Home > Hukum >>
Berita Terhangat..
Senin, 20 Agustus 2018 19:59
Tiga Terdakwa Korupsi Pembangunan Jembatan Sungai Enok, Inhil Divonis 4,5 Tahun dan 5,5 Tahun

Senin, 20 Agustus 2018 19:54
Kurang Disiplin, Ratusan Honorer Pemkab Inhu Dirumahkan

Senin, 20 Agustus 2018 19:38
Dewan Minta Bupati Kuansing Tindak Tegas PNS yang Nyaleg

Senin, 20 Agustus 2018 19:15
Positip Mengandung Unsur Babi, Diskes Riau Tetap Lanjutkan Vaksin MR

Senin, 20 Agustus 2018 18:57
‎Seorang Kurir Diciduk, Polsek Tenayan Raya Sita Narkoba Bernilai Rp3,2 Miliar

Senin, 20 Agustus 2018 18:51
Dikira Mau Bunuh Diri, Pekerja Panjat Menara Cerobong PT APR untuk Cek Akhir

Senin, 20 Agustus 2018 18:31
Kunjungi Bawaslu Riau, Komisi I DPRD Riau Tanyakan Aturan Kampanye

Senin, 20 Agustus 2018 17:14
Lusa, Jadwal Keberangkatan Roro Air Putih-Pakning, Bengkalis Ditunda 3 Jam

Senin, 20 Agustus 2018 17:10
Dituding Kerja Asal-asalan,
Rekanan Perenovasi Kantor DPRD Pelalawan Berikan Klarifikasi


Senin, 20 Agustus 2018 16:56
Tingkatkan Kualitas Pendidikan,
Guru di Pekanbaru Ikuti Program Pelita Pendidikan


loading...

Perhatian : Pengutipan berita riauterkini.com harus mencantumkan riauterkini, atau kami akan menuntut secara hukum sesuai @UU Hak Cipta.
Jum’at, 20 Juli 2018 11:31
Nestapa Bupati Bengkalis, Sekedar Saksi Korupsi tapi Uangnya Rp1.9 Miliar Disita KPK

Bupati Bengkalis Amril Mukminin tengah ditimpa musibah. Uangnya Rp1.9 miliar disita KPK, padahal dirinya bukan tersangka korupsi, melainkan sekedar saksi.

Riauterkini-PEKANBARU- Hari Jumat, 1 Juni 2018 lalu bisa jadi merupakan saat yang paling mengkhawatirkan bagi Amril Mukminin. Belasan aparat datang ke rumah dinasnya sebagai Bupati Bengkals. Bukan untuk bersilaturrahmi atau berkoordinasi, melainkan melakukan penggeledahan.

Meraka adalah para penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sedang melakukan pengumpulan bukti tindak korupsi proyek multiyears dengan tersangka mantan Kadis Pekerjaan Umum M Nasir dan Direktur Direktur Utama PT Mawatkindo Road Construction Hobby Siregar. Dugaan kerugian dalam kasus yang didanai APBD Bengkalis 2013-2015 tersebut mencapai Rp80 miliar.

Sebagai tuan rumah Amril Mukminin tak berkutik. Hanya bisa pasrah mempesilahkan setiap jengkal sudut rumahnya digeledah. Ia pun tak protes meskipun ketika para penyidik KPK datang, saat itu sedang berlangsung acara penyerahan bonus bagi para atlet yang berprestasi dan telah mengharumkan nama Kabupaten Bengkalis.

Rumah dinas Bupati Bengkalis digeledah para penyeidik KPK terkait dengan status Amril Mukminin sebagai saksi dalam kasus tersebut. KPK merasa perlu mendapat bukti tambahan dari keterangan dan barang bukti atau dokumen yang dimiliki Amril Mukminin. Sebagai warga negara yang taat hukum, Amril memberi kekeluasaan para penyidik melakukan tugasnya.

