Home > Hukum >>
Berita Terhangat..
Ahad, 21 Juli 2019 12:59
Pemkab Gandeng IKKS Pekanbaru Diskusikan Masalah Kekinian Kuansing

Ahad, 21 Juli 2019 10:40
Seminar Sejarah Melayu Tua Minanga Kanwa Sempena KIDBF Buka Wawasan Masyarakat Kampar

Ahad, 21 Juli 2019 09:24
Kebakaran Lahan di Rupat Meluas, Pemadaman Dibantu Alat Berat dan Helikopter

Ahad, 21 Juli 2019 09:20
Terus Gencarkan Razia, Polsek Mandau Amankan Sejumlah Motor Balapan Liar

Ahad, 21 Juli 2019 05:37
Gesa Perda CSR Perusahaan, Pansus DPRD Bengkalis Konsultasi ke BKPM Jakarta

Sabtu, 20 Juli 2019 19:43
Kebakaran Ludeskan 11 Rumah Warga Tembilahan Hulu

Sabtu, 20 Juli 2019 18:01
Diikuti 11 Tim, Menpora U - 12 Cup Bengkalis Resmi Bergulir

Sabtu, 20 Juli 2019 16:33
Minta Tolong Didoakan JCH, Sukiman Akhirnya Mengakui Bakal Maju di Pilkada Rohul 2020

Sabtu, 20 Juli 2019 15:22
Pansus DPRD Bengkalis Bahas Ranperda Penyelenggaraan Pendidikan Bersama Kemendikbud RI

Sabtu, 20 Juli 2019 15:07
Tim Tuan Rumah PODSI Kampar Indonesia Melaju ke Final KIDBF 2019

loading...

Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Selasa, 20 Nopember 2007 17:44
Indonesia Negara Ketiga Terbesar Pelepas Emisi di Dunia

Setelah Amerika dan China, Indonesia menjadi negara dalam urutan ketiga pelepas emisi karbon terbesar di dunia.

Riauterkini-PEKANBARU-Proses pengrusakan hutan alam, praktek pembakaran hutan dan lahan membawa Indonesia menjadi Negara dalam urutan ketiga pelepas emisi karbon terbesar di dunia setelah Amerika dan China setelah Amerika dan China. Kebakaran hutan/lahan yang terjadi pada tahun 1997-1998 telah mengakibatkan 10 juta hektar hutan Indonesia mengalami kerusakan dengan jumlah kerugian mencapai 3 milliar dolar Amerika dan telah melepas gas rumah kaca sebesar 0,81-2,57 Gg karbon.

"Gas Rumah Kaca adalah, gas-gas yang mempunyai kemampuan menyerap radiasi gelombang panjang dan memancarkan lagi ke permukaan bumi dalam bentuk energi panas, yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung pada efek rumah kaca, seperti : Karbon Dioksida (CO2), Metan (CH4), Dinitrogen Oksida (N2O), Chlorofluorocarbon (CFC), Hydrofluorocarbon (HFC), Karbonmonoksida (CO), Nitrogen Oksida (NOX), dan gas-gas organic non-metan yang mudah menguap (volatile)," ungkap Deputy Direktur Walhi Riau, M Teguh Surya kepada Riauterkini selasa (20/11).

Katanya, Riau yang memiliki hutan seluas 6,4 juta hektar merupakan wilayah yang juga memiliki kerusakan hutan tertinggi di dunia yakni 5,6 % pertahun. Hanya dalam kurun waktu 17 tahun, Riau telah kehilangan hutan alam seluas 2,8 juta Ha, dimana sebagaian besarnya merupakan kawasan hutan rawa gambut.

Kawasan hutan rawa gambut merupakan ekosistem yang khas dan memiliki potensi yang sangat luar biasa, baik bagi masyarakat disekitar kawasan maupun bagi masyarakat global. Bagi masyarakat tempatan, hutan rawa gambut memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan air (aquifer), sebagai penyangga ekologi, sebagai lahan pertanian, sebagai tempat perkembangbiaknya flora dan fauna, dan sebagai tempat pemenuhan kebutuhan papan.

Terkait dengan hal itu, Teguh menyatakan bahwa Indonesia harus segera menghentikan praktek penebangan di hutan alam (jeda tebang) adalah suatu keharusan, guna menghindari terjadinya kebangkrutan masal, mengurangi intensitas bencana ekologis yang terjadi dan keluar dari keterpurukan ekonomi.

"Seharusnya negara-negara maju wajib memberikan insentif kepada Indonesia karena menyelamatkan hutan. Itu suatu keharusan tanpa Indonesia harus meminta. Hal ini yang seharusnya sudah diatur dalam mekanisme CDM/ REDD," katanya pula.

