 13:12
Cegah Keracunan, Dinkes Pekanbaru Awasi Usaha Air Isi Ulang

Selasa, 31 Maret 2015 12:08
Ratusan Pelajar SMA Ikuti Seleksi Tanoto Foundation Regional Champion Scholarship

Selasa, 31 Maret 2015 12:04
Triwulan I, Realisasi APBD RIau 2015 Baru Tiga Persen



Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Kamis, 3 Nopember 2011 13:48
Naik Rp 26 Miliar,
ICW Curiga Bansos Kampar Digunakan Galang Dukungan Pemilukada


Pada APBD-P Kampar 2011 terjadi peningkatan dana Bansos Rp 26 miliar. Langkah ini memunculkan kecurigaan ICW dimanfaatkan untuk menggalang dukungan di Pemilukada.

Riauterkini-PEKANBARU-Salah satu hasil penelitian tim Indonesia Corupption Watch (ICW) terhadap pelaksanaan pilkada Kampar 10 Oktober 2011 lalu adalah adanya dugaan penggunaan dana Bantuan Sosial dan dana Hibah oleh salah satu kandidat pilkada Kampar sebagai instrument pemenangan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kampar.

Kecurigaan ICW menurut Koordinator Korupsi Politik ICW Pusat, Abdullah Dahlan dalam breifing media yang digelar Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Riau dan Indonesia Corruption Watch (ICW) Kamis (4/11/11) adalah terjadinya peningkatan alokasi dana bansos dan dana hibah pada APBD Kampar tahun 2011 dibandingkan dengan APBD Kampar tahun 2010 lalu.

Alokasi dana hibah pada APBD murni Kampar tahun 2011 naik sebesar Rp 23 miliar. Dari Rp 50,853 miliar pada APBD Kampar 2010 menjadi Rp 73,523 miliar pada APBD Kampar 2011.

Alokasi anggaran dana hibah kembali dinaikkan oleh Pemkab Kampar dalam APBD Perubahan Kampar 2011. Kenaikan mencapai Rp 26 miliar. Yaitu dari Rp 73,523 miliar pada APBD Kampar murni tahun 2011 menjadi Rp 99,6 miliar pada APBD Perubahan Kampar tahun 2011.

Menurutnya, kenaikan cukup besar, mencapai Rp 26 miliar. Rinciannya, untuk dana hibah naik sebesar Rp 23 miliar (2010 Rp 50 miliar, 2011 Rp 73 miliar) sedangkan dana bansos naik sebesar Rp 3 miliar (2010 Rp 31 miliar, 2011 Rp 34 miliar).

Bukan hanya itu, selain tidak transparansnya dalam penyusunan dan pendistribusian alokasi dana hibah dan bansos, distribusi dana hibah dan dana bansos dari aspek kebijakan kewenangan untuk mengalokasikan dan mendistribusikan kepada pihak penerima, mutlak ada di kepala daerah. Juga rendahnya tingkat pengawasan DPRD Kampar.

"Dana hibah dan bansos diskresinya sangat mudah karena mutlak ada di kepala daerah. Dalam klausul permendagri, aspek diskresi diberikan kepada kepala daerah. Termasuk pendistribusiannya. Sehingga penyalurannya sangat rentan untuk pihak yang tidak sesuai bahkan fiktif," terangnya.

Pelanggaran Pilkada Kampar

Menurut Peneliti Fitra Riau, Faisal, banyak sekali pelanggaran-pelanggaran pilkada Kampar yang terjadi dan luput dari pengawasan Panitia Pengawasan Pemilu Kepala Daerah (Panwaslukada Kampar) karena Panwaslu Kampar sepanjang pelaksanaan pilkada Kampar, hanya menemukan 4 pelanggaran pilkada saja. Yaitu pelanggaran administrasi yang dilakukan oleh tim ketiga pasangan calon bupati/wakil bupati kampar.

Padahal, tambah Faisal, Panwaslu Kampar mendapatkan kucuran dana dari APBD Kampar tahun 2011 sebesar Rp 4,9 miliar. Dengan dana tersebut, Panwaslu Kampar hanya menemukan 4 pelanggaran administrasi saja. Itu menunjukkan bahwa panwaslu Kampar tidak maksimal dalam bekerja.

Fitra dan ICW saja menurut Faisal menemukan banyak sekali pelanggaran pilkada Kampar. Seperti money politik dalam bentuk pemberian uang secara langsung, pemberian sembako murah, pengobatan gratis serta pemberian bentuk barang lainnya.

"Selain money politic, pelanggaran pilkada juga terjadi pada penggunaan kekuasaan. Seperti memutasi PNS yang tidak pro incumben, memberikan kartu pemilih dan kertas suara tambahan untuk pemilih incumben dan janji tertentu oleh pejabat provinsi," terang Faisal.***(H-we)




Beri tanggapan | Baca tanggapan
 

Berita Hukum lainnya..........
- MA Tolak Kasasi Terpidana Korupsi Bantuan Pendidikan Inhu
- Suap APBD, Suparman, Bagus dan Rusli Ahmad Diperiksa KPK
- Dugaan Suap APBD, Koko Iskandar Turut Diperiksa KPK
- Ketua Jelang Diganti, PN Siak Diperiksa PT dan MA
- Polres Inhu Tangkap Perampok Nasabah BNI 46 di Belilas
- Bawa Peluru ke Bandara SSK II Pekanbaru,
WNA Asal Spanyol dan Italia Diamankan Polisi

- Bangun Gudang, Kepala BPBD Riau Dituding Serobot Lahan Warga


Untitled Document
Untitled Document | IP Anda : 50.16.98.1
All Right Reserved 2003-2005 @ Riauterkini.com