Setelah lebih dari tiga jam berlalu, para penyidik KPK tersebut mengakhiri penggeledahan di rumah dinas tersebut. Sejumlah dokumen diangkut. Termasuk uang Rp1.9 miliar yang ditemukan KPK dari dalam salah satu ruangan di rumah dinas Amril Mukminin. Uang tersebut disita sebagai barang bukti tindak korupsi.

Pengumuman penyitaan uang Rp1.9 miliar yang dilakukan KPK otomatis memunculkan presepsi miring masyarakat kepada Bupati Amril Mukminin. Banyak yang secara sederhana berkesimpulan, “ Kalau ditemukan uang suap di rumah dinas bupati, berarti bupati terlibat.”

Perasaan disudutkan itulah yang sangat mungkin saat ini dirasakan Bupati Amril Mukminin dan keluarganya. Merasa dipandang sebagai tersangka korupsi. Padahal, statusnya sampai saat hanya sebatas saksi.

Keterangannya kepada media massa usai diperiksa penyidik KPK di Mako Brimob Polda Riau pasti tak menghapuskan seluruh prasangka public. Ia sudah menegaskan, bahwa uang Rp1.9 miliar yang disita KPK bukan uang suap.

“Itu bukan uang suap atau uang hasil korupsi. Uang itu hasil usaha keluarga. Uang halal,” tegasnya ketika itu.

Perihal status Amril Mukiminan, dalam permbicangan riauterkini dengan juru bicara KPK Febri Ardiansyah, Kamis (19/7/18) menyatakan kalau sampai saat ini Amril Mukminin hanya saksi dalam kasus dugaan korupsi proyek multiyears Kabuapten Bengkalis.

Ketika ditanya mengenai status uang Rp1.9 miliar yang disita penyidik dari rumah dinas Amril Mukiminn, Febri menyatakan kalau itu merupakan salah satu barang bukti tindak korupsi yang sedang proses penyidikannya sedang berjalan.

Mengenai apakah bisa dilakukan penyitaan uang dari pihak yang statusnya sekedar saksi, Febri menjawab bisa karena uang itu diduga bagian dari bukti tindak korupsi yang sedang disidik.

Dalam wawancara sebelumnya, Febri tidak menjawab saat ditanya gambaran keterkaitan uang Rp1.9 miliar yang disita penyidik KPK dari rumah dinas Amril Mukminin dengan bukti tindak korupsi proyek multiyears, mengingat kasus tersebut terjadi pada 2013-2015, ketika itu Amril Mukminin belum jadi bupati. Jabatan tersebut masih diemban Herliyan Saleh. Apa mungkin itu uang Heliyan Saleh yang ditinggalkan di rumah dinas dan tetap utuh di satu tempat setelah sekian tahun?

Febri juga tak menjawab tegas ketika ditanya karena uang sitaan yang diduga terkait dengan korupsi status Amril Mukminin bisa meningkat jadi tersangka. Ia hanya menjawab, “Saat ini saksi.”

Lantas kapan uang Rp1.9 miliar tersebut dikembalikan kepada Amril Mukiminin? Febri menjawab setelah ada putusan pengadilan. Hakim memastikan tidak ada kaitannya uang tersebut dengan tindak pidana korupsi.

Terkait penyitaan tersebut, pandangan praktisi hukum Aspandiar tidak mempermasalahkan langkah KPK tersebut. Secara hukum penyidik memiliki kewenangan melakukan penyitaan sesuatu yang dianggap sebagai barang bukti pelanggaran hukum yang sedang disidik.

“Penyidik memiliki kewenangan melakukan penyitaan terhadap barang atau uang dalam proses penyelisikan, meskipun itu dari saksi,” ujar advokad senior tersebut dalam pembincangan dengan riauterkini, Jumat (20/7/18).

Lebih lanjut Aspandiar mengharapkan masyarakat tak mengembangkan praduga apapu terkait langkah-langkah KPK dan juga terhadap Bupati Amril Mukminin. Lebih baik mempercayakan sepenuhnya proses hukum yang sedang berlangsung dan menunggu keputusan pengadilan.