Amerika Sumbang Emisi 4,9 juta Gg

Kontributor utama gas rumah kaca adalah Negara maju/industri (Annex 1), dimana Amerika memberikan kontribusi sebesar 4.957.022 Gg (36,1%) dan menempati urutan pertama berdasarkan laporan COP ke-3 di Kyoto Jepang.

" Jumlah emisi total dari Negara-negara Annex 1 yang meratifikasi protocol minimal 55% dari total emisi mereka di tahun 1990. Syarat pertama terpenuhi pada tanggal 23 Mei 2002 ketika Islandia menandatangani protocol tersebut, kemudian disusul Rusia yang menandatangani protocol pada 18 November 2004, sekaligus menandai telah terpenuhinya syarat kedua. Dimana jumlah emisi total Negara Annex 1 peratifikasi protocol berjumlah sebesar 61,79%. Setelah kedua syarat terpenuhi maka Protokol Kyoto mulai berkekuatan hukum pada 16 Februari 2005," kata Teguh.

Berdasarkan Protokol Kyoto[6], tambahnya, seluruh negara Annex 1 (Negara maju) wajib menurunkan emisinya sebesar 5,2 % dari tingkat emisi tersebut di tahun 1990. Sementara Negara-negara non Anex 1 (Negara berkembang) tidak mempunyai kewajiban untuk menurunkan emisi, namun bisa ikut berpartisipasi dalam upaya penurunan emisi dengan prinsip common but differentiated responsibility (tanggung jawab bersama dengan porsi yang berbeda).

Protokol Kyoto menurut hemat Teguh adalah memberikan tiga mekanisme penurunan emisi kepada Negara-negara Annex 1, yaitu : Joint Implementation (JI). JI adalah mekanisme yang memungkinkan negara-negara maju unjtuk membangun proyek bersama yang dapat menghasilkan kredit penurunan/ penyerapan emisi gas rumah kaca. Emission Trading (ET), mekanisme yang memungkinkan sebuah Negara maju untuk menjual kredit penurunan emisi gas rumah kaca kepada Negara maju lainnya. Clean Development Mechanism (CDM), mekanisme yang memungkinkan negara non Annex 1 untuk berperan aktif membantu penurunan emisi gas rumah kaca melalui proyek yang diimplementasikan oleh sebuah negara maju.***(H-we)

Loading...


Berita Hukum lainnya..........
- Terus Gencarkan Razia, Polsek Mandau Amankan Sejumlah Motor Balapan Liar
- Kebakaran Ludeskan 11 Rumah Warga Tembilahan Hulu
- Hindari Tabrakan, Satu Truk Terguling di Kuansing
- Polres Kampar Gulung 4 Anggota Sindikat Narkoba
- Sedang Rekap Nomor,
2 Juru Tulis Togel di Bonai Darussalam Ditangkap Polisi Rohul

- Diangkut Mabes Polri, Lapas Bengkalis Belum Pastikan Napi Terlibat Temuan Sabu 18,8 Kg
- Tersangka Korupsi Reatribusi, Dua ASN Dishub Meranti Ditahan Jaksa
- Selama Tiga Jam, Polisi Periksa Ketua KPU Pekanbaru Terkait Dugaan Suap Anggota DPRD
- Merasa Tertipu, Nasabah PT RFB Akan Lapor ke Polisi
- Seorqng PNS, Polda Riau Amankan 30 Pengunjung Tempat Hiburan di Pekanbaru
- Kapolda Riau Lepas 100 Personil BKO ke Polda Papua
- Polda Riau Tangkap Amankan Dua Truk Bermuatan Kayu Ilegal
- Kejari Pelalawan Musnahkan Barang Bukti Tindak Pidana
- Dari 271 Perkara, Kejari Bengkalis Musnahkan 1,29 Kg Sabu, Ektstasi dan Senpi
- Polres Siak Tangkap 4 Pencuri Minyak PT Chevron di Minas
- Diambil Alih Mabes Polri, Dikabarkan Seorang Ditangkap Dalam Temuan 18,8 Kilogram Sabu di Bengkalis
- Tangkap 3 Tersangka, Polda Riau Sita 10 Kg Sabu dan 15 Ribu Butir Ekstasi
- Polisi Lakukan Penyelidikan Crash Maut Kejurda Balap Motor di Bengkalis
- Dua Lagi Terdakwa Korupsi Penyelewengan Dana Cetak Sawah di Pelalawan Diadili.
- Lundup Bawang Merah 6,7 Ton,  Tekong di Bengkalis Segera Disidang


Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com