Pandangan berbeda disampaikan Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Lancang Kuning Pekanbaru Suherndro. Akademisi yang juga pengacara tersebut mempertanyakan urgensi penyitaan uang Rp1.9 miliar yang dilakukan KPK dari Amril Mukminin yang statusnya hanya saksi.

“Apa hubungan uang tersebut dengan kasus yang sedang ditangani KPK. Ini harus jelas. Kalau sekedar saksi untuk apa uangnya sampai disita, kecuali kalau memang tersangka, wajar dilakukan penyitaan,” tuturnya menjawab riauterkinicom, Jumat (20/7/18).

Terlebih, berdasarkan penjelasan Amril Mukminin, uang yang disita KPK bukan hanya miliknya, tetapi ada uang keluarga. Karena itu, menurut Suhendro tidak semestinya KPK menyita uang yang tidak jelas kaitannya dengan kasus yang sedang ditanganinya.

Dalam kesempatan tersebut Suhendro menyarankan Amril Mukminin untuk mengajukan gugatan praperadilan. Meminta pengadilan membatalkan penyitaan yang dianggapnya melanggar hukum acara.

“Sebaiknya dilakukan gugatan praperadilan. Pengadilan bisa membatalkan penyitaan yang dilakukan KPK jika terbukti tidak ada kaitannya dengan kasus yang sedang diproses,” demikian penjelasan Suhendro.***(ahmad s.udi)

Loading...


Berita Hukum lainnya..........
- Korupsi Dana Desa, Mantan Pj Kades di Bengkalis Dihukum 4 Tahun Penjara
- Terkait Penghina Agama Islam,
Ketua Harian IKBDS: Jangan Sangkut Pautkan dengan Organisasi Batak

- Polda Riau Tetapkan 19 Tersangka Perkara Kathutla
- Ngaku Medsosnya Dibajak, Warga Bathin Solapan, Bengkalis Hina Agama Islam
- Sempat Divideokan Warga,
Naker di Pangkalan Kerinci Ini Diduga Mau Bunuh Diri

- Brigjen Widodo Eko Prihastopo Resmi Menjadi Kapolda Riau
- Terima Gratifikasi di Atas Sejuta, Penyelenggara Negara di Rohul Wajib Laporkan ke KPK RI
- Geledah Mobil Agya,
Polsek Tambusai‎ Utara Tangkap Pengedar dan Sita 7 Paket Sabu

- Miliki Ganja, Tukang Panen Sawit di Kuansing Diciduk Polisi
- Dikendalikan dari Lapas Tangerang,
Tim Gabungan BNN Pusat dan BNNP Riau Amankan 30 Ribu Butir Inex di Dumai

- Diduga 'Bisnis' Sabu, Enam Napi Lapas Bengkalis Diciduk Polisi
- Moment HUT ke-73 RI, 3.834 Narapidana Riau Dapatkan Remisi
- Sesosok Mayat Tanpa Busana Ditemukan Mengapung dalam Kolam di Lubuk Ogong Pelalawan
- Dituding Makar, Neno Warisman Dilaporkan ke Polda Riau
- Tiga Terdakwa Korupsi RTH Dituntut Hukuman Berbeda
- Berkas 'Penggendong' Sabu 55 Kg Dilimpahkan ke Kejari Bengkalis
- Dansatgas Karhutla Perintahkan Tembak di Tempat Pembakar Lahan
- Razia Kamar Napi,
Petugas Lapas Pekanbaru Temukan Puluhan Paket Ganja Kering

- Dugaan Pembobolan Dana Nasabah BDA,
Reskrim Polres Pelalawan Bidik Tersangka Baru

- ‎Pasca Bentrok Batas Riau-Sumut,
4 Terduga Pelaku Ditahan di Polres Tapsel, Ratusan Polisi Siaga di Perbatasan



Riauterkini.com
Untitled Document | IP Anda :
All Right Reserved 2014 @ Riauterkini.com